1 Juli 1838, Depati Cakraningrat Ki Agus Rahad diangkat menjadi Kepala Belitong.
Admin 1 July 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian DPMP, CECH, CIRBC*)
Depati Ki Agus Rahad adalah putera dari Depati Ki Agus Hatam yang gugur dalam pertempuran melawan Inggris pada Tahun 1815. Ki Agus Hatam dikenal dengan “Depati Mati Tekerat”.
Selain Depati Ki Agus Hatam ikut gugur dalam serbuan menjelang subuh pasukan Inggris yang dipimpin Raja Akil adalah putra mahkota Ki Agus Ancun, sedangkan Ki Agus Rahad yang saat itu baru berusia 15 tahun terluka dan berhasil diselamatkan oleh Raden Keling dan Raden Ali beserta Ki Agus Luso. Mereka berhasil menghindar, lalu berperahu ke hilir Sungai Cerucok hingga bersembunyi di hutan Tanjong Gunong.
Dalam tambo yang ditulis Ki Agus Haji Abdul Hamid, 1934. Hal.22, dijelaskan: ” Maka Depati Cakraningrat Kiahi Agus Rahad inilah berduduk diam di Tanjong Gunong karena suatu masa dulu beliau sampai di situ melarikan diri bersembunyi, lantaran pembunuhan Ramondanya Kiahi Agus hatam oleh Raja Akil. Kiahi Agus Rahad ditikamnya juga tetapi beruntung luka sedikit tak berbahaya. Dari waktu itulah beliau menduduki tempat itu dan membuat Kota Tanjungpandan. Bekas-bekas usaha beliau di situ masih hidup pohon manggis, durian, dan pohon-pohon kelapa, yang ditempati veldpolitie sekarang ini”.
Tempat atau posisi hilir Sungai Cerucok di hutan bawah Tanjong Gunong inilah yang kelak menjadi awal atau cikal bakal Kota Tanjungpandan.

Raden Keling dan Raden Ali yang menyelamatkan Ki Agus Rahad adalah pemimpin perjuangan rakyat Bangka melawan Inggris dan setelah kalah berperang di Pulau Bangka melanjutkan perjuangan di Pulau Belitong bersama Ki Agus Hatam dan membangun pusat kekuatan di Belantu Belitong. Sementara itu Pasukan Inggris dipimpin oleh Raja Akil membangun kekuatan di Sedjook (Sijuk) dan Ki Agus Hatam, Depati Tjakraningrat VII membangun pemerintahan dan kekuatan di Tjerutjuk.
Pada 1 Juli 1838, Depati Cakraningrat VIII, Ki Agus Rahad diangkat menjadi kepala Belitong. Sebagai kepala Belitong, Depati membawahi beberapa ngabehi yang kemudian diubah menjadi distrik, yaitu Tanjungpandan, Sijuk, Buding, Badau, Belantu, dan Lenggang.
Pada tanggal 20 April 1854, Depati Ki Agus Rahad meninggal dunia dan di makamkan di Air Labu Kembiri. Depati Cakraningrat VIII, Ki Agus Rahad digantikan oleh adiknya Ki Agus Mohamad Saleh yang memerintah tahun 1854-1873, dengan gelar Depati Cakraningrat IX.
Bagaimana kondisi pusat kekuasaan di Belitung sekitar bulan April 1824 dari Tjerutjuk-Ilir-Kuala Tjerutjuk-Tandjung Gunung dapat dipelajari dari Surat Ingatan Tengku Said Mahmud Zain Ibnu Almarhum Al Habib Abdurrahman Al Qodri (Dimulai di Belitung pada 27 Sja’ban diachiri di pelabuhan Betawi pada 12 Ramadlan 1239 H.)”….Pada Fasal jang Kesepuluh tatkala kita di dalamTjerutjuk maka kita periksalah segala rumah2 jang ada bersama2 dengan tempat Residen sekarang masuk dengan rumah Residennja dan rumah Panembahan Muhammad serta dengan rumah kawan2nja dan lagi rumah Pangeran Sjarif Aqil serta dengan rumah Tjina2 telah sudahlah kita suruh periksa segala rumah2 jang tersebut itu dengan pengetahuan kita banjaknja Dua puluh buah adanja kemudian pula tatkala kita sudah Ilir di Kuala Tjerutjuk itu maka kita naiklah ke darat berdjumpa tuan Residen kepada tempat jang baharu dibuatnja itu di kuala namanja Tandjung Gunung, maka kita periksa pula segala rumah2 jang ada dikuala itu jang sudah kita suruh periksa dengan pengetahuan kita rumah2 jang tersisa itu masuk dengan rumah Radja Ishaq semuanja lima belas buah adanja dan demikian lagi adapun tempat jang baharu dibuat oleh tuan Residen dikuala Tjerutjuk di Tandjung Gunung itu maka adalah pada penglihatan kita tempat itu terlalulah bagusnja patut sekali tempat Lodji Gubernemen Nederland adanja…”
* Keteragan gambar: Kantoor van het district Tandjong Pandan
DE BILLITON MAATSCHAPPIJ GEDENKBOEK BILLITON 1852-1927, TWEEDE DEEL Halaman 106
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
