16 Juli 1913, Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 52, Penetapan Pangkalbalam Sebagai Kawasan Perdagangan Umum di Bangka.
Admin 16 July 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC.
Pada peta Inggris Map of the island of Banka: compiled from remarks and materials collected during a journey through the island, annexed to a report on the same and addresed to the Honourable Thomas Stamford Raffles Esqre. Leutenant Governor of the island of java and its dependencies & c, by his most obedient servant Thomas Horsfield, digambarkan konektivitas berupa garis putus-putus yang lurus, yang merupakan jalur distribusi dan transportasi pengangkutan Timah di distrik Pangkal Penang.
Jalur pertama yang menghubungkan antara Mendoo River ke Pangkal-mendoo terus ke Timur melalui darat sampai ke muara Pangkal Penang River di Marawang River dan jalur kedua yang menghubungkan kampung Tirak (Terak) mungkin maksudnya kampung Terak sekarang ke Village of Batin Marawang (pada bagian Timur dari Mendoo River) menuju Mines of Pangkal Penang dan ke Stoocade of Pangkal Penang, terus menelusuri Pangkal Penang River sampai ke muara Pangkal Penang River di Marawang River, kemudian jalur ketiga dari Tandjong Boongie (Tanjung Bunga) menuju ke Messoo River terus menelusuri Pangkal Penang River sampai ke muara Pangkal Penang River di Marawang River.
Jalur distribusi dan transportasi ke muara Pangkal Penang River di Marawang River juga digambarkan terhubung dengan Mabbed River, kampung Depa, Village of Dipatty Barin di bagian Barat pulau Bangka (western division).
Muara Pangkal Penang River di Marawang River pada peta, saat ini berada di posisi Pelabuhan Pangkalbalam Pangkalpinang.

Tampaknya Pangkal Pinang yang didirikan pada masa Sultan Susuhunan Ahmad Najamudin I Adikusumo (1757-1776 Masehi), pada masa Inggris sudah berkembang dengan pesat seiring dengan berkembangnya aktifitas di muara sungai Pangkalpinang dan hubungannya dengan daerah dan pangkal-pangkal lain yang ada di pulau Bangka.
Dalam Het Eiland Banka. 1819 [and] De Rivier van Palembang. 1821, Phillip Franz von Siebold’s, bahwa Pankal Pinang secara geografis terletak di Selatan Batin Mundo dan di Utara Batin Baquit (maksudnya Batin Bukit). Tampaknya peta ingin menjelaskan beberapa tempat yang telah diduduki oleh Belanda dari tangan Inggris, ditandai dengan bendera Kerajaan Belanda, Merah Putih Biru, meliputi wilayah Pankal Pinang, Marawang, Songi Leat, Jeboes, Blinjoe, Toboaly dan Muntok.
Kemudian pada muara sungai Marawang di laut dekat sisi Timur muara sungai Pankal Pinang sudah digambarkan pelabuhan laut dengan simbol Jangkar dan tertulis kata kualla di Mura Sungai Merawang. Dengan adanya pelabuhan pada sekitar tahun 1819 Masehi diawal masa kolonialisme Belanda di Pankal Pinang, sudah ada instansi pemerintah Hindia Belanda yang bertugas di pelabuhan laut untuk menyelenggarakan dan mengawasi semua urusan yang berhubungan dengan bea cukai dan pabean.
Pelabuhan Pangkalbalam yang telah dibangun sejak zaman Inggris dan Belanda, berdasarkan Besluit, Gubenur Jenderal Hindia Belanda Tanggal 16 Juli 1913 Nomor 52, ditetapkan sebagai kawasan perdagangan umum di Bangka Belitung bersamaan dengan penetapan pelabuhan Belinyu dan pelabuhan Sungailiat. Pelabuhan Pangkalbalam saat ini dengan kapasitas sekitar 2000 DWT, berstatus Entry Port Sea (Tahun 1948), di samping sebagai pelabuhan Container (CIQ) sistem 40 Feet, juga berfungsi sebagai pelabuhan penumpang.
Pelabuhan Pangkalbalam termasuk pelabuhan bersejarah pada masa kemerdekaan karena pada Tanggal 6 Februari 1949 pernah didarati pesawat amphibi Catalina milik Belanda yang membawa Bung Karno dan Haji Agus Salim dari pengasingan di Parapat (danau Toba) untuk kemudian diasingkan ke Mentok pulau Bangka setelah Agresi Militer Belanda Kedua, Tanggal 19 Desember 1948.

Dari pesawat ampibi Catalina Bung Karno dan Haji Agus Salim dibawa dengan perahu kecil (sampan/kolek) menuju dermaga pelabuhan Pangkalbalam.
Bung Karno dan Haji Agus Salim sebelum diasingkan ke Kota Mentok disambut dengan antusias dan dielu-elukan oleh masyarakat Bangka yang menyambutnya.
Karena ingin menyapa masyarakat, Bung Karno kemudian harus duduk di kap atas depan mobil BN 2 yang membawanya. Nama Pangkalbalam saat ini di samping menjadi nama Pelabuhan Kota Pangkalpinang juga dijadikan sebagai salah satu nama kecamatan yang ada di Kota Pangkalpinang.
Pangkalbalam berbatasan sebelah Utara dengan sungai Baturusa (dulu sungai Merawang), sebelah Barat dengan kampung Meleset, sebelah Timur dan Selatan berbatasan dengan sungai Rangkui.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
