17 September 1757, Pembentukan Pangkalpinang sebagai tempat kedudukan Demang dan Jenang
Jelajah Bangka 17 September 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Tulisan tentang Pangkalpinang dapat dipelajari pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Palembang, Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin I Adikusumo. Beliau menggantikan ayahnya Sultan Mahmud Badaruddin I sebagai penguasa tahta Palembang pada tahun 1171 Hijriah, pada hari ketiga bulan Muharram (Woelders,1975:239).
Tanggal 3 Muharam 1171 Hijriyah bertepatan dengan 17 September 1757 Masehi. Kebijakan Sultan Ahmad Najamuddin I Adikusumo pada awal pemerintahannya adalah memerintahkan kepada Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala di Mentok untuk mendirikan Pangkal pangkal di Pulau Bangka sebagai tempat kedudukan Demang dan Jenang dalam rangka pengelolaan pertimahan dan melakukan hubungan dengan berbagai Bangsa seperti Orang China, Sijam, Cochin dan Melayu.
Dalam Semaian Carita Bangka, Het Verhaal Van Bangka Tekstuitgave Met Introductie en Addenda, E.P Wieringa, 1990, Halaman 106 ditulis: “lebih dahulu sudah disuruh membuat sebelah Timur Mentok: Pahit, Beluh dan Tempilang dan sebelah Barat Mentok: Biat, Bunut, Bendul, Rembut dan Sungai Buluh. Kemudian barulah menyuruh membuat kepada batin pesirah Panji di Pangkal Panji dan menyuruh kepada Dipati Depak membuat Pangkal di Layang, Sungai Liat, Cengal dan Pangkal Pinang dan Dipati Pakuk disuruh membuat di Kubak, Balar, Toboalih-Lama melainkan di Ulim, Bangka-Kota, Jeruk dan Kota Waringin sedia lama”.
Dalam versi lain disebutkan bahwa perintah Sultan Palembang kepada Tumenggung Dita Menggala adalah menyelidiki secara menyeluruh deposit Timah dan kemudian mengeksplotasi Timah di Pulau Bangka.
Selengkapnya F. S. A. De clercq, menjelaskan dalam “Bijdrage Tot De Geschiedenis van Het Eiland Bangka (Naar een Maleisch Handschrift)”, dalam Bijdragen Tot De Taal, Land, En Volkenkunde in Netherlands Indie (BKI), 1895, halaman 146: tentang pendirian tempat tempat eksploitasi deposit Timah ditulis:
“Voorts droeg de Sultan den Temenggoeng Dita Mengala op, over het geheele eiland Bangka een nauwkeurig onderzoek in te stellen naar de plaatsen, waar tinerts kon verkregen worden. Dientengevolge werden mijnen ontgonnen ten oosten van Muntok te Pahit, Beloeh enTempilang en ten westen van Muntok (te Bijat, Boenoet, Bendoel, Remboet en Soengei-Boeloh). Bovendien werd den Batin-Pasirah van Pandji gelast te Pandji, den Depati van Depak te Lajang, Soengei-Lijat, Tjengal en Pangkal-Pinang, en den Depati van Pakoe te Koebak, Balar en Toeboealih-Lama mijnen te ontginnen; behalve de oude mijnen te Oelim, Bangka-Kota, Djeroek en Kota Waringin. De Sultan zond nu Demang’s en Djenang’s om de werk zaamheden te leiden en teveus Chineezen, Sijameezen, Cochinchineezen en Maleiers”.

Maksudnya F. S. A. De clercq adalah:
Selanjutnya Sultan memerintahkan Temenggoeng Dita Mengala untuk melakukan penyelidikan menyeluruh di seluruh Pulau Bangka untuk mengetahui tempat-tempat yang dapat diperoleh bijih timah.
Akibatnya, pertambangan dieksploitasi di sebelah timur Muntok di Pahit, Beloeh dan Tempilang serta di sebelah barat Muntok (di Bijat, Boenoet, Bendoel, Remboet dan Soengei-Boeloh). Selain itu, Batin-Pasirah Pandji diperintahkan untuk mengeksploitasi tambang di Pandji, Depati Depak di Lajang, Soengei-Lijat, Tjengal dan Pangkal-Pinang, serta Depati Pakoe di Koebak, Balar dan Toeboealih-Lama; kecuali tambang tua di Oelim, Bangka-Kota, Djeroek dan Kota Waringin. Sultan kini mengutus Demang dan Djenang untuk bekerja untuk memimpin kegiatan dan bertemu orang Tionghoa, Sijam, Cochin dan Melayu.Berdasarkan ekspedisi Pemerintah Hindia Belanda ke Pulau Bangka yang dimulai pada 18 Juli 1803 sebagaimana dikutip dari Marihandono, Elvian, Sancin (2019;209-210), bahwa dalam ekspedisi pemerintah Hindia Belanda yang mengikutsertakan beberapa kapal perang antara lain kapal perang Maria Rijgersbergen bersama dengan kapal-kapal layar eks VOC Maria Jacoba dan Beschermer dan dengan menggunakan beberapa kapal perang serta dikawal oleh beberapa kapal jenis panjajab, pada Tanggal 17 Agustus 1803 komandan ekspedisi yang menaiki kapal perang Maria Rygersbergen menuju ke Bangka.
Selanjutnya pada Tanggal 19 Agustus 1803 ekspedisi tiba di Pulau Bangka. Dari hasil pengamatan diketahui, bahwa terdapat beberapa teko atau tiko di kompleks tambang Timah di Pulau Bangka antara lain; Nyai Rangga Bulo, yang bertindak sebagai teko dari raja dari distrik Marawang, yang mencakup 12 tambang Timah dan 33 kuli tambang Cina, Nyai Demang Jaya Layana, teko putra mahkota di distrik Belo, dimana hanya ada Satu tambang Timah yang dikerjakan oleh 18 orang kuli Cina. Klabat memiliki Empat tambang Timah dan di sana bekerja 70 orang Cina. Layang memiliki Empat tambang Timah dengan 21 orang kuli Cina. Songie Liat memiliki 5 tambang Timah dan di sana terdapat 45 orang kuli Cina dan Pankal Pinang yang memiliki 7 tambang Timah yang mempekerjakan 35 pekerja Cina.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
