2 September 1819, Instruksi Kepada Pemimpin Ekspedisi Angkatan Laut Kapten Baker yang Menyerang Pasukan Depati Bahrin di Bangkakota
Jelajah Bangka 2 September 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Setelah perang di Palembang, Belanda harus menghadapi kekuatan di pulau Bangka yang dipimpin oleh Depati Bahrin yang dalam tulisan Belanda disebut Batin Barien.
Kekuatan Depati Bahrin di pulau Bangka awalnya dibangun di Bangkakota dijelaskan oleh A. Meis, Kapitein-Adjudant hij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandscht Oost-Indische leger, halaman 137:
“Te Banka-kotta, op de westkust, nagenoeg tegenover de tweede punt van Sumatra, had zich eene magt van zeeroo vers met muitelingen van Banka en Palembang vereenigd en verschanst, tot welk laatste zij zich bediend hadden van eene, aldaar voor het Gouvernement verzamelde, hoeveelheid hout werken”.
Maksudnya adalah:
Di Banka-kotta, di pantai barat, praktis berlawanan dengan titik kedua Sumatra, sekelompok bajak laut telah bergabung dan membentengi diri bersama para pemberontak dari Banka dan Palembang; untuk tujuan yang terakhir, mereka telah menggunakan sejumlah kayu yang dikumpulkan membuat benteng di sana untuk melawan pemerintah.
Untuk menumpas perlawanan rakyat di Koeboebangka atau Kotabangka atau Bangkakota, pasukan militer Belanda harus melakukan beberapa kali penyerbuan.
Serangan atau penyerbuan pertama dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1819 Masehi, dilakukan melalui darat dan melalui laut dipimpin oleh Kapten Ege.

Sebelum melakukan serangan Kedua terhadap Bangkakota diaturlah siasat berupa Instruksi tertanggal 2 September 1819 kepada pemimpin ekspedisi angkatan laut (Kapten Baker) berbunyi:
“bahwa kapal-kapal harus memasuki sungai, untuk berlayar ke hulu dengan sangat hati-hati dan menembaki benteng musuh yang ada di sana dengan tenang, untuk mengalihkan perhatian musuh agar tidak mempersiapkan serangan dari darat, tetapi berhenti menembak seolah-olah ada niat untuk menyerang dari laut; oleh karena itu, untuk tidak menembakkan terlalu banyak bubuk mesiu secara tidak perlu, tetapi untuk terus menembak dengan kedua kapal selama beberapa hari, sampai serangan dari darat terjadi dan selesai…. Ia juga harus mengingat pentingnya keberhasilan ekspedisi ini, juga untuk operasi militer selanjutnya. Dan karena itu untuk melaksanakan perintah-perintah ini dengan ketat dan tegas”.
Selengkapnya siasat tersebut dalam buku Palembang En Banka In 1816-1820, P. H. Van Der Kemp:
“Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië , 1900, halaman 562: “De instructie dd. 2 September 1819 aan den leider der zee-expeditie luidde, dat de vaartuigen de rivier moesten ingaan, ?ten einde dezelve met de meeste omzigtigheid op te varen en de daarin liggende vijandelijke benting met bedaardheid te beschieten, ten einde den vijand af te leiden om geene preparation tegen een aanval van de landzijde te maken, maar door dat schieten op te houden, even of men van intentie is om van de zeezijde te attaqueeren; daarom in het oog houden geenszins onnoodig kruit te verschieten, maar gedurende versoheidene dagen met de beide booten het vuur aan den gang te houden, totdat de attaque van de landzijde zal plaats grijpen en afgeloopen zijn …. Hij zal almede in het oog houden het belang hetwelk in het welgelukken dezer expeditie gelegen is, ook voor de verdere militaire operatien. En daarom deze zijne orders stiptelijk en ferm uitoefenen”.

Serangan kedua kemudian mulai dilakukan pada 14 September 1819 dari darat dipimpin oleh Kapten Laemlin yang membawa pasukannya sekitar 230 prajurit dari distrik Pangkalpinang, sedangkan serangan dari laut dengan siasat Instruksi tertanggal 2 September 1819 dilakukan dengan empat kapal perang di bawah pimpinan Kapten Baker. Terjadi pertempuran besar-besaran di Koeboebangka atau Bangkakota pada tanggal 17 September 1819.
Berdasarkan catatan Belanda dikatakan, bahwa dari pihak Belanda tewas sebanyak 4 orang, 19 terluka, seorang perwira dan 45 prajurit mengalami kelaparan (meninggal dunia), 2 perwira dan 63 prajurit mengalami sakit, total 50 persen pasukan tidak mampu bertempur (Santosa, 2011:134).
Karena minimnya persenjataan, dalam pertempuran selanjutnya Koeboebangka (Kotabangka) atau Bangkakota pada bulan Oktober Tahun 1819 Masehi dapat dikuasai oleh pasukan Belanda. Koeboebangka (Kotabangka) kemudian dibumihanguskan oleh pejuang rakyat yang kemudian menyingkir ke arah Utara melewati sungai Selan dan sungai Menduk menuju Kotaberingin (Kotawaringin), serta sebagian pasukan menyingkir ke Selatan menuju Nyireh (sungai Nyireh) dan hampir mendekati desa Pergam sekarang.
*Keterangan gambar: Admiraal Buyskes yang namanya diabadikan menjadi nama “Kapal Admiraal Buyskes” digunakan dalam perang di Bangkakota Tahun 1819
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
