22 Mei 1668, Mengaku Raja Bangka dan Belitung, Kiahi Sampoera Meminta Perlindungan VOC.
Admin 22 May 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian *)
Pada abad ke-17 Masehi perusahaan dagang Hindia Timur Belanda atau VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), telah memulai hubungan dan berusaha masuk ke pulau Bangka.
Pada Tanggal 22 Mei 1668 Masehi, seorang yang dipanggil “Sampoera”, menyatakan dirinya menjadi “Raja” Bangka dan Belitung datang di Batavia dan meminta VOC untuk melindunginya. Sampoera menginginkan bantuan VOC melawan Sultan Palembang yang telah berkuasa di pulau Bangka.
Selengkapnya dalam catatan Belanda masa VOC Dagh-Register Tahun 1668-1669 halaman 83, tanggal 22-26 Mei 1668 menyatakan: “Soo arriveert mede hier ter reede van het eylant Banca en voorts tot binnen de rivier een inlants vaertuygh met eenen Keey Sampoera, gebieder ofte Radja over het gemelte eylant ende oock het eylant Blytton, synde volgens syn voorgeven hier verschenen om de Comp te versoecken tot bescherm heer over syne voornoemde landen ende onderdanen”.
Dalam Dagh-Register tanggal 24-30 Juni 1668, halaman 107, VOC kemudian mengutus Jan de Harge dengan kapal de Zandtlooper untuk melihat kemungkinan perdagangan dan kerjasama dengan Raja Bangka, memeriksa dan ingin mendapatkan laporan yang tepat dan benar tentang Raja Sampoera dan keadaan pulau Bangka.
Selanjutnya dalam Dagh-Register, pada tanggal 6-10 Juli 1668 halaman 118, 10d, dinyatakan : nae de middagh hebben haer Ed, de gouverneur generael en de Raeden van India, gemaeckt ende opgereght een onderlingh verbondt ende alliantie met Radja Sampoere, gebieder van de eylanden Bancka ende Bilitongh, waer by gemelte haer Ed beloover denselven Radja Sampoere met syne eylanden ende volckeren te nemen onder de protextie ende bescherminge van de Comp. Radja Sampoere belooft daerentegen de Comp gehou ende getrouw te syn, mitsgaders deselve te erkennen voor syn wettigen schut en bescherm heer, soo langh, als zon en maen sullen schynen, gelyck omstandiger by het gemelte verbondt can werden naegesien, staende onder dato deses, soo in‘t Maleyts, als Duyts, in‘t resolutie boeck ingeschreven ende aldaer oock wederseyts ondertekent ende bekraghtight”.
Maksudnya, bahwa.”Setelah sore itu, Gubernur Jenderal VOC di Hindia, memeriksa dan akan menjalin aliansi dengan Raja Sampoera, (Raja) pulau Bangka dan Belitung, di mana ada laporan tentang Raja Sampoera yang dengan penuh perhatian memohon perlindungan di bawah VOC.
Raja Sampoera, di sisi lain, berjanji untuk setia kepada VOC, dan mengakui hal yang sama untuk perlindungan dan penguasa yang sah, jika matahari dan bulan akan terlihat (saksi), lebih tepatnya laporan perjanjian (kontrak) dapat berdiri di bawah VOC dan dibuat dalam bahasa Melayu, dimasukkan dalam resolusi buku perjanjian dan juga saling menandatangani sebagai kekuatannya.

Pada tanggal 11 Juli 1668, dalam Dagh-Register, halaman 119: 11d, Jan de Harde tiba di Bangka, sesuai dengan perintah untuk menyelidiki dan menyinkronkan pasca perjanjian, serta untuk mendapatkan laporan yang tepat lainnya.
Dengan menggunakan kekuatan maritim yang baik, juga keinginan untuk segera menguasai pulau Bangka; selanjutnya untuk mendapatkan catatan yang baik tentang kekayaan dan potensi yang dimiliki seperti mineral pasir Besi dan sumber kekayaan untuk pendapatan, dll.; kemudian untuk mendengar, dari Raja Bangka orang yang mengakui sebagai penguasa yang sah dan berdaulat dari seluruh pulau (Bangka).
Ternyata setelah diselidiki Dia (Raja Sampoera) tidak memiliki kekuatan apa pun, dan tidak memiliki kendali atas plakat atau perjanjian serta kekuasaan lainnya. Sampoera sama kedudukannya dengan beberapa penguasa Bangka lainnya yang memiliki wilayah kekuasaan kecil di wilayahnya. Dari apa yang diselidiki dan diperiksa pulau ini mengandung mineral dan untuk segera melindunginya.
Dari pulau Bangka penyelidikan dilanjutkan ke pulau Belitung untuk mendapatkan keterangan yang sempurna tentang Raja Bangka Sampoera, seperti pemeriksaan yang telah dilakukan di pulau Bangka.
Kesimpulannya, Jan de Harde, saat kembali, ia menegaskan bahwa meskipun penguasa setempat amat ramah, tetapi pulau Bangka tidak menghasilkan yang berharga bagi VOC. Kesempatan untuk menguasai damar, minyak damar dan kemungkinan juga besi tidak dapat dijadikan alasan untuk bermusuhan dengan Kesultanan Palembang, yang memberikan sumber komoditi jauh bernilai, yaitu Lada. Bangka kemudian diabaikan (Heidhues, 2008:3)
*Keterangan gambar: Replika kapal VOC “Batavia” di Batavia Stad, Lelystad, Belanda. (Wikipedia)
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
