Daftar Burung yang Tercatat dari Pulau Bangka (Bagian 9)

Paruh tong²

Editor: Meilanto

Dikutip dari buku A List of the Birds Recorded from Bangka Island, Indonesia, karya G. F. Mees (1986).


Selain di Bangka, Leptoptilos javanicus juga tercatat di Pulau Belitung. Catatan pertama mengenai keberadaan burung ini di Belitung dibuat oleh Vorderman (1890: 518), kemudian disusul oleh Chasen (1937a: 213).

Dua butir telur yang tersimpan dalam koleksi kami membuktikan bahwa spesies ini merupakan penghuni tetap Pulau Belitung, sebagaimana halnya di Bangka. Kedua telur tersebut dikumpulkan di muara Sungai Brang, Belitung bagian barat, pada 15 Mei 1936 oleh F. J. Kuiper (RMNH no. 60296). Ukuran masing-masing telur adalah 71,1 × 52,7 mm dan 72,1 × 53,6 mm.

Dendrocygna javanica (Horsfield)

Anas javanica Horsfield, 1821, Transactions of the Linnean Society of London 13: 199. Lokasi tipe: Jawa.

Spesimen: Dikumpulkan pada 24 Desember 1872 oleh Vosmaer (RMNH, nomor katalog 16) dan 19 Februari 1873 oleh Vosmaer (RMNH, nomor katalog 17).

Accipiter gularis gularis (Temminck & Schlegel)

Astur (Nisus) gularis Temminck & Schlegel, 1844, Fauna Japonica, Aves: 5, pl. II. Lokasi tipe: Jepang.

Spesimen:

  • Tahun 1869–1872, dikumpulkan oleh Teysmann (RMNH, nomor katalog 15a).
  • 20 Oktober 1872, dikumpulkan oleh Vosmaer (RMNH, nomor katalog 11).
  • 1 November 1872, dikumpulkan oleh Vosmaer (RMNH, nomor katalog 12).

Haliastur indus intermedius Blyth

[Haliastur] intermedius Blyth, 1865, Ibis (seri baru) 1: 28 Lokasi tipe: Jawa.

Spesimen:

  • Tahun 1859–1861, dikumpulkan oleh v.d. Bossche (RMNH, nomor katalog 12).
  • November 1866, dikumpulkan oleh Buddingh’ (RMNH, nomor katalog 14).
  • 13 Oktober 1872, dikumpulkan oleh Vosmaer (RMNH, nomor katalog 28).

Spizaetus cirrhatus limnaeetus (Horsfield)

Falco limnaeetus Horsfield, 1821, Transactions of the Linnean Society of London 13: 138. Lokasi tipe: Jawa, bagian selatan pulau.

Spesimen: Dikumpulkan pada 17 Agustus 1872 oleh Vosmaer (RMNH, nomor katalog 20).

Spizaetus nanus Wallace

Spizaetus nanus Wallace, 1868, Ibis (seri baru) 4: 14, pl. I. Lokasi tipe: Kalimantan, Sarawak (lihat Warren, 1966).

Turnix suscitator

Turnix suscitator baweanus Hoogerwerf, 1962, Ardea 50: 199 Lokasi tipe: Muara, Bawean bagian selatan.

Spesimen: Dikumpulkan oleh Teysmann pada 1869–1872 (RMNH, nomor katalog 10); oleh Vosmaer pada Oktober 1872 (RMNH, nomor katalog 9); serta oleh Hagen pada pertengahan Mei 1905 di Persimpangan (ZSM).

Ketika Chasen (1937a) mendeskripsikan T. s. kuiperi, ia tampaknya belum menyadari besarnya variasi individu dalam warna bagian atas tubuh burung ini.

Dua spesimen dari Belitung yang tersimpan dalam koleksi kami, salah satunya merupakan spesimen tipe kuiperi (RMNH no. 14029), memiliki warna abu-abu yang sangat ekstrem, menyerupai burung-burung dari Jawa dan Sumatra. Namun, tidak ditemukan bukti bahwa keduanya berada di luar rentang variasi ras nominatif.

