Bukit, Sungai dan Pulau Disekitar Pulau Bangka serta Tanaman Berkhasiat Dalam Catatan Buddingh (Bagian 2)

Viewfromahillontoanotherwoodedhillcontainingarectangularclearing_20260725_161115_000

Oleh : Meilanto


Setelah menuliskan tentang sejarah Pulau Bangka, Buddingh menuliskan secara detail letak geografis Pulau Bangka. Selain itu ia juga menuliskan nama-nama bukit, sungai dan pulau-pulau di sekitar Pulau Bangka.

Berikut tulisannya yang dikutip Halaman 26-27 pada bukunya yang berjudul NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.

De bodem van Banka, leest men, is rijk in mineralen, en brengt, behalve tin, ook ijzererts voort, hetwelk in het gebergte
van Parmassang en te Pako, Boekiet Palawan g en Balar wordt aangetroffen, en verder lood en koper, terwijl men bij de
Soengi-Dato e aan den voet van den Panjang-berg en bij den Ampara-palawang ook fijn goud, en elders ook amber (1) en arsenicum, gevonden heeft. Ook levert het eiland taroem-aka r of tommenier, d. i. nila of indigo, gambier, lada of peper en notenmuskaat, doch in kleine hoeveelheid, op. Geneeskrachtige kruiden komen er overvloedig voor, en de inlandsehe doekon’s of doktoressen weten die te zoeken en tot artsenij te bereiden. De Rottan-djaranan g of Djarenang (calamus-draco), eeue groote Dringoe – (kalmoes) of rottan-soort, welke veelvuldig in de wouden van Banka , Borneo, en in Palembang en te Moewara—kompé op Sumatr a groeit, levert
de bekende verwstof: draken-bloed of Djaranang. Van de vruchten van dezen Rottan wordt ons berigt, dat ze groen
en druifvormig zijn en als druiventrossen aan de takjes hangen. In rijpen toestand zijn ze donkerrood en laat hare schaal ge-
makkelijk los. Ze zijn dan door eene soort van steik-klevende, donker-roode en doorziglige, doch soms ook zwarte, gom
(getah) omringd of omwikkeld. Door de inlanders geplukt, schudden deze ze aanhoudend en zoo lang in mandjes op en
neder, totdat de gom of verwstof loslaat, welke dan bij drup-pels of bij groote stukken of brokken in de bladeren van
rombi of biezen, of wel, in den vorm van een door warm water toebereid deeg, in bamboezen kokers gepakt, en vooral
naar China wordt uitgevoerd. – (Op Borneo’s westkust zag ik bij Sebawé, op den weg van Sambas naar Seminis, (in de Afdeeling Sambas), eenige schoone goudgele vruchten, als oranje-appelen in het wild groeijen. Mijn toenmalige reisgenoot , de I e
Luitenant der Infanterie KOCH (kommandant van Seminis) en ik plukten en aten er eenigen, die zeer frisch en zoet van smaak waren, doch aan welker dunne en fijne schil zooveel gom zat, dat er aan onze lippen en vingers vele lange gom-draden kleefden, waarvan we ons niet dan
met veel moeite konden ontdoen. Ik weet niet, of misschien deze gom met het zoogenoemde Drakenbloed eenigzins over-
eenkomt, en moet tot mijne schande bekennen dat ik den naam van het gewas vergeten heb, en ook nu niet meer zeggen
kan of die vruchten aan ecne rot tan-soort, of wel aan een liaan of heester groeiden. Ik kan slechts verklaren dat het althans geen groote boom was, die de vruchten droeg.)
(1) Van de amber of den barnsteen wordt gezegd, dat hij een harsachtig overblijfsel is van een uitgestorven soort van coniferen of kegeldragendc boomen, die weleer in bet noordelijk halfrond in groot aantal voorkwamen. Aan de stranden der Oostzee wordt vaak amber aangespoeld of in hare nabijheid opgegraven.

Maksudnya:
Tanah Pulau Bangka, sebagaimana tertulis, kaya akan kandungan mineral. Selain timah, pulau ini juga menghasilkan bijih besi yang ditemukan di pegunungan Parmassang (maksudnya Permisang/ Permisi), serta di Pako, Bukit Palawang, dan Balar.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka, #115, Masjid Ar Raudhah, Ranggas

Selain itu terdapat pula timbal dan tembaga; emas halus pernah didapati di Sungai Datoe di kaki Gunung Panjang serta di Ampara Palawang, sementara di tempat lain juga ditemukan batu damar (1) dan arsenik.
Pulau ini juga menghasilkan tanaman taroem-akar atau tommenier—yakni nila atau indigo—serta gambir, lada, dan pala, meskipun jumlahnya tidak banyak. Tanaman berkhasiat obat tumbuh melimpah di sana, dan para dukun perempuan setempat mengetahui cara menemukannya serta mengolahnya menjadi ramuan penyembuh.

Rotan djarananang atau djarenang (Calamus draco), sejenis rotan besar yang banyak tumbuh di hutan Bangka, Kalimantan, wilayah Palembang, dan Muara Kompe di Sumatera, menghasilkan bahan pewarna yang sangat dikenal: darah naga atau djaranang. Dikabarkan buah rotan ini berbentuk seperti anggur berwarna hijau saat muda, menggantung bergerombol pada rantingnya. Saat matang warnanya berubah menjadi merah gelap, dan kulitnya mudah terkelupas. Buah ini diselimuti oleh getah atau gom berwarna merah gelap, agak bening namun kadang berwarna hitam, yang lengket seperti lem. Penduduk setempat memetik buah tersebut, lalu mengibas-kibasnya berulang kali di dalam keranjang hingga getah atau bahan pewarna itu terlepas. Getah yang terkumpul, baik berupa butiran, gumpalan besar, maupun adonan yang telah dicampur air hangat, kemudian dibungkus daun rumbia atau alang-alang, atau dimasukkan ke dalam tabung bambu, dan sebagian besar diekspor ke Tiongkok.

(Di pesisir barat Kalimantan, tepatnya di Sebawé, di jalur perjalanan dari Sambas ke Seminis (Karesidenan Sambas), saya pernah melihat buah berwarna kuning keemasan yang indah tumbuh liar menyerupai buah jeruk. Rekan perjalanan saya saat itu, Letnan Satu Infanteri KOCH (Komandan Seminis), dan saya memetik serta memakan buah tersebut; rasanya sangat segar dan manis. Namun kulitnya yang tipis dan halus ternyata mengandung begitu banyak getah, hingga benang-benang getah yang panjang menempel pada bibir dan jari kami, yang sulit sekali kami lepaskan. Saya tidak tahu apakah getah ini ada hubungannya dengan apa yang disebut darah naga tersebut. Dan saya harus mengaku malu karena telah melupakan nama tanaman itu, serta tidak dapat memastikan lagi apakah buah itu tumbuh pada sejenis rotan, tanaman merambat, atau semak belukar. Yang dapat saya nyatakan hanyalah bahwa tanaman penghasil buah tersebut sama sekali bukan pohon yang besar.)

See also  Benteng di Merawang.

(1) Mengenai batu damar atau batu ambar, dikatakan bahwa ia merupakan sisa-sisa getah yang membatu dari jenis tumbuhan runjung atau pohon berbuah kerucut yang kini telah punah, yang pada masa lampau tumbuh sangat banyak di belahan bumi utara. Di pesisir Laut Baltik, batu ambar sering kali terbawa arus ke darat atau ditemukan terkubur di wilayah sekitarnya.


Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments