23 Oktober 1820, Batin Ganing di Nyireh Membubarkan Pasukannya dan Persenjataan yang Disiapkan Untuk Bertempur Dibuang ke Sungai Nyireh
Jelajah Bangka 23 October 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Dalam pertempuran di Benteng Pulau Tinggi yang berlangsung sengit pada tanggal 10 Oktober 1820, Raden Kling bersama beberapa orang kerabat dan banyak pasukannya gugur, akan tetapi dalam pertempuran tersebut Raden Ali, putera Raden Kling beserta pengikutnya yang setia berhasil meloloskan diri dari kepungan pasukan militer Belanda.
Mengetahui kekalahan Raden Keling dan pejuang lainnya pada pertempuran di Pulau Tinggi, Batin Ganing yang telah membangun kekuatan bersenjata di Benteng Nyireh mengira, bahwa seluruh pasukan berhasil ditumpas oleh Militer Belanda, maka Batin Ganing sempat berduka dan sempat membubarkan pasukannya serta banyak persenjataan dari pasukannya yang telah disiapkan untuk bertempur dibuang ke Sungai Nyireh.
Selengkapnya berita tentang Batin Ganing di atas ditulis oleh A Meis Kapitein-Adjudant bij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandsche Oost-Indische leger dalam Verhaal Palembangschen Oorlog van 1819-1821:halaman 149:
“Setelah komandan (Letnan Kolonel Keer) menguasai tempat tersebut (benteng Pulau tinggi), Ia segera memerintahkan untuk melakukan pengintaian ke arah Nieri (Nyireh). Melalui pengintaian ini, Ia mengetahui bahwa pada tanggal 23 Oktober 1820 Batin Ganing, kepala daerah di sana, setelah mendengar kabar tentang apa yang menimpa Raden Kling (gugur), dan telah ditinggalkan oleh sebagian besar pengikutnya. Hal itu membuatnya sendiri (Batin Ganing) menjadi sangat patah semangat, sehingga Ia menyuruh agar semua meriam dibuang ke air dan melarikan diri ke dalam hutan bersama sisa pasukannya. Sementara itu, orang-orang Palembang dan orang asing lainnya yang sempat tinggal di Nieri (Nyireh) telah berlayar keluar melalui Sungai Balar.”
Selanjutnya A Meis dalam halaman yang sama melaporkan bahwa:
“Sang Komandan menganggap tindakan mengejar musuh (Batin Ganing dan pasukannya) ke dalam hutan dan belantara akan sangat menghancurkan bagi para pasukan (orang-orang masih ingat betul betapa besarnya kerugian akibat ekspedisi ke Bangkakota di bawah pimpinan Kapten Laemlin). Mengingat jalur (jalan) dari Toboali ke Nieri (Nyireh) sangat buruk dan melelahkan, serta pos ini (benteng di Nyireh) tidak mungkin harus diduduki karena lokasinya yang sulit ditempuh ditambah dengan jumlah prajurit yang sakit sudah sangat banyak, Ia (Letnan Kolonel Keer) tidak melihat adanya manfaat melakukan ekspedisi ke sana (ke Nyireh). Sebaliknya, Komandan percaya bahwa akhir tragis dari Raden Kling (gugur) akan menyadarkan banyak pemimpin dan pengikut pemberontak, dan sekaranglah saatnya untuk kembali merangkul rakyat melalui cara-cara damai.”
(Baca peristiwa Sejarah 17 dan 24 September 1819 di situs Jelajah Bangka).

Komandan pasukan militer Belanda salah perhitungan dan tidak menyadari bahwa dalam pertempuran di Benteng Pulau Tinggi, Raden Ali, putera dari Raden Keling berhasil meloloskan diri dengan beberapa orang pengikut setianya. Raden Ali yang berhasil meloloskan diri ke wilayah Nyireh kemudian bergabung dengan Batin Ganing, kepala rakyat di wilayah Nyireh. Dari wilayah Nyireh inilah kemudian dibangun pusat kekuatan baru untuk menghadapi pasukan Belanda.
Gugurnya Raden Keling menyebabkan Sultan Kesultanan Palembang Darussalam Mahmud Badaruddin II, pada bulan November 1820 mengirimkan saudaranya Raden Badar dengan 5 Perahu besar bersenjata untuk membantu kekuatan bersenjata Raden Ali. Dalam perjuangannya Raden Ali juga mengirimkan perahu dan utusan guna meminta bantuan ke Kesultanan Lingga dan pulau pulau lainnya.
Kesultanan Lingga kemudian membantunya dengan mengirimkan 30 perahu bersenjata yang umumnya berasal dari wilayah Temiang (semasa berdirinya Kesultanan Riau-Lingga Tahun 1824, seluruh gugusan Kepulauan Lingga termasuk Pulau Temiang merupakan bagian integral dari kedaulatan maritim kesultanan yang berpusat di Daik, Pulau Lingga) dan kemudian perahu perahu bersenjata tersebut umumnya ditempatkan di Sungai Nyireh dan Sungai Bangkakota.
Pertempuran sengit berikutnya akan terjadi di Benteng Toboali tanggal 24 Desember 1820.
*Keterangan gambar: Meriam yang tertanam di Nyireh, Sumber: Pamong Budaya Disdikbud Kabupaten Bangka Selatan: Dwikki Ogi Dhaswara dan BPKebudayaan Kepulauan Bangka Belitung.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