See also  Sejarah PDAM Pangkalpinang di Gunung Mangkol (Bagian 8)

Koleksi kami juga menyimpan dua spesimen paratipe T. s. baweanus Hoogerwerf (RMNH no. 27865 dan 27866), yang diduga merupakan bentuk endemik Pulau Bawean.

Berbeda dengan pendapat Hoogerwerf (1962a), menurut pengamatan saya, dari segi pola bulu, kedua spesimen tersebut sangat sesuai dengan rangkaian besar spesimen T. s. suscitator nominatif dari Jawa.

Hoogerwerf juga menekankan bentuk paruh yang ramping sebagai salah satu ciri penting burung dari Bawean. Namun, pada spesimen betina, bentuk paruhnya tidak berbeda dari rata-rata paruh betina asal Jawa.

Sementara itu, paruh spesimen jantan ternyata mengalami perubahan bentuk akibat proses preparasi. Rahang bawahnya tertarik ke belakang sekitar dua hingga tiga milimeter dari posisi alaminya, sehingga rahang atas tampak menonjol, ramping, dan menyerupai kait.

Lebih jauh lagi, bagian ujung rahang bawah sebagian terdorong masuk ke dalam rongga rahang atas. Akibatnya, keseluruhan paruh tampak lebih ramping, padahal bentuk tersebut sepenuhnya merupakan hasil perubahan saat proses pengawetan spesimen.

Berdasarkan pengamatan tersebut, saya tidak ragu menempatkan T. s. baweanus sebagai sinonim dari T. s. suscitator. Dengan demikian, bentuk yang sebelumnya dianggap sebagai subspesies tersendiri dari Pulau Bawean tidak perlu dipisahkan dari ras nominatif yang terdapat di Jawa.

Amaurornis phoenicurus chinensis (Boddaert)

Fulica chinensis Boddaert, 1783, Table des Planches Enluminées: 54. Lokasi tipe tidak diketahui, kemungkinan Cina.

Spesimen: November 1904, Selat Bangka, dikumpulkan oleh Buitendijk (RMNH, nomor katalog 39).

Telah lama diketahui bahwa populasi A. phoenicurus di bagian utara wilayah persebarannya melakukan migrasi. Pada musim dingin, burung-burung migran tersebut muncul di Semenanjung Malaya dan Sumatra, bercampur dengan populasi yang menetap di wilayah tersebut (lihat Chasen, 1935b: 27, catatan kaki 3).

Bukti mengenai fenomena ini di Semenanjung Malaya kemudian dirangkum oleh Medway & Wells (1976: 131).

Kondisi saat spesimen Buitendijk diperoleh menjadi petunjuk penting. Burung tersebut ditangkap ketika sedang terbang di atas kapal. Selain itu, panjang sayapnya mencapai 158 mm, ukuran yang sangat besar untuk betina dari populasi yang menetap. Kedua hal ini mengindikasikan bahwa spesimen tersebut merupakan burung migran.

Burung-burung yang menetap selama ini dikenal dengan nama javanicus, sedangkan populasi migran yang memiliki sayap lebih panjang disebut chinensis. Namun, menurut Ripley (1977b: 264), kedua nama yang telah lama digunakan tersebut sebenarnya merupakan sinonim dari ras nominatif, yang lokasi tipenya berada di Ceylon (Sri Lanka).

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #95, Masjid Al Hidayah, Cambai.

Ripley mencatat variasi panjang sayap, khususnya pada burung jantan, berkisar antara 144–187 mm. Angka tersebut kemungkinan disalin dari Stresemann (1913a: 303–305). Rentang variasi ini jauh lebih besar daripada yang sewajarnya ditemukan pada suatu populasi yang relatif homogen.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pengukuran yang lebih teliti terhadap sejumlah besar spesimen mungkin dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai variasi geografis spesies ini.

Junge (1936: 5) sebelumnya telah menyajikan hasil pengukuran spesimen dalam koleksi kami yang berasal dari beberapa pulau. Namun, sejak saat itu, koleksi tersebut terus bertambah. Karena itu, saya kini dapat menyajikan hasil pengukuran dari rangkaian spesimen yang jauh lebih besar.

Pertanyaan pertama yang perlu dijawab adalah apakah burung-burung bersayap panjang, seperti spesimen yang ditemukan di Selat Bangka, benar-benar merupakan burung migran, atau justru masih termasuk dalam rentang variasi populasi yang menetap di Kepulauan Sunda.

Hasil pengukuran tersebut dirangkum dalam Tabel 1.

Perlu diperhatikan bahwa panjang sayap dari 25 spesimen asal Sumatra, Jawa, dan Bali berkisar antara 134–148 mm. Sementara itu, panjang sayap maksimum dari keseluruhan 298 spesimen mencapai 154 mm.

Ada dua spesimen dari Sumatra yang menunjukkan ukuran jauh lebih besar, yakni spesimen dari Kalung, Padang, yang dikumpulkan pada 5 Desember 1913 (RMNH nomor katalog 50) dengan panjang sayap 157 mm, serta spesimen dari Medan, yang dikumpulkan pada 20 November 1914 (RMNH nomor katalog 134) dengan panjang sayap 162 mm.

Kedua spesimen tersebut, bersama burung yang ditangkap di Selat Bangka, memiliki ukuran jauh lebih besar dibandingkan spesimen lain dari jenis kelamin yang sama. Oleh karena itu, ketiganya dapat dianggap sebagai burung migran.

Tidak diragukan lagi bahwa rangkaian spesimen dari Ceylon mencakup dua kelompok populasi, yaitu burung yang menetap dan burung migran. Kelompok migran memiliki ukuran tubuh yang lebih besar, sebagaimana terlihat dari pengukuran panjang sayap berikut.

Pada spesimen jantan, panjang sayap tercatat masing-masing 151, 153, 154, 156, 157, 157, 157, 158, 165, 166, dan 169 mm.

Sementara itu, pada spesimen betina, panjang sayapnya adalah 140, 143, 147, 147, 150, 150, 151, 152, 153, 155, dan 159 mm.

Tiga spesimen jantan berukuran besar tersebut dikumpulkan pada 14 Januari 1922, 16 Maret 1889, dan 4 Desember 1915.

See also  Buddingh ke Palembang

Spesimen yang dikumpulkan pada bulan Desember merupakan seekor jantan muda dengan panjang sayap 169 mm. Burung tersebut diperoleh Buitendijk di Kolombo. Seluruh spesimen yang dikumpulkan oleh Buitendijk diperoleh ketika ia berada di atas kapal. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa burung-burung tersebut merupakan migran.

Pada spesimen betina, keberadaan dua kelompok populasi tidak begitu jelas. Namun, spesimen terbesar yang dikumpulkan pada 22 Januari 1922 kemungkinan juga merupakan burung migran.

Berbeda dengan Ripley, saya menganggap bahwa subspesies chinensis dan javanicus tetap penting untuk diakui. Di wilayah Malaysia, kedua bentuk tersebut dapat dibedakan dengan cukup jelas.

Meski demikian, saya menyadari bahwa di daratan Asia bagian selatan dan timur, percampuran antara ras nominatif, chinensis, dan javanicus kemungkinan telah berlangsung sangat luas.

Catatan kaki:

*) Dari Jawa, hanya bentuk A. p. javanicus yang merupakan populasi menetap yang tercatat. Meskipun demikian, Dupond (1942: 15) pernah mencantumkan seekor spesimen dari Jawa dengan nama tersebut, yang memiliki panjang sayap 165,5 mm dan panjang ekor 68 mm. Ukuran ini terlalu besar dan tidak masuk akal untuk spesies yang menetap.

Saya telah memeriksa spesimen tersebut. Burung dewasa ini tidak diketahui jenis kelaminnya, diberi keterangan asal “Jawa”, dan diterima pada 23 Juli 1847 (RBIN no. 3775y). Hasil pengukuran ulang menunjukkan panjang sayap 137 mm, ekor 53 mm, dan tarsus 49 mm. Ukuran tersebut masih tergolong normal untuk A. p. javanicus.

Dengan demikian, Dupond tampaknya telah melakukan kesalahan dalam mencatat hasil pengukurannya.

Bersambung.


*Foto: Paruh burung bangau tongtong (Leptoptilos javanicus).

Sumber: Skullsite – Lesser Adjutant/skullpage-leptoptilos-javanicus-lesser-adjutant

Related Images:

Comments

comments