31 Oktober 1819, Pandangan Komisaris Jenderal Herman Warner Muntinghe Mengenai Pemindahan Pusat Pemerintahan dari Bangka ke Palembang
Jelajah Bangka 31 October 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Mencermati laporan Herman Warner Muntinghe (selanjutnya ditulis Muntinghe), seorang Commissarissen-Generaal dalam Administrasi Pemerintahan Hindia Belanda, setelah masa peralihan kekuasaan dari Pemerintah Inggris ke Pemerintah Belanda (sesuai dengan Traktat London), bahwa dalam laporannya tertanggal 31 Oktober 1819, Muntinghe mengemukakan beberapa pandangan mengenai Pulau Bangka dan Pulau Belitong.
Muntinghe menganggap penting untuk memindahkan pusat pemerintahan wilayah tersebut ke Palembang (masa Inggris stempel Residen Inggris bertuliskan Residentie Bangka Palembang). Alasan Muntinghe karena di satu sisi, wilayah Palembang akan menjadi semakin penting.
Sementara itu, Pulau Bangka hanyalah sebuah tempat yang keuntungan kekayaannya terbatas, mengingat wilayah pertambangan terbaik di sana akan kehilangan depositnya setelah sekitar 50 tahun, dan jangka waktu untuk membuka tambang-tambang (Timah) baru juga tidak dapat diperkirakan akan berlangsung lama.
Sementara Palembang, jika wilayah tersebut dalam jangka panjang tetap bernaung di bawah mahkota Belanda, Palembang akan menjadi satu aset yang nilainya pasti meningkat dari tahun ke tahun dan dalam jangka panjang nilainya melampaui perkiraan pasti.
Muntinghe telah mengisyaratkan bahwa budaya ekstraktif di Pulau bangka dengan mengeruk Timah di perut bumi, adalah sistem berpikir dan budaya yang menempatkan alam serta ruang hidup manusia hanya sebagai komoditas yang bisa diperas habis demi keuntungan finansial jangka pendek, sementara sektor Pertanian dan Perkebunan sebagaimana pada laporan akhir Muntinghe akan menjadikan Palembang sebagai aset yang nilainya pasti meningkat dari tahun ke tahun dan dalam jangka panjang.
Mengenai Pulau Belitong, Muntinghe menyatakan tetap memperhitungkan apa yang telah disampaikan oleh Gubernur Jenderal terkait perundingan dengan Inggris (Belitong belum diserahkan Inggris ke Belanda setelah Traktat London).
Selanjutnya Muntinghe menganggap pengosongan atau pendudukan pulau Belitong terlebih dahulu sebagai hal yang sangat mendesak, sebab, bukan tidak mungkin, seperti yang Ia laporkan pada tanggal 18 Agustus 1818 kepada Wolterbeek, “bahwa Tuan Raffles (Residen Bengkulu) sewaktu-waktu dapat mengerahkan kapal fregat atau kapal lain yang kaptennya dapat dihasut untuk menancapkan Bendera Inggris di sana. Peristiwa semacam itu pasti akan kembali memicu pergolakan, baik di Palembang maupun di Bangka.”

Karena saat itu tidak ada pasukan pendudukan yang tersedia (di Pulau Belitong), Muntinghe menulis kepada pemerintah (di Batavia) bahwa Ia memanfaatkan tawaran dari seorang kepala rakyat setempat di Pulau Belitong, yaitu Raden Badar. Atas nama Komisaris, namun murni hanya didukung oleh masyarakat pribumi, Raden Badar ditugaskan untuk mengibarkan Bendera Belanda di sana.
Karena Raden Badar adalah saudara kandung dari Raden Kling, yang di masa pemerintahan Inggris telah membunuh Inspektur Brown (di distrik Toboali). Komisaris menilai hal ini menjadi jaminan bagi pihak Belanda bahwa Raden Badar pasti akan mencegah penancapan Bendera Inggris di sana.
Laporan Muntinghe tanggal 31 Oktober 1819 juga membahas secara rinci mengenai pendapatan negara. Laporan itu menyajikan gambaran masa depan yang baik, yang dikemudian hari ternyata sangat meleset dari kenyataan.
Di dalam laporannya Muntinghe juga mengajukan permintaan untuk mendatangkan beberapa tokoh dari Jawa, mantri, atau kerabat bupati yang cakap untuk mengajarkan cara bertani orang Jawa kepada masyarakat Palembang, membantu mempromosikan penggunaan bajak dan cangkul, serta membantu dalam pembukaan kebun kopi, sawah, dan pekerjaan umum.
Selengkapnya pandangan Komisaris Herman Warner Muntinghe mengenai pemindahan pusat pemerintahan dari Bangka ke Palembang.dapat dipelajari pada buku Palembang En Banka in 1816-1820, door P. H. Van Der Kemp, Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1900 halaman 430, 431.
*Keterangan gambar:
Cap Keresidenan Bangka-Palembang masa Inggris, Sumber Malay Seals from the Islamic World of southeast Asia, Annabel The Gallop, 2019
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
