7 Agustus 1908, Gangguan Keamanan di Sungailiat, dan Pertemuan Anggota Organisasi Rahasia Sam Tiam Foei di Belinyu Dibubarkan serta Para Pelakunya Ditangkap
Admin 7 August 2026
Oleh. Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Berdasarkan Koloniaal Verslag 1904-1905, hlm.85, bahwa kondisi politik selama tahun 1904-1905 dilaporkan aman dan tidak ada sesuatu pergolakan yang berarti muncul di masyarakat, baik masyarakat bumiputera maupun masyarakat Tionghoa. Gangguan dan keamanan orang dan barang bisa disebut memuaskan.
Organisasi rahasia orang Cina Tjong Pak-Kon dan Ngie Foeh tetap tidak menunjukkan aktivitas yang membahayakan kepentingan umum. Sementara organisasi Sjo Tjoen Foei yang didirikan di Manggar pada 1901 tetap mendapatkan perhatian khusus dari pihak keamanan, walaupun sudah tidak menunjukkan indikasi kegiatan yang mengganggu keamanan dan ketertiban umum.
Selanjutnya pada tahun 1908, keamanan di Bangka meresahkan. Dalam buku Sejarah Bangka Belitung Jilid 2, yang ditulis Djoko Marihandono, Akhmad Elvian, Ian Sancin, diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, November 2019, pada halaman 301 dinyatakan: “Keamanan pada Tahun 1908 di Bangka meresahkan. Di antara para kuli yang diangkut menuju ke lokasi tambang, ditemukan beberapa unsur buruk yang mempersulit keamanan dan ketertiban yang bisa mengganggu kelancaran kerja di pertambangan yang pasti akan membawa pengaruh buruk pada penambang lainnya.
Pada malam 31 Juli-1 Agustus 1908, sejumlah 40 pekerja dari salah satu kompleks pertambangan, melakukan perampokan di rumah kongsi di Sungeiliat. Permufakatan jahat ini berhasil digagalkan atas tindakan cepat dan tepat aparat kepolisian bersenjata. Para terdakwa ditangkap, kemudian diadili. Sampai tanggal 7 Agustus 1908 masih terjadi gangguan keamanan. Terakhir pelakunya sebanyak tiga orang pekerja tambang yang telah bersalah melanggar ketentuan dalam peraturan timah.

Sementara itu di Belinyu, suatu pertemuan malam hari oleh para anggota organisasi rahasia orang Cina, Sam Tiam Foei dibubarkan oleh patroli; beberapa orang yang terlibat ditangkap dan dihukum. Salah satu penyebab terjadinya peristiwa peristiwa gangguan keamanan oleh pekerja tambang Timah di Bangka adalah karena tidak selektifnya dalam mencari atau merekrut calon pekerja tambang. Kebanyakan para pekerja tambang direkrut atau diperoleh melalui calo atau mafia tenaga kerja.
Dalam “De werving van koelis voor Banka” dalam Bataviaasch Nieuwsblad, 20 April 1904, lembar ke-2” dijelaskan bahwa, dalam rangka melepaskan diri dari jaringan para calo atau mafia tenaga kerja yang mendatangkan kuli tambang, pemerintah Belanda berniat untuk menghemat pengeluaran pembayaran penerimaannya dengan mengirimkan Pejabat Urusan Cina, EF Thijssen langsung ke Cina. Misi Thijssen bertujuan untuk mencari jalan keluar agar para pekerja tambang dari Cina tidak dibebani dengan berbagai macam biaya, sehingga diharapkan dapat menaikkan kesejahteraannya sebagi penambang Timah.
Selain itu, ia juga menerima tugas tambahan yaitu mencari cara mengirimkan kuli Cina secara langsung tanpa harus melalui calo atau mafia tenaga kerja. EF Thijssen juga mencari cara untuk mengirimkan langsung ke Cina para kuli tambang timah yang telah menyelesaikan kontraknya di Bangka. Namun, usahanya tidak berhasil, karena ketatnya mafia tenaga kerja (para calo) menjalin jaringan usahanya.
Setelah upaya pengiriman pejabatnya langsung ke Cina tidak membawa hasil, pemerintah kemudian mencari cara lain untuk menjamin pengiriman rutin para pekerja Cina ke Bangka. Salah satu solusi yang dilakukan adalah dengan melakukan pengiriman kembali secara langsung para pekerja tambang ke Cina.
Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia mengetahui bahwa banyak para pekerja tambang Timah yang kembali atas biaya sendiri dari Bangka setelah kontraknya selesai, mereka hanya sampai di Singapura.
Di Singapura mereka menghabiskan uang tabungannya untuk berjudi atau dengan cara lain menghabiskan uangnya dan kemudian mereka kembali jatuh ke tangan makelar atau calo. Di Cina Selatan orang hanya dapat melihat beberapa orang bekas pekerja tambang timah Bangka yang kembali dengan keberhasilannya.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
