Catatan Perjalanan J.E. Teijsmann, Ahli Botani Berkebangsaan Belanda, Di Pulau Bangka (Bagian 6)

Bocah Sungailiat


Oleh : Meilanto


Catatan perjalanan Teijsmann berlanjut setelah pada edisi ke-5 ia ke beberapa pulau di Teluk Kelabat, kini ia kembali menuliskan perjalanannya dalam bukunya Aanteekeningen Uit Het Dagboek Mijner Reis Over Bangka, Van Juni 1869 Tot En Met Januari 1870, J. E. Teijsmann Door.

Halaman 14
Ini hanya berlaku untuk para buruh tani, baik Tionghoa maupun penduduk asli. Di pedalaman, tidak ada jasa buruh tani selain mengangkut barang-barang kotor dan barang-barang pemerintah yang diwajibkan, dengan pembayaran 2 sen per tiang dan per buruh tani. Mereka harus mengangkut surat tanpa bayaran, tetapi ini dan pemeliharaan jalan adalah satu-satunya jasa tanpa bayaran yang mereka lakukan, sementara mereka tidak memiliki persepuluhan atau sewa tanah yang harus dibayar.

Orang-orang terkadang merasa kasihan pada penduduk Bangka karena sifat penindasan dari layanan tandu, tetapi begitu seseorang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, orang akan meninggalkan anggapan itu, terlebih lagi ketika mempertimbangkan bahwa apa yang mereka peroleh dari pekerjaan ini adalah keuntungan murni, karena jika tidak, mereka akan menghabiskan waktu mereka dengan menganggur.

Jarang sekali kuli dikenai beban maksimum yang wajib mereka bawa (25 kilogram), terutama untuk tandu yang beratnya sekitar 1 pikul. Jika ditambah dengan berat orang yang harus dibawa beserta barang bawaannya (hingga 1 pikul), maka berat total per orang untuk 8 kuli yang biasanya dipekerjakan bahkan tidak mencapai 20 kilogram.

Pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh orang Bangka, kecuali beberapa pengecualian, memang sangat sedikit; mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka mengadakan pertemuan sosial di Balie / maksudnya balai (karavanserai) atau mengobrol dengan tetangga dan berdoa. Meskipun tidak terlalu fanatik—mereka semua muslim, kecuali oranglom atau belom dan orang Sekah (akan dibahas lebih lanjut nanti)—mereka tetap sangat menikmati melafalkan ayat-ayat Arab dari Al-Quran, yang tentu …

See also  11 Juli 1668, Sang undercoopman, Jan de Harde, dengan kapal Zandtlooper, menyelidiki Pulau Bangka.

Halaman 15
juga Surouw (masjid kecil) dan pemimpin spiritualnya sendiri (Katieb, Bilal, atau Imam).

Selama saya tinggal di Bangka, seorang warga Madura berkeliling di sana. Ia telah memperoleh fanatisme yang cukup besar di Palembang dan mengaku telah tujuh kali pergi ke Mekah, sehingga ia dianggap sebagai seorang suci yang tidak menginginkan apa pun untuk dirinya sendiri sebagai imbalan atas semua ceramahnya yang mencerahkan, namun bersedia mengumpulkan sumbangan untuk makam suci Nabi Muhammad SAW.

Akibatnya, ia membawa beberapa ribu gulden dari penduduk Bangka yang miskin, yang kemudian akan ia buktikan dengan bukti-bukti yang diperlukan dari Tanah Suci, bukti-bukti tersebut tersedia di Singapura dengan harga murah.

Orang itu diangkut dari satu daerah ke daerah lain oleh penduduk setempat secara gratis dengan penghormatan setinggi-tingginya, dan ceramahnya dihadiri oleh banyak orang, bahkan wanita.

Salah satu administrator mengirim mata-mata setiap malam, yang dipercayanya, untuk menghadiri ceramah-ceramah tersebut; namun, dari hal ini tidak tampak bahwa ia menentang pemerintah, sehingga ia diizinkan untuk pergi dengan tenang.

Oleh karena itu, ia tidak menimbulkan kerugian lain selain menipu penduduk Bangka yang miskin dan sedikit mengobarkan api fanatisme. Bukan dia, melainkan para pengikutnya, yang juga menjual beberapa barang sakral untuk mendapatkan uang.

Namun, kembali ke pekerjaan masyarakat Bangka, fenomena yang terjadi di sini adalah bahwa perempuan harus melakukan sebagian besar pekerjaan dan melakukannya dengan sukarela, selama mereka dipaksa untuk melakukannya sesuai dengan adat; tetapi ketika mereka mampu membebaskan diri dari hal ini karena keadaan yang menguntungkan, mereka jauh melampaui laki-laki dalam hal kelambatan.

Namun, adat sekarang adalah bahwa perempuan bangun pukul satu pagi dan pergi ke ladang huma untuk mengolah padi yang dibutuhkan untuk hari itu menjadi beras; jarang sekali seseorang menumbuk padi lebih dari satu kali untuk satu kali panen.
(Bersambung)

See also  11 April, Letusan Gunung Tambora Di Sumbawa, Sampai Ke Pulau Bangka.

Foto : Twee jongetjes langs een weg te Soengeiliat op Banka. Ca 1900-1922
Sumber : Rijksmuseum.nl. Pewarnaan AI

Catatan : J. E. Teijsmann atau Johannes Elias Teijsmann adalah seorang ahli botani berkebangsaan Belanda yang lama mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan botani dan pertanian di Hindia Belanda (Indonesia).

Comments

comments