27 Juli 1946: “Wij namen Toboali” (Kami Merebut Toboali) Demikian Tulisan Harian Strijdend Nederland .
Admin 27 July 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Berdasarkan Kajian Sejarah Objek Diduga Cagar Budaya terhadap Gedung Nasional Toboali oleh Akhmad Elvian dan Ali Usman Tahun 2023 sangat jelas, bahwa rakyat Toboali sungguh nyata bersemangat republiken dan Kota Toboali merupakan kota terakhir di Pulau Bangka yang dikuasai kembali oleh militer Belanda pada tanggal 19 Februari 1946.
Berita kemenangan Pasukan Sekutu yang di dalamnya membonceng pasukan NICA Belanda dipublikasikan oleh beberapa media seperti Nieuwe courant (25 Februari 1946), Helmondsche courant (13 April 1946), Nieuwsblad van het Zuiden : dagblad met ochtend- en avond-editie (23 Maret 1946) dan Strijdend Nederland (27 Juli 1946).
Harian Helmondsche Courant menguraikan proses kedatangan militer Belanda di Mentok sampai berhasil menduduki Kota Toboali dengan judul Banka’s Bezetting Door de Stoottroepen.
Pada tanggal 15 Februari 1949, pukul 2.30 pagi, Dua kompi militer Belanda berhasil memasuki dan menguasai Kota Pangkalpinang. Tanggal 18 Februari 1946, militer Belanda melanjutkan perjalanan menuju Kota Koba dan berhasil dikuasai tanpa perlawanan yang berarti. Mereka berhasil memasuki dan menguasai Kota Toboali pada tanggal 19 Februari 1946, jam 3.30 pagi.
Dalam harian Nieuwsblad van het Zuiden: dagblad met ochtend- en avond-editie, dijelaskan lebih dramatis lagi tentang kedatangan tentara sekutu dan NICA ke Toboali: Tanggal 18 Februari 1946 berangkat menuju Toboali melalui Koba. Mereka menghadapi kendala yang cukup merepotkan yakni pohon besar berdiameter 2 meter melintang di jalan dan butuh 2 jam untuk membersihkannya.
Saat memasuki Kota Toboali, militer Belanda disambut orang Tionghoa; orang-orang berlarian di jalan-jalan sambil membawa tombak, pisau, pentungan dan beberapa karabin berkarat dengan bendera Cina. Mereka berhasil menduduki pelabuhan, menahan beberapa orang dan membebaskan banyak tahanan yang dipenjara sebelumnya oleh TRI.

Harian Strijdend Nederland menulis dengan judul “Wij namen Toboali” (artinya Kami Merebut Toboali) untuk menggambarkan keberhasilan memasuki kota Toboali dan disambut oleh orang-orang Tionghoa dengan antusias dan bersahabat
Selengkapnya Harian Strijdend Nederland edisi 27Juli 1946 menulis dengan judul “Wij namen Toboali” (artinya Kami Merebut Toboali): “Wij zullen onze entree in de stad niet licht vergeten, het was een schouwspel dat ons deed denken aan een opstand der hoorigen en lijfeigenen uit den rumoerigen tijd der Middeleeuwen. Met volle snelheid kwamen onze wagens binnenstuiven, gespannen wachtten wij, de wapens gereed tot vuren, op de dingen die komen zouden. En daar had je het! Uit huizen en hutten, uit hoeken en gaten kwamen plotseling kerels en vrouwen de straat op stormen. Zij waren gewapend met hoog opgeheven puntige stokken, speren en dreigende karabijnen of zwaaiden met flikkerende hakmessen en dolken. Op dit tumult remden onze chauffeurs snel af, wij waanden ons verzeild geraakt te midden van een extremistische bende en doken als de bliksem van de wagens. Maar spoedig bleek dat de brullende en als razenden te keer gaande menigte langszij ons niet vijandig gezind was en dat ‘t gejoel en het zwaaien met de opgeheven moordtuigen slechts enthousiaste verwelkoming beteekende. Het was de ondergrondsche beweging der Chineezen van Toboali, die wij voor ons hadden”.
Maksudnya: Kami Merebut Toboali: Kami tidak akan mudah melupakan kedatangan kami di kota itu; pemandangan tersebut mengingatkan kami pada pemberontakan para hamba sahaya dan rakyat kecil dari masa-masa rusuh di Abad Pertengahan.
Dengan kecepatan penuh, mobil-mobil kami meluncur masuk. Sambil bersiaga dengan senjata siap tembak, kami menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan terjadilah! Dari rumah-rumah dan gubuk-gubuk, dari sudut-sudut dan celah-celah, tiba-tiba para lelaki dan perempuan berhamburan ke jalan. Mereka dipersenjatai dengan tongkat runcing yang diangkat tinggi-tinggi, tombak, senapan laras pendek yang mengancam, atau mengacungkan golok dan belati yang berkilauan. Melihat keributan ini, para sopir kami dengan cepat menginjak rem. Kami mengira telah terjebak di tengah gerombolan ekstremis dan seketika itu juga melompat turun dari kendaraan.
Namun, tidak lama kemudian, tampaklah bahwa kerumunan yang menderu-deru dan mengamuk seperti orang gila di dekat kami itu tidak bermaksud memusuhi, dan bahwa sorak-sorai serta lambaian senjata mematikan yang terangkat itu hanyalah bentuk penyambutan yang penuh antusias. Itulah gerakan bawah tanah orang-orang Tionghoa di Toboali yang sedang berhadapan dengan kami.
Direbutnya Toboali oleh Tentara Sekutu dan NICA tidak menyurutkan perlawanan rakyat dan TRI khususnya Kompi Toboali. Upaya merebut kembali Kota Toboali dilakukan oleh 30 TRI yang mendarat di pantai barat pulau Bangka, mereka berusaha menduduki Kota Toboali dan memutus jalan raya menuju Koba. Sebuah patroli militer Belanda bertemu dengan 40 TRI bersenjata di 5 km sebelah timur Tanjung (?), terjadi pertempuran singkat dan akhirnya melarikan diri. Tidak ada korban jiwa di pihak militer Belanda. Sebuah perahu TRI berhasil ditangkap dan menyita sejumlah dokumen di Mentok.
Berita ini dimuat oleh harian Algemeen Handelsblad 27 Februari 1946, Provinciale Drentsche en Asser courant 27 Februari 1946, Trouw 27 Februari 1946, Amigoe di Curacao: weekblad voor de Curacaosche eilanden 27 Februari 1946, Nieuwe Haarlemsche courant 27 Februari 1946, dan Zeeuwsch Dagblad 28 Februari 1946.

Harian Strijdend Nederland pada tanggal 27 April 1946 memuat kisah seorang tentara saat bertugas di Bangka, dari pertempuran di Tanjung Berikat melawan 300 TRI dan mengejar TRI yang melarikan diri sampai di wilayah onderafdeling Toboali. Pertempuran terjadi di wilayah Pemoedas (?) dan Rimboe (?) pada hari ke-4 dengan dukungan Kapal militer HNLMS Willem van de Zaan dari laut. Korban berjatuhan di kalangan TRI dan rakyat setempat, sementara wanita dan anak-anak Indonesia dibebaskan.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.