8 Agustus 1850, Surat Inspektur Pajak No. La. J, Rahasia; Bt 17 September 1850, No. 1, bahwa Sebagian Penduduk Layang dan Tanjung Mantung Membenci Depati Amir.

FormasikekuatanpasukanBelandadalammenghadapiDepatiAmirhasilolahan_20260808_053510_000

Oleh. Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Setiap perjuangan pasti ada kelompok kelompok yang karena kepentingannya terganggu menjadi penghalang dan berkhianat pada perjuangan yang dilakukan oleh teman atau bangsanya sendiri.

Pengkhianatan juga dialami oleh Depati Amir, pejuang Bangka yang berperang melawan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848-1851. Depati Amir ditangkap pada tanggal 7 Januari 1851 juga karena pengkhianatan dan oleh orang orang atau barisan yang bertujuan mendapatkan hadiah, karena Depati Amir dihargai 1000 Sp. Matten atau 1.000 koin dolar perak Spanyol.

Dalam suatu surat yang ditulis Inspektur Pajak yang bertugas di Bangka kepada Menteri Negara tertanggal 8 Agustus 1850 disebutkan, bahwa sebagian penduduk Layang ada yang membenci Depati Amir. Ia mengaku didatangi sejumlah kepala kampung, ulama, beberapa nelayan dari Layang dan Tanjung Mentong (Mantung), dan mereka memohon kepadanya untuk segera menghentikan aktivitas Amir. Mereka menganggap Amir sebagai sosok yang menjerumuskan masyarakat dan menciptakan keonaran, tidak saja di darat tetapi juga di perairan.

Dalam kesempatan lain, pegawai pajak ini juga pernah didatangi seorang kepala kampung Cina di Layang yang membocorkan keberadaan persembunyian Depati Amir yang saat itu berada dalam keadaan payah, dan meminta pasukan Belanda segera menangkap Amir.

Pemberontakan Amir memang menyebabkan lumpuhnya perekonomian masyarakat. Sebanyak 5000 pekerja tambang menjadi pengangguran, termasuk orang-orang Tionghoa, yang sebagian telah menghilang (ada yang ikut berjuang dengan Depati Amir). Perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir sangat mendapat perhatian serius dari Batavia karena penghasilan negara dari pertambangan Timah menjadi merosot.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Jacob Rochussen (memerintah Tahun 1845-1851 Masehi) secara khusus mengirimkan seorang komisaris bernama H.J. Severijn Haesebroek untuk menjajaki berbagai perundingan dengan Depati Amir dan menyusun langkah-langkah mendasar guna penyelesaian peperangan di pulau Bangka.

See also  3 April 1851, Residen Bangka Mengeluarkan Besluit tentang Hukuman Orang yang membantu Depati Amir.

Komisaris H.J. Severijn Haesebroek dalam upayanya menyelesaikan perlawanan rakyat Bangka, menawarkan janji-janji kepada Depati Amir, seperti akan membebaskan keluarganya yang ditahan, memberikan tunjangan gaji sebesar f 50 (50 gulden) sebulan serta mendirikan kampung untuk kediamannya, bila Depati Amir menyerah kepada pemerintah.

Semua tawaran dan janji tersebut kemudian ditolak dengan tegas oleh Depati Amir. Penolakan perundingan perdamaian oleh Depati Amir, ditanggapi oleh komisaris H.J. Severijn Haesebroek dengan meminta kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mengirimkan bala bantuan militer yang lebih besar lagi ke pulau Bangka.

Berdasarkan data Sejarah, bahwa sampai dengan tanggal 7 Oktober 1850 telah dikirim sebanyak sekitar 15 perwira dan 312 manschappenn termasuk de 6de kompagnie Afrikanen, yaitu pasukan, prajurit, atau personil militer kelas bawah (bukan perwira), termasuk Kompi ke-6 Afrika yang seluruh anggota pasukan militer di dalamnya mencakup para prajurit dari Kompi ke-6 yang beranggotakan orang-orang Afrika (awal istilah Londo Ireng).

Selanjutnya Pada Akhir bulan Oktober 1850 kekuatan militer Belanda di Bangka bertambah menjadi 325 manschappen. Pasukan Militer Belanda tersebut tersebar hampir di seluruh pelosok Pulau Bangka berada pada sekitar 15 pos militer, belum termasuk pasukan yang berada di kapal- kapal perang uap yang memblokade pulau Bangka.


*keterangan gambar: Formasi kekuatan pasukan Belanda dalam menghadapi Depati Amir, hasil olahan penulis dari buku W. A. Van Rees, Wachia, Taykong En Amir, of Het Nederlandsch-Indisch Leger in 1850, Rotterdam, H. Nijgh. 1859

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments