15 September 1759, Residen Palembang Huybert Johan de Heere mulai menyelidiki Timah ke Pulau Belitong
Jelajah Bangka 15 September 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Dalam buku De Billiton Maatschappij Gedenkboek Billiton 1852-1927, ‘s-Gravenhage Martinus Nijhhoff 1927, pada halaman 94, 95 dan 96, yang saya terjemahkan secara bebas dijelaskan awal penelitian VOC tentang pulau Belitong dan beragam potensinya terutama Timah. Gubernur Jenderal G. W. Baron van Imhoff, dalam sidang Pemerintahan Agung (Hooge Regeering) di “Kastil Batavia” tanggal 18 Maret 1746, memfokuskan perhatiannya pada pulau Belitong.
Sidang memutuskan agar Residen Palembang, Van den Heuvel untuk: “sekali-sekali meninjau Pulau Belitong dan sekaligus menyelidiki keadaan serta situasi pulau tersebut, dan produk apa saja yang dihasilkan di sana, atau apa yang mungkin bisa diperdagangkan di tempat itu, agar dengan demikian dapat mengungkap alasan mengapa pulau tersebut begitu sering dikunjungi oleh perahu-perahu pribumi, yang memunculkan kecurigaan yang cukup beralasan tentang adanya penyelewengan dan penyelundupan.”
Akan tetapi penyelidikan tidak dilakukan residen, meskipun keputusan sidang telah disampaikan kepada para Direktur di sidang Dewan Tujuh Belas (Heeren XVII), Van den Heuvel menunda-nunda perintah tersebut (legde de opdracht onder het loodje) dan menerima sebuah surat peringatan pada tahun 1747, yang Ia jawab dengan alasan kurangnya armada perahu yang diperlukan untuk peninjauan.
Dalam sebuah laporan dari penuturan orang Melayu yang mengenal pulau Belitong, terdapat beberapa hal yang benar, bahwa di pesisir tinggal orang Bugis dan orang Tionghoa, dan “penduduk asli sendiri” di pegunungan, yang atas mereka para penduduk pesisir sepenuhnya berkuasa.

Orang-orang gunung memiliki “sifat yang baik” dan mengumpulkan madu, lilin (malam), kayu gaharu, dan rotan. “Mengenai timah, orang-orang percaya bahwa deposit mineral tersebut ditemukan di sana lebih awal daripada di Bangka, namun tidak dalam kelimpahan yang sama, dan sejak ditemukannya Bangka, Sultan (Palembang) telah melarang pencariannya. Besi yang dihasilkan di sana tidak berasal dari daratan, melainkan terdengar aneh bijihnya diambil dari batu karang di sebelah selatan lepas pantai di laut dan dibentuk menjadi batang-batang kecil (alat tukar yang menggantikan uang di Belitung). Di tempat tertentu di sekitar wilayah Karang Kijang, bijih besi diselam pada kedalaman 3 hingga 4 depa, di mana besi dari bijih tersebut merupakan racun mematikan bagi siapapun yang terluka karenanya.”
Syahbandar (kepala pelabuhan) Palembang, Paravicini, menganggap informasi dari orang Melayu tersebut sangat berharga. Sebab, dalam kontrak pasokan yang ditandatanganinya dengan Sultan Palembang atas nama Gubernur Jenderal, ia menyebutkan “semua timah yang dihasilkan di Bangka dan Belitong”.
Pada tahun 1756, Ia kembali mendapat sebuah laporan yang menyertakan informasi dari beberapa orang Tionghoa dan penduduk pribumi, dan kali ini Ia menyatakan bahwa timah tersebut telah lenyap: “karena di sana tidak ada timah lain selain yang dibawa ke sana dari Bangka. Pada tahun 1757 dan 1758, para pejabat VOC kembali mendesak untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut di Belitong.
Surat peringatan terakhir berpapasan dengan sebuah laporan baru bulan September 1758 dari Resident Palembang yang baru Huybert Johan de Heere, yang mengumpulkan kisah-kisah dari enam orang yang dapat dipercaya. Dalam laporan memuat informasi menarik: “bahwa pulau tersebut penuh dengan timah, menurut pemikiran mereka hampir sama banyaknya dengan di Pulau Bangka, bahkan mereka telah melihat beberapa kali dengan mata kepala sendiri bahwa jauh di pedalaman, ketika rumpun padi dan semak belukar hutan dibakar sampai ke tanah, bijih timah dapat langsung terlihat meleleh dan mengalir berkumpul menjadi satu.”

Pada 15 September 1759 Residen de Heere mulai mengadakan penyelidikan ke Belitong. Residen memperkirakan bahwa di Belitong terdapat timah dan telah dilebur di sana sebagaimana Sultan Palembang membenarkannya.
Tetapi kenyataan itu tak Ia dapatkan. Cornelis De Groot, dalam bukunya Herinneringen aan Blitong: historisch, lithologisch, mineralogisch, geographisch, geologischen en mijnbouwkundig, ‘s-Gravenhage: H.L. Smits,1887, hal.34, menulis: “adalah aneh bahwa Residen de Heere tidak memperoleh kepastian mengenai adanya bijih timah atau produksi timah, yang telah dibicarakan semenjak 1746 dari beberapa informasi bumiputera, sedangkan Paravicini juga telah memuat di dalam kontraknya dengan Sultan Palembang. Semestinya penelitian de Heere memberikan kepastian tentang adanya timah di Belitong”.
*Keterangan gambar:
Gustaaf Willem, Baron van Imhoff (8 Agustus 1705-1 November 1750), Gubernur Jenderal yang memerintahkan penyelidikan terhadap potensi pulau Belitong, sumber gambar: Rijksmuseum.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
