214 Tahun Lalu, Armada Inggris Berlindung Di Pulau Nangka (2-8 April 1812).

1
IMG_20260402_060453

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP*)

Kapitulasi Tuntang yang ditandatangani tanggal 18 September 1811 merupakan akhir kekuasaan Francis di Indonesia. Sebelumnya Batavia ditaklukkan oleh Inggris dengan 60 kapal armada angkatan lautnya pada tanggal 4 Agustus 1811.

Thomas Stamford Bingley Raffles yang pada bulan Oktober 1810 diangkat sebagai Agent to Governor General Inggris berkedudukan di Pulau Penang memang ingin menguasai Semenanjung Malaya dan wilayah Hindia Belanda termasuk di dalamnya Pulau Bangka karena kekayaan dan pentingnya kedudukan Pulau Bangka sebagai batu loncatan untuk menguasai Pulau Sumatera.

Pada bulan November 1811, Raffles mengirim utusan ke Palembang untuk mengurus pengambilalihan Kantor Dagang Hindia Belanda, mengatur mekanisme monopoli perdagangan Timah di Pulau Bangka serta pengambilalihan kekuasaan atas pulau Bangka sesuai dengan isi dalam Kapitulasi Tuntang.

Tiga hal yang akan dilakukan oleh utusan Raffles kemudian ditolak oleh Sultan Mahmud Badaruddin II dengan alasan, bahwa sebelum Kapitulasi Tuntang ditandatangani, kekuasan Belanda sudah terusir dari Kesultanan Palembang Darussalam. Kesultanan Palembang Darussalam dan Pulau Bangka sudah menjadi wilayah yang bebas dan merdeka dari kekuasaan Belanda dan kekuasaan manapun sejak tanggal 14 September 1811.

Pembunuhan terhadap orang-orang Belanda dan penolakan Sultan Mahmud Badaruddin II terhadap isi Kapitulasi Tuntang menyebabkan Thomas Stamford Bingley Raffles marah.
Pada tanggal 20 Maret 1812 diberangkatkan pasukan Inggris dari Batavia dipimpin oleh Jenderal Robert Rollo Gillespie untuk menaklukkan Kesultanan Palembang Darussalam.

Pasukan Inggris yang terdiri Tujuh kapal perang dan Satu kapal logistik yang mengangkut Delapan kompi senapan, satu kompi pasukan berkuda dari Madras, satu detasemen artileri dan satuan logistik serta diperkuat dengan pasukan yang ditempatkan di Bangka di bawah kapten Maijers (Meares). Induk armada ini berangkat dari Batavia menempuh beberapa hari perjalanan dan karena cuaca buruk musim angin Barat, pada Tanggal 2 dan 3 April 1812, pasukan Inggris terpaksa berlabuh di Pulau Nangka di Selat Bangka selama satu Minggu (Sujitno,2011:192).

See also  Mengenal Syaikh Abdurrahman Siddik, Tokoh Penyebaran Agama Islam di Pulau Bangka

Setelah menginap seminggu di Pulau Nangka, pasukan berangkat menuju Palembang, dan pada tanggal 9 April 1812, sebelum memasuki muara Sungsang pasukan dihantam badai yang menyebabkan beberapa kapal rusak dan bahkan ada yang tenggelam.

Pada tanggal 20 April 1812 pasukan Inggris memasuki muara Sungai Musi dan atas penghianatan yang dilakukan oleh Ahmad Najamuddin (Pangeran Dipati) yaitu saudara Sultan Mahmud Badaruddin II yang berambisi untuk menjadi sultan serta karena lebih unggulnya persenjataan musuh, maka dalam waktu seminggu Palembang jatuh ketangan Inggris.

Jenderal Robert Rollo Gillespie berhasil menguasai Palembang pada tanggal 26 April 1812, selanjutnya pasukan Inggris memasuki Kota Muntok pada tanggal 18 Mei 1812, sementara Sultan Mahmud Badaruddin II berhasil melarikan diri ke Bailangu Muara Rawas untuk kembali menyusun kekuatan.

Pada tanggal 27 April 1812 ditandatangani perjanjian antara Jenderal Robert Rollo Gillespie dengan Ahmad Najamuddin (Pangeran Dipati) yang isinya antara lain, bahwa pulau Bangka dan pulau Belitung menjadi milik Inggris sebagai ganti 24 orang Belanda yang dibunuh, kemudian eksploitasi terhadap Timah di pulau Bangka dan pulau Belitung dilakukan oleh wakil dari Inggris yang berkedudukan di Palembang.

Pada tanggal 18 Mei 1812 berdasarkan pertukaran dalam perjanjian dengan Jenderal Robert Rollo Gillespie, Pangeran Dipati atau Ahmad Najamuddin diangkat menjadi sultan Palembang oleh Pemerintah Inggris.

Sebagai realisasi perjanjian, pada tanggal 20 Mei 1812 Jenderal Robert Rollo Gillespie menguasai Kota Mentok dan memproklamirkan, bahwa Inggris berkuasa atas pulau Bangka serta mengubah nama pulau Bangka menjadi Duke of York’s Island dan nama Mentok diubah menjadi Minto untuk kehormatan bagi Sir G. Elliot Earl of Minto, seorang gubernur jenderal Inggris di India.

See also  Makam Asisten Residen Bangka Di Tengah Jalan Kota Sungailiat.

Sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan diangkat Kapten Mears sebagai Residen yang meliputi pulau Bangka dan daerah Palembang. Pemerintah Inggris di bawah Kapten Mears berusaha membentuk Pax Brittanica dan berusaha untuk menangkap Sultan Mahmud Badaruddin II yang lari ke Bailangu, akan tetapi dalam upaya menangkap Sultan Mahmud Badaruddin II, Residen Meares tertembak di Bailangu dan kemudian meninggal dan dimakamkan di Mentok pada tanggal 16 September 1812.

Kapten Mears kemudian digantikan oleh Mayor William Robison dan selanjutnya Mayor William Robison karena bermasalah dengan Raffles kemudian digantikan oleh Mayor MH Court.

=========
Disalin dari Buku Depati Amir Perjuangan dan Pengabdian Lintas Pulau Tahun 1848-1869, halaman 69-71, Penulis Akhmad Elvian.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments

1 thought on “214 Tahun Lalu, Armada Inggris Berlindung Di Pulau Nangka (2-8 April 1812).

  1. Tài Xỉu MD5 là hình thức cá cược trực tuyến hiện đại, áp dụng công nghệ mã hóa nhằm đảm bảo tính minh bạch và công bằng. Thông qua thuật toán MD5, người chơi có thể dễ dàng kiểm tra kết quả, hạn chế gian lận và nâng cao độ tin cậy khi tham gia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *