5 November 1961, Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Bangka Menerima Laporan Tentang Biaya dan Peresmian Masjid Jami’ Pangkalpinang

prasasti jamik

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Dalam peta Resident Bangka en Onderh. Opgenomen door den Topografischen dienst in 1928-1929 Blad 34/XXV d. Reproductiebedrijf Topografische dienst, Batavia 1931 Auteursrecht Voorbehouden (Stbl 1912 No.600), dapat diketahui dan sudah tergambar dengan jelas letak beberapa fasilitas rumah ibadah masjid (mesigit).

Sedikitnya terdapat beberapa masjid di Distrik Pangkalpinang seperti masjid di depan Christen Kerkhof (sekarang berada di kampung Kerkhof), masjid di kampung Dalam, masjid di kampung Katak, masjid di kampung Opas, masjid di kampung Jalanbaroe, masjid di kampung Gabek, dan masjid di kampung Ampoei serta masjid di kampung Semabong yang berdekatan dengan pekuburan (inlandsche graven).

Masjid yang terdapat di kampung Dalam, distrik Pangkalpinang merupakan Satu masjid tua karena berdasarkan prasasti pendirian awal masjid yang masih dapat dilihat pada marmer putih di halaman masjid sekarang yang ditulis dengan huruf Arab: “ قد تم هذا الوقف (Qad tamma hadzâl waqf), artinya: telah selesai/sempurna wakaf ini,
بتاريخ ٣ شوال (Bi tarîkh 3 Syawâl) artinya: pada tanggal 3 Syawal, ١٣٥٥ هـ (1355 H), artinya: 1355 Hijriah, 18-12-1936, artinya: tanggal 18 Desember 1936

Berdasarkan peta Resident Bangka di atas, secara geografis Kampung Dalam Pangkalpinang terletak di sisi Selatan Sungai Rangkoei dan di sisi Utara Kampung Bintang. Pada sisi Timur Kampung Dalam berbatasan dengan kampung Tjina dan di sisi Barat Daya berbatasan dengan kampung Melintang dan kampung Djeloetoeng.

Berdasarkan foto masjid Jamik tanggal 27 Desember 1949 saat peringatan pengakuan Kedaulatan RI dan terbentuknya RIS, diketahui bentuk fisik masjid sejak awal berdiri adalah semi permanen dengan pondasi yang cukup kuat, berlantai semen berdinding papan dan beratap genteng, bila dilihat dari atas berbentuk seperti piramida, lebar di bagian bawah menciut di bagian tengah dan atasnya. Bentuk arsitekturnya sama dengan arsitektur masjid masjid tua di Nusantara yaitu bentuk “Meru Tumpuk”.

See also  9 Oktober 1871, Cornelis De Groot Dihadiahi ƒ 3.000 (gulden) Karena Telah Menyelamatkan Billiton Maatschappij Dari Kehancuran

Selanjutnya berdasarkan buku Risalah Pembangunan Masjid Jami’ Pangkalpinang, Bangka yang disusun oleh Panitia Besar Perayaan Masjid Jami’/Perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad s.a.w tanggal 12 Rabi’ul Awwal 1936 H/ 13 Maret 1976 M, diketahui tentang Riwayat berdirinya Masjid Jami’ Pangkalpinang Bangka.

Mengingat perkembangan akan kebutuhan jemaah yang semakin bertambah di pulau Bangka, khususnya di Kota Pangkalpinang, maka atas musyawarah masyarakat Bangka pada hari Ahad tanggal 12 Nopember 1950 M, menjelang Maghrib, jam 17.30 waktu sekarang, diundanglah, para alim Ulama’, Tokoh2 masyarakat, pengusaha2 serta pejabat2 Pemerintahan yang berdomisili di Pangkalpinang, maka diputuskan Pembentukan Panitia Pembangunan Masjid Jami’ Kota Pangkalpinang.

Sebagai Ketua Panitia diamanahkan pada seorang ulama kharismatik di pulau Bangka yaitu H. Mas’ud Nur yang pada saat itu menjabat sebagai penghulu Pangkalpinang. H. Mas’ud Nur dibantu oleh tokoh-tokoh agama yang ada di pulau Bangka antara lain H. Abdullah Addary, H.M. Ali Mustafa, H. Muhammad bin M. Amin, H. Mochtar Yasin, H. Nuh, A. Rahman Yunus, H. Masdar, H. Achmad Razaq, H. Suhaimi dan banyak kiai-kiai lainnya serta tokoh tokoh masyarakat dan pengusaha.

Pada periode renovasi pertama (akhir Tahun 1950-1954), ditetapkan rancangan/ukuran masjid dengan Panjang 30 meter, Lebar 30 meter dilengkapi dengan kubah dan satu menara masjid setinggi 23 meter dengan kapasitas dapat menampung 1.500 orang jamaah.

Dana pembangunan diperoleh dari sumbangan seluruh komponen masyarakat Bangka, baik masyarakat yang ada di pulau Bangka, maupun masyarakat Bangka yang ada di perantauan di luar Kepulauan Bangka Belitung.

Pengerjaan fisik bangunan masjid juga dilakukan dengan cara bergotong royong. Wakil Presiden RI, Mohd. Hatta ikut menyumbang dana sebesar Rp.1000,-, pada saat beliau berkunjung kembali ke pulau Bangka Tahun 1951.

See also  Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #18, Toponimi Kampung Besi.

Pada saat yang bersamaan masyarakat Kota Pangkalpinang juga secara bergotong royong sedang membangun Gedung Nasional sebagai simbol nasionalisme masyarakat Bangka setelah kembalinya ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, 17 Agustus 1950.

Kegiatan renovasi masjid kemudian dilanjutkan pada periode kedua Tahun 1955-1961. Pada periode ini panitia pembangunan masjid tetap diketuai oleh KH. Mas’ud Nur dibantu seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, pengusaha dan seluruh komponen masyarakat di pulau Bangka. Arsitek/tekhnik bangunan masjid dirancang oleh Hady Susilo (karyawan PN Tambang Timah Bangka).

Pengerjaan fisik pada periode kedua lebih banyak difokuskan pada penyelesaian akhir bangunan masjid dan pembuatan menara masjid setinggi 23 meter.

Berdasarkan Laporan Panitia tanggal 4 Nopember 1961 yang diterima Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Bangka tanggal 5 Nopember 1961, tentang Peresmian Masjid Jami’ Pangkalpinang, bahwa terhitung dari mulai bulan Nopember 1950 hingga tanggal 31 Oktober 1961 jumlah sumbangan dana yang diterima sebesar Rp. 6.115.855,32.,

kemudian Masjid Jamik selesai direnovasi dan diresmikan pada Tanggal 3 Juni 1961, tepat pada pukul 09.00 WIB.


*Keterangan gambar:
Prasasti pada halaman Masjid Jami’ di Kampung Dalam Pangkalpinang berisi tulisan Arab:
قد تم هذا الوقف (Qad tamma hadzâl waqf), artinya: telah selesai/sempurna wakaf ini,
بتاريخ ٣ شوال (Bi tarîkh 3 Syawâl) artinya: pada tanggal 3 Syawal, ١٣٥٥ هـ (1355 H), artinya: 1355 Hijriah, 18-12-1936, artinya: tanggal 18 Desember 1936

Related Images:

Comments

comments