4 Juli 1949, Perpisahan Pemimpin Republik Dengan Masyarakat Mentok di Pesanggrahan BTW Mentok.

KantorKeresidenanBangkaBelitung_20260704_123012_000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC


Setelah mendapatkan kepastian tentang kembalinya pemimpin Republik yang diasingkan di Bangka ke Yogyakarta pada Tanggal 6 Juli 1949 sesuai dengan usulan Horace Merle Cochran, utusan UNCI dari Amerika Serikat, maka pada tanggal 4 Juli 1949 pemimpin Republik Indonesia yang diasingkan di Bangka melakukan perpisahan dengan Masyarakat Mentok di Pesanggrahan BTW Mentok. Pada saat perpisahan hadir sekitar 1000 orang Masyarakat Mentok dan dari daerah sekitarnya.

Setelah berinteraksi selama 197 hari dengan rakyat Bangka banyak kenangan kenangan manis yang membanggakan. Bung Hatta, R.S. Suryadarma, Asaat, A.G. Pringgodigdo sudah berinteraksi dengan masyarakat Bangka sejak 22 Desember 1948, kemudian disusul oleh M. Rum dan Ali Sastroamijoyo sejak tanggal 31 Desember 1948, kemudian menyusul Bung Karno dan Agus Salim tanggal 6 Februari 1949.

Pesanggrahan Menumbing merupakan tempat pengasingan Wakil Presiden Hatta, bersama R.S. Suryadarma, Asaat, A.G. Pringgodigdo, kemudian menyusul M. Rum dan Ali Sastroamijoyo, menorehkan catatan sejarah penting diantaranya: Pejabat Belanda Mr Brouwer menemui dan menyodorkan perjanjian untuk tidak berpolitik pada tanggal 10 Januari 1949, selanjutnya kedatangan Delegasi Komite Jasa-jasa Baik PBB (the United Nations Good Offices Committe) yakni Critchley (Australia) dan Herremans (Belgia) mengunjungi pemimpin Republik Indonesia pada tanggal 15 Januari 1949, dilanjutkan dengan kedatangan Penasihat Umum Kehakiman Mr. Gieben dan Kepala Staf Umum Kolonel Thomson, berangkat ke Bangka untuk memberikan kebebasan bergerak para pemimpin Republik Indonesia pada tanggal 17 Januari 1949.

Para pemimpin RI mendapat kebebasan bergerak di Pulau Bangka, namun tetap tinggal di Pesanggrahan Menumbing mulai tanggal 18 Januari-4 Juli 1949, kecuali Suryadi Suryadarma yang diperintahkan tinggal di House Hill BTW Pangkalpinang.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #90, Masjid Baiturrahman, Batubelubang.

Para pemimpin Republik Indonesia menerima tamu ketua Bangkaraad Masyarif Datuk Lelo Bendaharo dan penasehatnya Mr. Krom pada tanggal 18 Januari 1949. Tidak ketinggalan Kepala Pemerintah Mentok, Kemas Zainal Abidin datang berkunjung dan berkenalan dengan 6 pemimpin RI pada tanggal 20 Januari 1949.

Selanjutnya Anggota Delegasi Republik (Supomo, Soedjono dan Darmasetiawan) datang berkunjung dan berdiskusi sampai larut malam pada tanggal 22 Januari 1949. Pertemuan pemimpin RI (Sukarno, Hatta, Darmasetiawan, Supomo dkk) dan BFO (Anak Agung Gede Agung, Abdul Rivai dan dr. Ateng) di Pesanggrahan Menumbing pada tanggal 7 Februari 1949.

Rombongan BFO (Sultan Hamid II, Anak Agung Gde Agung, Djumhana Wijiaatmadja, Kaliamsjah, Ateng dan Abdul Rivai) kembali mengunjungi Mohammad Hatta pada tanggal 2 Maret 1949. Mohammad Hatta menulis surat berkop Wakil Presiden ditujukan kepada LN Palar Perwakilan Republik Indonesia di PBB pada tanggal 2 Mei 1949.

Selanjutnya Pesanggrahan BTW Mentok tempat pengasingan Presiden Sukarno dan Haji Agus Salim, menjadi tempat bersejarah dan menorehkan beberapa peristiwa Sejarah besar diantaranya: Sukarno dan Haji Agus Salim menerima kunjungan Mr. Gieben pada tanggal 26 Februari 1949, dan menerima kunjungan Dr. J.P. Koets pada tanggal 28 Februari 1949.

Aktifitas Sukarno dan para pemimpin RI lainnya dengan Masyarakat mengikuti jalan santai dari Pesanggrahan Mentok menuju pantai Tanjung Kalian tanggal 13 Maret 1949.

Selanjutnya Sukarno menerima kunjungan Anggota Delegasi UNCI (United Nations Commisions for Indonesia) Merle H. Cochran (Amerika Serikat) didampingi William Lacy, wakil kepala Departemen Timur Jauh Departemen Luar Negeri AS pada tanggal 24 Maret 1949.

Sukarno menerima kunjungan Sultan Hamengkubuwono IX pada tanggal 29 April sampai 2 Mei 1949, selanjutnya Sukarno menerima Mohammad Rum, Leimena, Supomo, Ali Sastroamidjojo, Djuanda, Latuharhary dan AG. Pringgodigo yang melaporkan draf akhir perundingan antara Republik Indonesia dengan perwakilan Belanda, Dr. H.J. Van Roijen pada tanggal 6 Mei 1949.

See also  125 Tahun Mercusuar Pulau Pelepas

Saat itu Sukarno membaca draff akhir di dapur pesanggrahan Mentok. Sukarno dan para pemimpin RI lainnya menerima Rombongan wartawan dari Amerika pada tanggal 21 Juni 1949.

Terakhir para pemimpin Republik melaksanakan perpisahan pada tanggal 4 Juli 1949 diiringi kesedihan masyarakat


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments