Dari Jebus, Buddingh Ke Belinyu Melewati Sungai Buluh, Kelapa, Telak, Rangie, Kapiet, dan Semoeloet hingga Bakit Menyeberangi Teluk Kelabat.

PierinMantungBelinyuca.1909-1915.PewarnaanAI_20260807_054345_000

Oleh : Meilanto


Setelah menginap di Jebus, melihat tentara sedang latihan, Buddingh kembali meneruskan perjalanannya ke Belinyu. Ia bersama pemikul tandu melewati kampung Kelapa, Telak, Rangie, Kapiet, dan Semoeloet sampai ke Kampung Bakit Tanjung Ru. Selanjutnya mereka menyeberangi Teluk Kelabat dan tiba di Mantung Belinyu. Simak tulisannya pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 halaman 42-43.

Van Jeboe s zette ik mijne reis voort naar Blienjoe, de pankal van het tinmijn-distrikt Blienjoe , (hetwelk 28 mijnen bevat,) op 35 palen of ongeveer 12 uren afstands van Jeboes gelegen. ‘De weg was zeer eenzaam en doodsch, en zoo vast en glibberig, dat de koelie’s bijna telkens uitgleden. Een zware mist hing over veld en bosch, en vergunde mij slechts nu eu
dan een schemerend en vlugtig gezigt op de bergen Paré, Peniabang , Djerangkat en Gantang. Weldra bereikte ik, voorbij de Soengi-boeloe, de kampong Batin , en opvolgend passeerde ik de dorpen Kampong-Klappa, Telak, Rangie, Kapiet en Semoeloet, en kwam eindelijk, na 8 aren gaans (deels per draagstoel, doch grootendeels te voet), te Bakit, welk dorp digt bij de ruïnen gelegen is der voormalige versterkingen te Tanjong-‘Roe , van waar men, over de Klabat—baai heen, het gezigt heeft op de verschansingen, welke te Tanjong-Manton g aan de oostzijde der Klabat-baai tegen den zeeroof zijn aangelegd. In het midden der eindelooze bos-schen, waardoor de weg van Jeboes naar Bakit voert, had ik den heer DE GROOT, ingenieur lp klasse van het mijnwezen, ontmoet, die van Blienjoe naar Muntok terugkeerde, en die, even als ik, het grootste gedeelte van den weg te voet had afgelegd. De wederzijdsche koelie’s hielden halt, en de respektieve reizigers bleven eenige oogenblikken bij elkander. Het gesprek, dat we voerden, hielden we als ware Peripatetici, d. i. als “wandelaars” of navolgers van ARISTOTELES, den beroemden wijsgeer van het Lyceum van APOLLO te Athene. Gelijk zijne leerlingen, de Peripatetici, met hun’ grooten meester in de schaduwrijke dreven op en neder wandelden, terwijl ze zijn onderwijs ontvingen, zoo wandelden wij ook al pratende op en neder in de schaduw van een’ der achtbare wouden van Banka. Maar onze wandeling was “geforceerd,” want we mogten niet stilstaan, — we moesten onder het zamenspreken op en neder loopen, en wel met verhaaste schreden. En waar-om?… Omdat zich onder de afgevallen bladeren, waarmede de weg in de bosschen soms meer dan een’ duim dik over dekt is, myriaden van dunne en fijne naaldachtige bloedzuigers (lienta) ophouden, die onmiddellijk in de schoenen en kousen der voetgangers dringen, wanneer dezen een oogenblik stilstaan.

Maar ook, al slaat de wandelaar niet op die dikke laag van bladeren stil, debloedzuigers brengen hem toch een bezoek aan voeten en beenen, en ik-zelf moest ook deze waarjieid, in weerwil der voorzorgen, die we genomen hadden, wel degelijk ondervinden; want, toen ik ruim 3 uren later te Blienjoe kwam en de natte schoenen uitdeed, droop het bloed uit kousen en schoenen, en bespeurde ik eenige fijne prikken of kwelsuren, als door de punten van naalden veroor-zaakt, aan voeten en enkels. Later werden deze wondjes ont-stoken, doch heelden toch weder spoedig. Het loopt echter niet met alle voetgangers op Banka zoo goed af, daar mij verhaald werd dat sommigen hunner, ten gevolge der bloedzuigers-steken, vaak ernstige beenwonden bekomen, die lang open blijven en veel pijn veroorzaken.

