17 Juni 1886, Mayor Tjoeng At Tiam diangkat sebagai, Kapitien der Chineezen in de Residentie Banka en Onderhoorigheden.

Your paragraph Masyarakat Bangka bergotong royong merenovasi Masjid Jamik P_20260617_143121_0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Dalam Regeeringalmanak voor Nederlandsch-Indie, 1893, halaman 217, pada tanggal 17 Juni 1886, Tjoeng At Tiam diangkat sebagai Kapitien der Chineezen in de residentie Banka en Onderhoorigheden (met den titulirenrang van major) atau Kapiten Tionghoa di wilayah Banka dan Dependensi (dengan pangkat kehormatan mayor).

Keresidenan Bangka dan pulau-pulau yang melingkupinya (Depedensi) beribukota di Mentok dan terbagi atas Sembilan Afdeeling yaitu Afdeeling Djeboes, Blinjoe, Muntok, Marawang, Soengeiliat, Songeislan, Pangkalpinang, Koba, dan Toboali, serta satu Underafdeeling yaitu Lepar Eilanden (Kepulauan Lepar).

Pada saat Mayor Tjoeng At Tiam menjabat Kapitien der Chineezen in de residentie Banka en Onderhoorigheden, menjabat juga sebagai Luitenant der Chineezen te Muntok, Tjoeng Fai Hioen yang diangkat tanggal 13 April 1887 dan yang menjabat sebagai Demang Muntok saat itu adalah Raden Mohammad Oemar dengan gelar Raden Mas Ardjo Koesoemo serta yang menjabat sebagai Landmeter en rooimeester adalah S.E. Hangama dan yang menjabat sebagai Eleve-Administrateur, L.H. Kloprogge yang diangkat tanggal 31 Maret 1893.

Sebelumnya Tjung At Tiam, lebih awal pada tanggal 18 Desember 1879 telah diangkat lebih dulu menjadi Kapitien Liutenant der Chinezen Bangka yang berkedudukan di Kota Mentok, saat Keresidenan Bangka dibagi atas Sepuluh Distrik yaitu Distrik Djeboes, Blinjoe, Muntok, Marawang, Soengeiliat, Songeislan, Pangkalpinang, Koba, Toboali dan Lepar Eilanden.

Pada masa setelah keluarnya Tin Reglement Tahun 1819, Pemerintah Hindia Belanda melarang Tambang Timah Partikelir beroperasi dan seluruh Penambangan Timah dikelola oleh Pemerintah Hindia Belanda berada di bawah dan diatur langsung oleh residen beserta kepala kepala distrik pemerintahan yang sekaligus juga merangkap sebagai kepala pertambangan.

See also  Mengenal Oen Nyiem Foek, Kapiten China Di Pangkalpinang, Bangka.

Para Kepala Kongsi penambangan Timah yang awalnya dipanggil Tiko atau Taiko atau Tauke yang berarti saudara tua atau kapthai diubah status dan namanya dengan jabatan dan pangkat kehormatan (titulair) yang disebut dengan Kapitan atau Kapitien. Para kapitan memiliki kekuasaan atau otoritas yang besar dibidang ekonomi, politik dan hukum atas orang orang Tionghoa pekerja tambang Timah. Para Kapitan kemudian dipercaya oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengelola tambang dan mengorganisir pekerja tambang Timah Cina di pulau Bangka.

Pemerintah Hindia Belanda mengangkat jabatan Kapitan Cina titulair yang secara keseluruhan disebut Chinese Officieren atau Opsir Tionghoa untuk membedakan dengan Kapitan Arab dan Kapitan India. Pangkat seorang kapitan ditentukan berdasarkan status ketuaan atau senioritas seseorang, prestasi dan kekuatan ekonomi serta politik perseorangan yang diakui di masyarakat serta kedudukan pangkat ditentukan juga berdasarkan pentingnya satu wilayah bagi pertambangan Timah.

Institusi Kapitan Cina di pulau Bangka atau di Hindia Belanda secara keseluruhan terdiri atas Tiga pangkat yaitu Majoor, Kapitein dan Luitenant der Chinezen. Dalam catatan sejarah di pulau Bangka, terdapat beberapa orang Majoor berkedudukan di Mentok dan Pangkalpinang serta beberapa orang Luitenant dan Kapitein di Belinju, Sungailiat, dan Merawang serta di wilayah administrasi pertambangan Timah lainnya. Setidaknya pada sekitar antara Tahun 1848-1851 Masehi terdapat sekitar 250 Tambang Timah dan 5000 pekerja tambang Timah Cina yang dikelola oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dikoordinir oleh para Kapitan Cina.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments