7 Juli 1920, Pabrik Pencucian Timah Pertama Belitung Dioperasikan di Aik Sijuk Distrik Tandjongpandan.

IMG_202607188_125922319

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Dalam buku De Billiton Maatschappij Gedenkboek Billiton 1852-1927, ‘s-Gravenhage Martinus Nijhoff 1927, Halaman 191, disebutkan bahwa Sejak 7 Juli 1920, pabrik pencucian Timah pertama telah dioperasikan di Billiton, di Ajer Sidjoek di distrik Tandjong Pandan. Satu instalasi yang menggabungkan efisiensi teknis yang tinggi dengan kemampuan adaptasi yang mengagumkan terhadap pasar bijih (Timah) Billiton.

Selanjutnya pada halaman 193 dinyatakan bahwa Instalasi pencucian bijih Timah dibangun di atas kapal; oleh karena itu, tidak ada gesekan pada pipa bertekanan, tidak ada limbah berat, tidak ada pipa mahal yang mudah berhenti, dan semua pekerjaan, semua kontrol terkandung dalam spesifikasi kecil. Waduk air selalu tersedia; waduk tersebut merupakan tempat pabrik mengapung. Selengkapnya: “Sinds 7 Juli 1920 is op Billiton de eerste tinwasch molen te werk gesteld, in de Ajer Sidjoek in het district Tandjong Pandan, een installatie welke aan groot technisch rendement een bewonderenswaardig aanpassingsvermogen aan de Bilhtonsche ertsafzet tingen paart. De waschinstal latie is op het schip gebouwd, erzijn dus geen wrijvingsverhezen in persleidingen, geen zware tailingdijken, geen dure, snel hjtendepijpen in het spel en al het werk, alle controle is in een klein bestek ondergebracht. Het waterreservoir is altijd bij de hand, het is de kom waarin de molen drijft”.

Instalasi pencucian bijih Timah yang dikatakan dibangun di atas kapal maksudnya adalah penggunaan Kapal Keruk pertama di wilayah Aik Sijuk yang Bernama “de eersteling” yang berarti “anak pertama atau anak sulung”. Kapal Keruk untuk eksplorasi Timah mulai beroperasi pertama kali di lembah Sijuk pada tanggal 7 Juli 1920.

See also  Asal Nama Kampung Terak Atau Klasah Berdasarkan Sejarah.

Sesuai dengan daerah operasionalnya, maka nama de eersteling kemudian diganti menjadi “Kapal Keruk (KK) Sidjoek”. Kapal Keruk Sidjoek kemudian beroperasi dan berproduksi menghasilkan Timah sampai dengan tahun 1938 (hampir 18 tahun). Kapal Keruk Sidjoek kemudian di-grounded atau didamparkan selama 3 tahun dan tidak dioperasikan.

Kapal memiliki panjang 42,6 meter dengan lebar 14 meter dan menjadi tonggak sejarah mekanisasi dalam penambangan timah. Fasilitas kapal keruk sangat efisien pada masanya karena melakukan dua fungsi produksi sekaligus yaitu penggalian dan pencucian bijih timah secara mekanik, sebelum akhirnya dinonaktifkan pada tahun 1938. Kehadiran teknologi Kapal Keruk merevolusi dari penambangan timah konvensional menuju mekanisasi.

Dalam Tata Pamer Koleksi Museum Timah Indonesia (MTI) Pangkalpinang tentang 100 Tahun Perjalanan Sejarah Kapal Keruk Indonesia dan juga telah dilaksanakan seminar tentang 100 tahun Kapal Keruk di Pangkalpinang pada tanggal 26-28 April 2011, dapat diketahui bahwa,  Kapal keruk berikutnya yang beroperasi di Pulau Belitung adalah Kapal Keruk Lais (Tahun 1925).

Tekhnologi Kapal Keruk adalah cara produktif dalam eksplorasi Timah pada masanya. Menjelang pecahnya Perang Dunia Kedua, telah beroperasi 13 kapal keruk. Sesudah Perang Dunia Kedua kondisi Kapal Keruk di pulau Belitung sangat memprihatinkan.

Perusahaan Billiton Maatschappij sebagai perusahaan penambangan Timah swasta di Belitung berupaya untuk mengembalikan kejayaan Timah Belitung setelah Perang Dunia Kedua dengan menyiapkan dua Kapal Keruk dibuat di Amerika dan enam Kapal Keruk dibuat di Eropa. Kapal-kapal ini siap dikirim ke Indonesia, walaupun dalam cuaca laut yang sangat buruk.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

*Keterangan gambar: Kapal Keruk Timah de eersteling kemudian diganti menjadi “Kapal Keruk (KK) Sidjoek
Sumber Foto: Koleksi Museum Timah Indonesia (MTI) Pangkalpinang

Comments

comments