Maksudnya;
Dari Jeboes saya melanjutkan perjalanan menuju Belinyu, pusat pemerintahan wilayah tambang Belinyu yang memiliki dua puluh delapan lokasi tambang, berjarak tiga puluh lima pal atau sekitar dua belas jam perjalanan dari Jeboes.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #73, Masjid Al Falaah, Tanahbawah.

Jalan yang dilalui sangat sepi dan sunyi, serta permukaannya padat namun licin sehingga para pengangkut tandu hampir terus-menerus terpeleset. Kabut tebal menyelimuti daratan dan hutan, sehingga saya hanya sesekali sempat melihat sekilas bayangan samar Pegunungan Paré, Peniabang, Djerangkat, dan Gantang.

Tak lama kemudian, setelah melewati Sungai Buluh, saya tiba di Kampung Batin, lalu berturut-turut melintasi Kampung Kelapa, Telak, Rangie, Kapiet, dan Semoeloet. Akhirnya, setelah delapan jam perjalanan—sebagian menggunakan tandu namun sebagian besar berjalan kaki—saya sampai di Bakit. Kampung ini terletak tak jauh dari reruntuhan benteng pertahanan lama di Tanjung Ruh; dari tempat itu, menyeberangi Teluk Klabat, terlihat jelas benteng-benteng yang dibangun di Tanjung Manton (maksudnya Mantung) di sisi timur teluk untuk mencegah perampokan laut.

Di tengah hutan belantara yang dilalui jalan dari Jeboes ke Bakit, saya berpapasan dengan Tuan DE GROOT, Insinyur Pertambangan Kelas Satu yang sedang kembali dari Belinyu ke Muntok. Sama seperti saya, beliau pun menempuh sebagian besar perjalanan dengan berjalan kaki. Para pengangkut tandu kami berhenti sejenak, dan kami pun berbincang sebentar.

Percakapan itu kami lakukan layaknya kaum Peripatetik—yakni “kaum pejalan kaki” atau pengikut filsuf besar Aristoteles—yang mengajar sambil berjalan-jalan di bawah pepohonan rindang. Seperti murid-muridnya yang berjalan mondar-mandir bersama gurunya sambil mendengarkan ajaran, demikian pula kami berbincang sambil berjalan di bawah rimbunnya hutan Bangka yang tua.

Namun perjalanan kami terpaksa dilakukan dengan tergesa-gesa: kami tak boleh berhenti, melainkan harus terus berjalan mondar-mandir sambil berbincang dengan langkah cepat. Mengapa demikian? Sebab di bawah tumpukan daun kering yang kadang menebal lebih dari satu inci di permukaan jalan, bersembunyi ribuan cacing penghisap darah atau lintah yang halus dan runcing seperti jarum. Mereka akan segera merayap masuk ke dalam sepatu dan kaus kaki siapa saja yang berhenti sejenak.

See also  15 Mei 1819. Toboali Ditaklukkan Oleh Pejuang Bangka.

Bahkan meski pejalan kaki tidak berhenti di tumpukan daun itu sekalipun, lintah-lintah itu tetap akan mendatangi kaki dan betisnya. Dan saya pun harus merasakan sendiri kenyataan itu, betapapun kami telah berusaha berjaga-jaga; karena lebih kurang tiga jam kemudian saat saya tiba di Belinyu dan melepas sepatu yang basah kuyup, darah menetes dari kaus kaki dan alas kaki saya.

Saya merasakan ratusan tusukan halus seperti ujung jarum di telapak kaki dan pergelangan kaki. Luka-luka kecil itu sempat bernanah, namun akhirnya sembuh kembali. Namun tidak semua pejalan kaki di Bangka bernasib sebaik itu; saya mendengar ada yang mengalami luka serius pada kaki akibat gigitan lintah, yang tak kunjung sembuh dan menimbulkan rasa nyeri yang hebat dalam waktu lama.


Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments

See also  RIMBE’ MAMBANG, Perjalanan & Perjuangan Menuju Kebun Raya Bangka