30 Oktober 1854, Dr. S.A. Buddingh Tiba di Mentok dari Pangkalpinang, Menulis Tentang Karakter Orang Bangka dan Kota Mentok

Rumah Cina

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Dalam lawatannya di Keresidenan Bangka pada Tahun 1854, Dr. S.A. Buddingh banyak menulis tentang kondisi pulau Bangka dengan berbagai aspeknya. Budding juga mencatatat bagaimana karakter Orang Bangka secara umum yang dijumpai dan dipelajarinya selama perjalanan.

Setelah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dari Pangkalpinang melewati beberapa kampung, pada pagi hari antara pukul 10 hingga 10.30 tanggal 30 Oktober 1854, Buddingh, tiba di Kota Mentok disambut dengan ramah oleh Residen Bousquet (Abraham Marie Bousquet menjabat sebagai Residen Bangka ke-13).

Dr. S.A. Buddingh, dalam bukunya: Neerlands-Oost-Indie Reizen Over Java, Madura, Makasser, …., Banka, …; gedaan gedurende het tijduak nan 1852-1857 halaman 73,74 dan 75, yang saya diterjemahkan secara bebas, menyatakan, bahwa Orang Bangka memiliki watak baik, lembut, ramah, suka menolong, komunikatif, patuh, jujur, bersahaja, dan penurut atau mudah dibimbing, namun di samping itu sangat penakut dan percaya akan takhayul.

Pakaian mereka, begitu pula cara hidup mereka, sangatlah sederhana. Orang Gunung atau Orang Darat disebut juga oleh Buddingh dengan sebutan “Orang Bintarang” karena ada Orang Darat yang bekerja menebang kayu dan membuat arang (kayu dibutuhkan untuk membangun rumah kepung atau bedeng pekerja dan keperluan di Parit penambangan Timah dan arang digunakan untuk bahan utama dalam peleburan Timah di Tanur Cina).

Orang Darat juga mengumpulkan hasil hasil hutan, berburu hewan di hutan seperti Rusa, pencari lilin dan madu, dll., mereka sering kali hanya mengenakan selembar pakaian dari kulit kayu, terkadang juga dengan baju luar tanpa lengan atau rompi dari bahan yang sama (kulit kayu). Khusus mereka yang lebih kaya mengenakan sarung berbahan katun, celana panjang, baju luar, dan dengan ikat kepala khas Melayu. Para wanita juga berpakaian cara Melayu, yaitu mengikuti kebiasaan wanita Melayu umumnya, dan mereka memanjangkan rambutnya, sedangkan para pria memotong pendek rambut mereka.

See also  5 Juni 1949, Moh Roem Kembali Ke Bangka Bertemu Dengan Mohd. Hatta yang Akan Berangkat ke Kotaraja Aceh.

Bahwa orang Bangka adalah termasuk Orang Melayu dapat dengan mudah dilihat dari wajah mereka, perawakan yang sedang, bentuk tubuh yang ringan (ramping), dan dari warna kulit tubuh yang cokelat tua. Mereka menganut Islam, namun alih-alih rasa hormat (kurang taat), mereka memiliki keengganan terhadap para pemuka agama Islam. Masjid hanya dapat ditemukan di ibukota distrik, tidak dijumpai di kampung-kampung. Di Kota Mentok ada Satu masjid. Kepala Penghulu atau ulama di Mentok adalah Abang Abdoel Ranie, dan Demang atau Kepala Distrik Mentok, adalah Hadjie Abdoel Rachman, mereka adalah muslim yang taat, sementara penduduk bumiputera kebanyakan tampaknya kurang menunjukkan semangat keagamaan. Kurangnya ketertarikan orang Bangka terhadap agama Islam, ditambah dengan apa yang bisa disebut sebagai moralitas “bawaan” mereka, watak yang baik, dan budi pekerti yang lembut, pada tahun 1854 memunculkan gagasan dalam Laporan Gereja, apakah mungkin karya Penginjilan dapat dicoba di Keresidenan Bangka dengan hasil yang baik (Dr. Steven Adriaan Buddingh adalah seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19).

Buddingh harus tinggal beberapa hari di ibukota Mentok, dan memiliki kesempatan untuk melihat dan mendengar beberapa hal mengenai kota yang sebenarnya dan daerah sekitarnya. Ketika orang Inggris, di bawah Jenderal Gillespie, menduduki Bangka pada tahun 1812, mereka menyebut kota tersebut “Minto” untuk menghormati Gubernur Jenderal India Britania, Lord Minto.

Mereka mendirikan ibukota mereka pertama kali di Tanjong-Kaléan (Tanjung Kalian) di sebelah barat daya Mentok. Buddingh sempat berjalan-jalan keliling kota melewati sejumlah jalan dan gang, kemudian mengunjungi kawasan Pecinan yang dibelah oleh sungai yang dangkal.

Selain Kelenteng Tionghoa ada rumah yang lebih besar milik Kapitan dan Letnan Tionghoa Tan Khe dan Lim Boesing, di kawasan ini terdapat beberapa rumah Tionghoa yang bagus yang dibangun dari tanah liat. Kemudian Buddingh juga melewati pasar, dan tiba di kampung orang Melayu dan kawasan orang Keling, Arab, dan Moor. Lebih jauh lagi, Buddingh melihat barak untuk para pelaut pribumi, galangan kapal, meriam pantai (benteng pertahanan pantai), tempat penumpukan kayu, dan reruntuhan bekas benteng Seriboe.

See also  Sejarah PDAM Pangkalpinang di Gunung Mangkol (Bagian 3)

Kota Mentok secara umum terlihat bagus dan ditata dengan teratur, dan terutama pemukiman Tionghoa yang memiliki penampilan yang makmur, namun para penduduknya membuang begitu banyak sampah ke dalam sungai, sehingga sungai ini hampir selalu menyebarkan bau yang tidak sedap di sekitarnya.


*Keterangan gambar:
De Chinese toko van Lim Pit Boe Sing te Muntok, ca. 1900 (toko/rumah kediaman Tionghoa milik Lim Pit Boe Sing di Muntok sekitar tahun 1900), koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde).

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

Comments

comments