18 Juni 1908, Peresmian Sekolah Tionghoa di Belinyu Diketuai Oleh Kapitan Tjen Ton Long.
Admin 18 June 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)
Pada Tahun 1899 di Bangka dan Belitung terdapat Enam puluh Tiga sekolah Tionghoa tradisional dengan jumlah murid sekitar beberapa ratus orang (Heidhues 2008:173). Sekolah Tionghoa tradisional juga berdiri di distrik Blinju. Pendirian sekolah Tionghoa tradisional diperlukan mengingat jumlah anak anak pekerja tambang Timah Tionghoa di distrik Blinju membutuhkan pendidikan dan pengajaran yang layak.
Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, masa Sultan Mahmud Badaruddin I (Pemerintahan Tahun 1724-1757), setelah pertambangan Timah dibuka di Mentok kemudian tambang dibuka di Belo, pertambangan selanjutnya dibuka di Panji dekat Belinyu. Panji merupakan kampung tua, di sana terdapat kelenteng dan sisa bangunan Benteng dan makam kapitan Cina Bong Kiong Hu atau Bong Kap, Tahun 1795. Benteng diperkirakan hancur pada Tahun 1850 (Lange, 1850: 16,17).
Selanjutnya pada masa kekuasaan Inggris, dari table catatan residen M. H. Court, An Exposition of the Relations of the British Government with the Sultaun and State of Palembang, London: Black, Kingsbury, Parbury and Allen, 1821, diketahui, jumlah penduduk Blinyoe, termasuk wilayah Pandjee dan Loemoot terdiri atas orang China 403 orang, Orang Melayu 114 orang dan Orang Gunung 149 orang. Produksi timah dari tahun 1813 sampai tahun 1816 yang dihasilkan dan yang diserahkan kepada East-India Company dari Blinyoe, including Loemoot and Klabat Laot, sebanyak 4675 pikul, 75 kati (Court, 1821: 258).

Perkembangan penduduk Tionghoa di district Blinju semakin pesat digambarkan oleh Franz Epp dalam tabel statistik (statistische verhaltnisse) pada Tahun 1848, bahwa distik Blinju terdiri dari 25 kampung, dengan penduduk 1925 orang Bangkanese, 189 Melajen, 2270 Chinesen. Total penduduk distrik Blinju 4348 jiwa. Jumlah penduduk Tionghoa (Chinesen) di distrik Blinju 2270 jiwa, merupakan yang terbesar di Pulau Bangka pada masa itu dengan jumlah Chinesen (China) 10.052 jiwa (Epp, 1852:209).
Berdasarkan catatan Residen Van Olden sebagaimana dikutip (Heidhues, 2008:179), bahwa pada Tahun 1849, kebanyakan penduduk orang Tionghoa di Bangka adalah orang “Kee” atau Hakka dan Hoklo (Chaozhou) serta orang Tionghoa Peranakan. Dari orang Hakka di Blinyu, 357 jiwa dikatakan datang dari distrik “Pentie” (M: Bendi), satu distrik di daerah Guandong yang berbicara Bahasa Kanton, dan sejumlah kecil dari Makouw, Makao.
Berdasarkan Volkstelling (sensus) Tahun 1920, jumlah Orang Tionghoa di Blinyu meliputi 72,7 persen dari keseluruhan penduduk Blinyu termasuk orang Eropa yang berjumlah 17.047 jiwa. Jumlah orang Tionghoa di Blinyu merupakan yang terbesar di Pulau Bangka yang pada saat itu berjumlah 154.141 jiwa (sekitar 44, 6 persen adalah orang Tionghoa). Dengan perkembangan penduduk Tionghoa yang cukup besar di Blinju, maka pada sekitar abad 20 perkembangan sekolahnyapun semakin meningkat.
Seiring dengan berdirinya cabang Partai Persatuan Rakyat oleh orang orang Tionghoa. Partai ini kemudian memproklamirkan dirinya menjadi Kuo Min Tang (KMT, Pinyin: Zhongguo Guomindang). Aktifitas kaum nasionalis Kuo Min Tang juga semakin meningkat sekitar Tahun 1920 dengan berdirinya Pusat Pendidikan Orang Dewasa (Soe Po Sia) dan berdirinya beberapa THHK. Aktifitas perkumpulan Soe Po Sia antara lain melakukan propaganda anti produk Jepang melalui buku dan Koran (Elvian, 2014:29-30).

Perkembangan THHK di Pulau Bangka dimulai dengan berdirinya THHK di Pangkalpinang pada Tanggal 27 Mei 1907, setahun kemudian pada Tanggal 18 Juni 1908 dilakukan peresmian sekolah Tionghoa (THHK) di Belinyu diketuai oleh Kapitan Tjen Ton Long. Pada Tahun 1966, pemerintah Republik Indonesia, menutup semua sekolah Tionghoa dan beberapa di antaranya diambil alih oleh pemerintah menjadi sekolah nasional.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indomesia.
Keterangan gambar: Perayaan hari besar Nasional (Belanda) di Pulau Bangka. Dilapangan Sekolah Inggris-Belanda. Sumber foto: KITLV