Dari Teritip, Buddingh Lanjut Ke Jebus. Begini Suasananya Ketika Itu.

jelajahbangka.com_20260804_091044_000

Oleh : Meilanto


Setelah pada edisi sebelumnya di Kampung Pangek, Buddingh dan rombongan menghadapi suasana mencekam. Merkaa dihadang hujan petir dan angin kencang.
Kemudian ia bersama rombongan pemikul tandu tiba di Jebus seperti yang ia tulis pada halaman 39-40 pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857:

Slechts een oogeublik hield ik mij te Teretip op, en vertrok toen weder met nieuwe dragers, om nog Jeboe s te bereiken. Dek oei ie’s namen eenige stammen of dikke takken van den Minjak-kroïng-boom (1) tot flambouwen of dammers mede, en togen op weg. Na een half uur gaans werd het geheel donker, en staken ze de dammers aan, zoodat de verdere togt bij het licht van toortsen geschiedde. Van tijd tot tijd werd het bosch door millioenen van roode lichtjes geïllumineerd, die als kleine starren of gloeijende vonken schitterden. Aan alle takken en twijgen en bladeren en tusschen alle boomen en stammen flonkerden ze, en als op een geheimzinnig wachtwoord werden ze soms allen te gelijk uitgedoofd, om weder allen te gelijk te glinsteren.

Het waren de bekende Pyrilampeii of Lucioleu, de phosphorieke koenang’s of api-api of vuurvliegjes, die als Féri s of Péri’s of glanzende aardgeesten en feeën door het woud zweefden, en in dat ontzaggelijk woonvertrek hun avondlicht ontstaken. De apen, nieuwsgierig als altijd, kwamen nu in menigte in het geboomte aan den kant van den weg springen, om naar de toortsen en de menschen te zien, en sprongen dan al vechtende en schreeu wende weder in de takken weg, terwijl hun schel gegil soms een’ dommelenden raaf, of een’ adelaar, of een’ Raja-wali uit hunne sluimering wekte, die dan hun zware vleugelslagen door het stille bosch deden hooren.

(1) Kroing-olic, een zekere hars of damme r van den hars-boom van dien naam.

Maksudnya;
Hanya sesaat saja saya singgah di Teretip (Maksudnya Kampung Teritip), lalu kembali berangkat bersama pengangkut tandu yang baru untuk menuju Jeboes.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. 49, Masjid Al-Wustho, Tuatunu.

Para pengangkut membawa sebatang batang atau dahan tebal pohon minyak keruing (¹) untuk dijadikan obor penerangan, dan kami pun melanjutkan perjalanan.

Sekitar setengah jam berjalan, hari menjadi gelap sepenuhnya, maka mereka menyalakan obor tersebut, sehingga sisa perjalanan dilalui dengan cahaya penerangan itu.

Sesekali hutan itu tampak disinari jutaan titik cahaya kemerahan, berkelap-kelip bagaikan bintang kecil atau bunga api yang berpijar. Di setiap dahan, ranting, daun, dan di sela-sela pepohonan, cahaya itu berkelap-kelip; seakan menuruti aba-aba rahasia, terkadang semuanya padam serentak, lalu menyala kembali bersamaan. Itulah kunang-kunang yang bersinar fosfor—dikenal juga sebagai api-api—yang melayang di hutan bagaikan peri atau roh bumi yang bercahaya, menyalakan lampu malam di kediaman yang luas itu.

Kera-kera yang selalu ingin tahu kini berbondong-bondong melompat ke pepohonan di pinggir jalan untuk melihat obor dan kami yang lewat, lalu kembali melompat ke dahan sambil berkelahi dan berteriak-teriak. Jeritan nyaring mereka terkadang membangunkan gagak yang sedang tidur, elang, atau burung rajawali, yang kemudian mengepakkan sayapnya dengan berat membelah keheningan hutan.

(1) Kroing-olie, sejenis getah atau damar tertentu yang berasal dari pohon penghasil damar yang memiliki nama yang sama.

Seruan kami meminta penyeberangan segera terdengar, sebab kedatangan saya sudah diharapkan dan penjagaan di tempat penyeberangan sudah diperintahkan. Tak lama kemudian saya sampai di seberang, di mana Kepala Wilayah Jeboes sudah menanti dengan beberapa obor yang menyala, didampingi oleh sejumlah penduduk setempat.

Sisa perjalanan saya tempuh berjalan kaki selama setengah jam lebih, sehingga hari itu saya telah berjalan kaki selama tujuh jam dari total perjalanan tiga belas jam—karena saya tak sanggup lagi lama-lama menahan guncangan tandu.

See also  21 Juni 2007, Awal Dibangunnya Jalan lingkar Barat dan Lingkar Timur Kota Pangkalpinang

Di tengah jalan saya berpapasan dengan Komandan benteng Jeboes, Tuan VAN VUUREN. Beliau memberitahukan bahwa Pengelola Wilayah Tambang Timah Jeboes, Tuan RULOFFS, sedang tidak berada di tempat, sekaligus dengan ramah mengundang saya untuk menginap di kediamannya.


Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments