5 September 1819, Kapten Laemlin Mendarat di Pangkalpinang

Pelabuhan Pangkalbalam Pangkalpinang, sumber Rijksmuseum sekitar Tahun 1900_20260904_221042_0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Dalam rangka melakukan serangan melalui darat terhadap kekuatan perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Bahrin di Bangkakota, maka pada 5 September 1819, Kapten Laemlin dan pasukannya mendarat di Pangkalpinang.

Keesokan harinya, ia berangkat menuju Koba bersama 10 perwira dan 186 prajurit. Setelah lima hari perjalanan yang sangat berat, tiba di Koba pada 10 September.

Setelah melakukan persiapan untuk perjalanan lanjutan pada 14 September. Dua hari kemudian tanggal 16 September, ia mencapai benteng pertahanan musuh yang pertama. Musuh berhasil dihalau dari sana dengan kerugian besar. Di pihak kita, 2 orang gugur dan 12 orang terluka.

Perjalanan dilanjutkan kembali pada pagi hari tanggal 17 September. Menjelang tengah hari, mereka tiba di sebuah benteng yang terletak di tengah-tengah rawa dan hutan. Benteng ini dibangun dengan baik serta dilengkapi dengan lela (meriam putar) dan senapan kecil.

Meskipun detasemen dalam kondisi sangat lelah dan banyak yang sakit serta terluka, musuh segera diserang dan dihalau dari kubu pertahanannya.

Musuh mundur ke benteng terdekat, yang ternyata mengelilingi sebagian dari kampung Banka-kotta (Kota Bangka). Benteng ini juga diserang tanpa menunda waktu.

Dalam beberapa saat saja, dinding pertahanan yang terbuat dari balok kayu dan dilengkapi meriam 3 pon itu berhasil dilewati.

Sebagian dari penjaga benteng melarikan diri melalui gerbang untuk mencapai perahu-perahu yang berada di sungai, sementara sisanya terus bertahan dengan gigih di dalam rumah-rumah yang telah disiapkan untuk pertahanan.

Sebagian besar dari kelompok pertama tewas akibat tembakan senapan yang diarahkan kepada mereka dari dua sudut benteng (selekoh), sedangkan kelompok terakhir hampir seluruhnya tewas dalam kobaran api setelah rumah-rumah mereka dibakar.

See also  4 September 1913, Mulai Pindahnya Ibukota Keresidenan Bangka dari Kota Mentok Ke Kota Pangkalpinang

Saat itu, Kapten Laemlin dan rekan-rekan ekspedisinya mengira tugas mereka telah selesai. Mereka memang mendengar beberapa tembakan berat, tetapi menduga tembakan itu dilepaskan oleh kapal-kapal meriam ke arah para pelarian, yang mereka perkirakan berada di sungai untuk mendukung serangan dari sisi tersebut.

Namun, segera terlihat bahwa tembakan-tembakan itu berasal dari benteng utama Banka-kotta, yang selama ini tersembunyi di balik pepohonan.
Benteng ini yang merupakan tempat yang sama di mana Kapten Egé sebelumnya mengalami kegagalan, berukuran luas, dibangun dengan baik, dilengkapi dengan banyak persenjataan, dikelilingi oleh rawa-rawa di sekitarnya, dan hanya dapat dicapai melalui jalan setapak yang sempit dan sangat berlumpur.

Serangan pertama gagal, dan serangan kedua tidak dapat dilakukan karena turunnya hujan lebat secara tiba-tiba, banyaknya korban sakit dan terluka, serta kekurangan bahan makanan dan amunisi (akibat keterbatasan sarana transportasi, mereka hanya membawa persediaan yang sedikit).

Selain itu, tidak adanya kapal perang di sisi lain Banka-kotta membuat mundurnya pasukan dengan segera menjadi suatu keharusan yang tidak bisa dihindari. Setelah menghancurkan semua bangunan, perahu, dan persediaan makanan musuh yang dapat dijangkau, Kapten Laemlin memulai perjalanan mundur.

Perjalanan ini berjalan sangat lambat akibat banyaknya korban sakit dan terluka serta minimnya sarana transportasi. Detasemen baru tiba kembali di Koba pada tanggal 23 September, dan baru pada tanggal 2 Oktober mereka naik kembali ke kapal Admiraal Buyskes.

Pada tanggal 5 Oktober, kapal kembali berlabuh di Muntok, dan setelah menurunkan korban sakit serta terluka di sana, kapal tersebut berlayar pada 9 Oktober menuju Sungsang untuk bergabung kembali dengan skuadron yang ditujukan bagi Ekspedisi Palembang.

Dari 230 pasukan yang menyerang ke Banka-kotta di bawah pimpinan Kapten Laemlin, 4 orang gugur dan 19 orang terluka. Selain itu, akibat perjalanan yang melelahkan, penderitaan, hutan dan rawa yang tidak sehat, serta keterlambatan dalam perjalanan mundur, 1 perwira dan 48 prajurit meninggal dunia, serta 2 perwira dan 63 prajurit harus ditinggalkan di rumah sakit Muntok. (Dalam Militaire Spectator VERHAAL PALEMBANGSCHEN OORLOG VAN 1819-1821, DOOR, A. MEIS, Kapitein-Adjudant hij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandscht Oost-Indische leger, halaman 138).

See also  Dari Teritip, Buddingh Lanjut Ke Jebus. Begini Suasananya Ketika Itu.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments