Oleh : Meilanto
Menarik dari tulisan Buddingh dijelaskan bahwa, emas pernah ditemukan di Bangka.
Berikut tulisannya dalam buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867 halaman 65-66.
In het distrikt Pankal-pinang vloeit aan den voet van het Panjang-gebergte eene rivier, welke Aijer-oedang (gar-nalen-water) heet, en nabij dezen stroom werden in 1823 en 1824 (onder het bestuur der Bankasche Residenten MULLER en LAFONTAINE, beiden in 1823 en 1824 overleden,) in een bergje of heuvel uitgravingen gedaan, ten doel hebbende het vinden van zilver, hetwelk men meende dat in dezen heuvel aanwezig was, doch bij een ingesteld wetenschappelijk on-derzoek niet als zilver erkend werd. Aan de boorden der Aijer-oedang-rivier ligt de parit of tin-mijn Aijer-oedang en op eenige palen afstands de parit Aijer-mangkok-boeloe. Bij eene andere rivier in dit distrikt, namelijk bij de rivier Aijer-mèra (rood water), aan welke de kampong van dezen naam gelegen is, zoomede te Tangong-Mangong en Tan-jong-Boenga, werd in vroeger jaren goud gevonden, doch in geen grooter hoeveelheid dan er weleer op enkele plaatsen op Java, b. v. bij de dessa Gandool in Passarocan, gegra-ven werd.
Overigens zijn er bij de berg Manka, die eveneens in dit district ligt, en verder aan de voet van de Parmasang, enkele warme minerale bronnen. De temperatuur hiervan is min of meer gelijk aan die van de bronnen van Gandaria op de berg Oengaran bij Salatiga, en aan die van de bronnen bij de Krawangse berg Batoe-Kapor en elders op Java.

Terjemahannya:
Di kaki Pegunungan Panjang mengalir sebuah sungai bernama Aijer-oedang (Air udang); di dekat aliran ini, pada tahun 1823 dan 1824—di bawah pemerintahan Residen Banka, Muller dan Lafontaine (yang keduanya meninggal dunia pada masa itu)—dilakukan penggalian pada sebuah gunung atau bukit kecil dengan tujuan menemukan perak yang diyakini terdapat di sana, meskipun penyelidikan ilmiah kemudian menyimpulkan bahwa zat tersebut bukanlah perak.
Tambang timah (parit) Aijer-oedang (Air Udang) terletak di tepi Sungai Aijer-oedang, sementara tambang Aijer-mangkok-boeloe (Air Mangkok Bulu) berada tidak jauh dari situ. Emas pernah ditemukan pada tahun-tahun sebelumnya di dekat sungai lain di wilayah ini—yaitu Sungai Aijer-mèra (Air merah), tempat kampung dengan nama yang sama berada—serta di Tanjong-Mangong (?) dan Tanjong-Boenga (Tanjung Bunga); namun, jumlahnya tidak lebih besar daripada emas yang pernah ditambang di beberapa lokasi di Jawa, seperti di dekat Desa Gandool di Passarocan.
Selain itu, di dekat Gunung Manka, yang juga terletak di distrik ini, dan lebih jauh lagi di kaki Gunung Parmasang, terdapat beberapa sumber air panas mineral. Suhunya kurang lebih sama dengan suhu sumber air panas Gandaria di Gunung Ungaran dekat Salatiga, serta sumber air panas di Gunung Batoe-Kapor di daerah Krawang dan di tempat lain di Pulau Jawa.

*Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.
Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.
Keterangan gambar: Pangkalpinang Kongsihuis Van mijn 24
Sumber : Rijksmuseum.nl