3 Oktober 1925, Suster-suster Pemeliharaan Ilahi tiba di Kota Mentok

20261003_082243

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Misi awal penyebaran agama Katolik di Kota Mentok dipimpin oleh para misionaris perdana dari kongregasi SSCC, yang datang dan mendarat di Kota Mentok pada tanggal 14 Agustus 1924. Kota Mentok pada saat itu menjadi kota pusat penambangan Timah di Keresidenan Bangka atau pusat perusahaan penambangan Timah Belanda Bankatinwinning.

Mereka yang mendarat di Kota Mentok pada waktu itu adalah Prefekt Apostolik Mgr Herckenrath (tanggal 27 Desember 1923 Bangka, Belitung dan Riau menjadi Prefektur sendiri yang dipercayakan kepada Pastor Hati Kudus Yesus dan Maria) bersama dengan pastor Marcellinus van Soest, pastor Isfridus Meyer, bruder Antonius Bruijns dan bruder Gerard Jeanson.

Kongregasi SSCC (singkatan dari bahasa Latin: Sacrorum Cordium) adalah Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria dan Sembah Sujud Kekal kepada Sakramen Mahakudus di Altar. Merupakan kelompok religius dalam Gereja Katolik Roma yang terdiri dari tiga komponen, yaitu biarawan (imam/bruder), biarawati (suster), dan kaum awam.

Kedatangan mereka dijemput oleh seorang Belanda yang bernama tuan Schreiner (dalam Majalah Berkat Edisi Khusus September 1974, halaman 18 dinyatakan bahwa: “tuan Schreiner menjabat sebagai seorang guru agama dan dari suatu daftar bahwa di Mentok sudah berada 70 orang katolik. Kronik-kronik paroki Mentok tidak menjelaskan entah orang-orang Katolik ini orang Blanda, entah orang Tionghoa, entah suku Iain. Mungkin jumlah itu terdiri dari beberapa golongan, bangsa. Bagaimanapun juga, jumlah itu menggembirakan para missionaris sehingga Monseigneur berjanji akan didirikan selekas mungkin sebuah gereja di Mentok”).

Secara resmi stasi Paroki/Stasi Mentok (St. Perawan Maria Pelindung Para Pelaut) berdiri pada tanggal 2 Oktober 1925, dipimpin oleh Isfridus Meyer, SSCC (sering hanya disebut Pastor Meyer, ia sempat ditugaskan menjadi pastor paroki dan guru di Stasi Sambong) dan dibantu oleh suster suster pemeliharaan Ilahi berjumlah Delapan orang, yang berangkat dari Amsterdam pada tanggal 29 Agustus 1925 dengan kapal laut Johan De Wit dan tiba pada tanggal 3 Oktober 1925 serta disambut dengan meriah di Kota Mentok pada tanggal 4 Oktober 1925.

See also  30 September 1919, Keputusan Directeur Binnenlands Bestuur, Nomor 2615/Btg, ditetapkan sebagai batas Ibukota Pangkalpinang

Suster suster kemudian mulai dengan mengelola Hollandsch-Chineesche School (HCS) Santa Maria, selanjutnya seiring berkembangnya jumlah murid yang datang dari luar kota, para suster mulai membuka asrama putri (internaat) untuk menampung mereka.

Misi Katolik di Kota Mentok terus berkembang dengan merintis pendirian Gereja Katolik seperti perencanaan dan persiapan lahan sudah dimulai sejak Tahun 1931. Berdasarkan prasastinya Gereja kemudian selesai atau diresmikan tanggal 14 Februari 1932. Peran dari Mgr. Vitus Bouma yang tiba di Pulau Bangka pada tahun 1927 dan secara resmi menggantikan posisi Mgr Herckenrath sebagai Prefek Apostolik pada tahun 1928 dalam Pembangunan gereja.

Di bawah kepemimpinannya, Gedung fisik Gereja Katolik Mentok yang ikonik (arsitektur Fermont-Cuypers) berhasil diselesaikan dan diresmikan pada 14 Februari 1932. Ia juga memindahkan pusat misi Gereja Katolik ke Kota Pangkalpinang dan mendirikan tarekat suster lokal pertama (KKS) pada tahun 1937.

Gereja Katolik Mentok dirancang oleh biro arsitek terkenal era kolonial, Fermont-Cuypers. Nama resminya N.V. Architecten-Ingenieursbureau Fermont-Cuypers, satu biro arsitek dan insinyur paling produktif serta berpengaruh di era kolonial Hindia Belanda. Beroperasi secara aktif dengan nama ini sejak tahun 1927 dan telah merancang lebih dari 70 bangunan penting yang kini menjadi landmark bersejarah di berbagai kota besar di Indonesia termasuk Kompleks Sekolah Canisius (1930) di Batavia dan Sekolah serta Kompleks Biara Santo Yosef Lahat, Sumatera Selatan.


*Ilustrasi Gambar Kedatangan Suster-suster Pemeliharaan Ilahi tiba di Kota Mentok di kapal laut “Johan de Wit“, Sumber Majalah Berkat Edisi Khusus September 1974, Halaman 45

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Related Images:

Comments

comments