Hewan Liar dan Ganas di Rumah Administrator Pangkalpinang
Admin 17 July 2026
Oleh : Meilanto
Di Pangkalpinang, Buddingh bertandang ke rumah sang administrator yang berdiri di tepi jalan yang bagus dan lebar. Ia melihat dua ekor hewan liar nan ganas yang ditangkap di hutan Bangka dan dikurung di halaman rumah. Hewan apakah itu? Berikut tulisannya pada halaman 66-67 dalam NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.
De hoofdplaats Pankal-pinan g wordt door eene Redoute beschermd, in welker nabijheid het huis van den Administrateur
aan den zoom van een’ schoonen en breeden weg gelegen is. Deze weg is de hoofdweg des eilands, en loopt zoowel langs de aarden wallen der benting als langs de goed-bevolkte kampongs der inlanders en Chinezen. De kotta heeft een net en zindelijk voorkomen, en ontleent van de rivier Pankal-pinang, die haar besproeit, hare levendigheid en gezelligheid. Bijzon-
derheden levert ze niet op en fraaije gezigten heeft men er niet. Toch was er voor mij iets bijzonders te zien, namelijk
twee wilde en kwaadaardige dieren, die in B ank a’s bosschen gevangen en in een hok op het erf van mijn’ gastheer opgeslo-
ten waren. Ze hadden graauwachtig-witte liaren, en de grootte en eenigzins de gedaante van een halfwassen kat, en schenen gaarne te dommelen of te slapen en niet van liet daglicht te houden. Niemand wist mij te zeggen, welke dieren het waren. De een hield ze voor Luijaards, en een ander dacht, dat het Honigbeeren of broeang’s waren. Als men de luije slapers
met een stokje wekte, beten ze in het stokje, en vlogen verwoed en brommend, als jonge tijgertjes, tegen de ijzeren tralie’s
op om de plagende hand te straffen. Overigens waren ze niet schuw of bang voor menschen, en gingen dadelijk weder even als katten slapen, als ze een’ vergeefschen sprong naar de hand
buiten het tralie-werk gedaan hadden.

Terjemahannya;
“Kota utamanya, Pangkalpinang, dilindungi oleh sebuah benteng pertahanan; di dekat benteng ini, rumah sang administrator berdiri di tepi jalan yang bagus dan lebar. Jalan ini berfungsi sebagai jalur utama pulau, membentang melewati tanggul tanah benteng serta kawasan permukiman penduduk pribumi dan Tionghoa yang padat.
Kota ini tampak rapi dan teratur, dengan suasana yang hidup dan menyenangkan berkat aliran Sungai Pangkalpinang yang membelah kota. Tidak ada objek wisata istimewa ataupun pemandangan alam yang memukau di sini. Namun, ada sesuatu yang tidak biasa bagi saya: dua ekor hewan liar nan ganas yang ditangkap di hutan Bangka dan dikurung di halaman rumah tuan rumah saya.
Hewan-hewan itu berbulu putih keabu-abuan dengan ukuran dan bentuk tubuh kira-kira sebesar kucing yang belum dewasa; mereka tampak gemar bermalas-malasan atau tidur serta terlihat tidak menyukai cahaya siang. Tak seorang pun bisa memastikan jenis hewan apa sebenarnya mereka itu. Ada yang mengira mereka adalah kukang, sementara yang lain menganggapnya sebagai beruang madu atau beruang.

Sumber : Internet
Jika hewan-hewan yang gemar tidur itu dibangunkan dengan sebatang kayu kecil, mereka akan menggigitnya dan—sambil menggeram garang layaknya anak harimau—menerjang jeruji besi untuk menyerang tangan yang mengganggu mereka.
Selebihnya, mereka tidak menunjukkan rasa takut atau malu terhadap manusia; mereka akan segera kembali tidur seperti kucing setelah melancarkan serangan sia-sia ke arah tangan yang berada di luar jeruji”,

Sangat menarik untuk mengetahui jenis hewan yang dimaksud oleh Buddingh. Mencermati ciri-ciri yang dituliskan, penulis berasumsi pada dua hewan yaitu keraras (Prionodon lingsang) dan binturong (Arctictis binturong).
Bagi masyarakat Bangka, keraras sangat berbahaya. Bentuk tubuhnya mirip kucing, berekor panjang dan berwarna-warni hitam kuning bergaris pada bagian ekor. Smenayar itu pada bagian badan bergaris horizontal hitam kuning. Ia dikenal pemangsa ayam yang hanya memakan jantung dan hati ayam. Selain itu keraras juga sangat aktif sehingga sulit untuk ditangkap.
Dari ciri-ciri yang dituliskan Buddingh, sepertinya hewan yang ia maksud bukanlah keraras karena dari jenis warna rambut yang menutupi tubuhnya berbeda.
Bagaimana dengan binturong. Hewan dengan nama latin Arctictis binturong masih termasuk family musang. Ia termasuk hewan nokturnal yang memiliki ekor kuat yang berfungsi kayaknya tangan kelima untuk berpegangan pada dahan. Binturong ada yang berwarna hitam abu-abu dan ada juga yang hitam pekat.

Dari ciri-ciri hewan yang dituliskan Buddingh, bisa jadi yang ia lihat adalah binturong. Atau mungkin bukan keduanya. Entahlah
Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.
Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.
*Gambar Andalan (feature): Binturong (Arctictis binturong).
