7 November 1819, Laksamana Muda Wolterbeek Melipur Lara dan Komisaris Muntinghe Pulang Lebih Awal ke Bangka

Muntinghe

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Kekalahan pasukan militer Belanda pada Dua pertempuran besar, yakni pertempuran di Koeboebangka (Bangkakota) pada 17 September 1819 oleh pasukan Depati Bahrin dan pertempuran di Gambora (Palembang) pada 21 Oktober 1819 oleh Pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II dari Kesultanan Palembang Darussalam di garis pertahanan Kembara-Plaju, menyebabkan frustasi yang mendalam bagi Laksamana Muda Wolterbeek dan Komisaris Muntinghe.

Sebelum meletusnya pertempuran, Dua petinggi militer dan sipil Belanda yaitu Wolterbeek dan Muntinghe begitu yakin akan dapat menaklukkan Palembang dan Bangka dengan mudah.

Sebelum meletusnya pertempuran, Wolterbeek, sempat mencoba jalur diplomasi dengan angkuh meminta Sultan agar menyerah tanpa syarat. Namun, upaya tersebut sia-sia, sultan dengan bijaksana membalas permintaaan tersebut dengan sikap ramah dan menunjukkan rasa digjaya sebagai sultan yang berdaulat.

Pada tanggal 21 Oktober 1819, pertempuran penentu pecah. Armada ekspedisi Belanda dihantam habis-habisan oleh meriam Kesultanan Palembang dan dukungan ketangguhan benteng yang dibangun sehingga pasukan militer Belanda dipaksa mundur dengan kerugian personel dan material yang sangat besar.

Setelah armada Belanda mundur ke jarak aman di dekat Pulau Salahnama, sang Laksamana Wolterbeek masih mencoba peruntungan dengan mengirimkan surat-surat diplomatik. Sultan Badaruddin II membalas surat-surat tersebut dengan sikap yang sangat ramah namun penuh dengan nada superioritas yang menunjukkan bahwa dirinya berada di atas angin.

Gagal baik di medan perang maupun di meja perundingan, pasukan Belanda akhirnya mundur sepenuhnya menuju muara Sungai Musi dan membangun garis pertahanan baru di Mentok Pulau Bangka.

Kekalahan Belanda di Palembang segera memicu kembali pergolakan di distrik-distrik wilayah Selatan pulau Bangka.

Kondisi yang membara di Pulau Bangka menyebabkan Muntinghe harus berangkat pulang lebih awal tanggal 7 November 1819 dan tiba di Kota Mentok pada 8 November 1819.

See also  4 Oktober 1946, Ir. Th. A. Resink Melayangkan Protes Pada Pidatonya Karena Perlakuan Berbeda Terhadap Kelompok Asosiatif Dalam Konferensi Pangkalpinang

Di Kota Mentok sebagai pusat keresidenan dan kekuatan militer Belanda di pulau Bangka ditemuinya dalam suasana tegang dan mencekam.

Puncaknya memakan korban jiwa dari elit Belanda, M.A.P. Smissaert, Residen Bangka, seorang pejabat tertinggi Belanda di satu keresidenan yang pergi ke Distrik Pangkalpinang untuk memantau situasi secara langsung (inspeksi), disergap dan dibunuh oleh pasukan Depati Bahrin dalam perjalanan pulangnya pada 14 November 1819.

Ketika berita resmi mengenai kekalahan total militer Belanda di Palembang menyebar luas di Bangka, perlawanan rakyat Bangka langsung meledak hampir di seluruh distrik.

Sementara itu meskipun misi militernya gagal total di Palembang, sang Laksamana Muda Wolterbeek mencoba mencari pelipur lara dalam catatan harian pribadinya.

Pada tanggal 7 November 1819, Ia menuliskan pembelaan diri: “Saya merasa senang karena merasa puas dengan semua orang yang mendampingi saya. Tidak ada satu pun perwira maupun prajurit bawahan Eropa yang melalaikan tugas… Semua orang telah melakukan hal yang mustahil demi menyukseskan tujuan ekspedisi ini; namun urusan ini terlalu berat bagi kami.”

Ia memuji disiplin pasukannya yang dianggap bertempur dengan ambisi luar biasa tanpa adanya cela sekecil apa pun (Kemp, 1900: 613).

Kegagalan Dua petinggi militer dan sipil Belanda berimbas pada akhir dari karier mereka di wilayah Palembang dan Bangka; Muntinghe, berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal tertanggal 18 November 1819, Ia menyerahkan kekuasaan sipilnya kepada Letnan Kolonel W.J. Keer dan angkat kaki kembali ke Batavia pada 25 Desember 1819.

Kiprahnya dalam sejarah Palembang dan Bangka resmi berakhir sementara itu Wolterbeek yang tersungkur pada palagan Palembang, pada tanggal 18 Februari 1820 dikirim ke Riau dan Lingga yang situasinya juga bergejolak. Setelah berhasil memulihkan ketertiban di sana, Wolterbeek kembali ke Jawa pada pertengahan April 1820.

See also  5 Agustus 1999, Peresmian Pemugaran Kelenteng Kwan Tie Miaw Setelah Musibah Kebakaran pada 22 Februari 1998.

Pimpinan sipil dan militer di Bangka kemudian diserahkan kepada Letnan Kolonel Keer.

Perjuangan rakyat Bangka melawan penjajah terus berlanjut dengan sengit. Pasukan Belanda dipaksa memeras keringat dan menghabiskan waktu setahun penuh berikutnya hanya untuk meredam perlawanan yang pasang surut di pulau penghasil timah tersebut.


*Ilustrasi kekecewaan petinggi Belanda, mundurnya pasukan kolonial dan bangkitnya semangat perlawanan rakyat Bangka (generate picture: AI)

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Related Images:

Comments

comments