24 September 1819, Nakhoda kapal Buyskes menolak mengevakuasi pasukan Kapten Laemlin yang kelelahan dan luka luka dari Koba menuju Pangkalpinang

IMG_202609267_065431389

Oleh Dato’ Akhmad Elvian DPMP, CECH, CIRBC*)


Setelah pertempuran di Bangkakota Tanggal 17 September 1819, pasukan Darat yang dipimpin Kapten Laemlin yang menganggap telah memperoleh kemenangan terus memobilisasi pasukannya berangkat kembali menuju Pangkalpinang melalui Koba. Pasukan Laemlin menganggap kemenangan telah mereka raih, apalagi Pasukan Depati Bahrin telah membumi hanguskan benteng dan kampung Bangkakota untuk selanjutnya pergi menuju Kotawaringin dan Nyireh melanjutkan perang gerilya.

Prajurit Kapten Laemlin, yang kelelahan dan kebanyakan luka luka bergerak menuju Koba dan bencana bagi pasukanpun terjadi karena pasukan yang kelelahan dan luka luka tidak dapat lagi leluasa bergerak melalui darat dan harus dievakuasi melalui jalur laut.

Kapten Laemlin mencoba meminta bantuan kepada armada laut. Namun, tanggapan yang Ia terima adalah penolakan demi penolakan.

Rosier, Nakhoda kapal Buyskes dalam suratnya tertanggal 24 September 1819, menuliskan penolakan yang getir: “Saya sangat menyesal karena tidak dapat mematuhinya. Saat ini 26 anak buah kapal dan semua perwira saya sakit, termasuk mualim. Terlalu berbahaya membiarkan sekoci kami pergi kosong tanpa perwira di pesisir yang penuh dengan bajak laut ini.”.

Harapan terakhir Kapten Laemlin meminta bantuan pada Tuan Vernet, Inspektur distrik yang menguasai puluhan perahu di sepanjang pesisir. Namun, Vernet menolak dengan alasan sedang sibuk memuat kapal Auspicious dengan Timah. Padahal, di mata para prajurit, Vernet jelas memiliki armada yang lebih dari cukup untuk menyelamatkan pasukan dari Koba.

Akibat penolakan itu, pasukan yang kelelahan dan luka luka terpaksa harus menempuh jalur darat kembali menuju Pangkalpinang.

Mereka tiba di Pangkalpinang pada 1 Oktober 1819, namun kondisi mereka sangat memprihatinkan. Kemarahan atas situasi ini tampak dalam laporan Kolonel Bischoff, komandan pasukan darat. Dengan nada menyindir dan penuh amarah, ia menulis kepada Laksamana Pertama Wolterbeek Wolterbeek: “Betapa tuan-tuan itu (Vernet dan Rosier) lebih menghargai beberapa pikul timah daripada ratusan prajurit kita! Sekitar 45 orang di antaranya harus tewas akibat demam karena luka luka yang membusuk karena dipaksa menghabiskan 10 hingga 12 hari dalam kesengsaraan perjalanan di Koba.”

Bagi para penguasa seperti kepala distrik yang merangkap kepala pertambangan, perdagangan, bisnis Timah jauh lebih berharga daripada nyawa manusia.

See also  8 September 1951, Kunjungan Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno ke Pulau Bangka

Dampaknya luar biasa merugikan. Dari 235 prajurit yang dikirim dalam ekspedisi ke Bangkakota, hanya 80 orang prajurit yang dinyatakan masih mampu berdiri untuk bertempur. Sisanya 1 perwira dan 45 prajurit tewas, sementara puluhan lainnya luka-luka dan sekarat terbaring di rumah sakit dan menunggu kematian.

Kegagalan perang melawan rakyat Bangka di Bangkakota mengacaukan rencana besar Laksamana Pertama Wolterbeek yang tengah bersiap menggempur Palembang.

Tragedi ini membawa Wolterbeek dalam pusaran kekecewaan. Karena evakuasi laut gagal, kapal Buyskes yang seharusnya menyusuri Sungai Musi terpaksa dialihkan ke Mentok hanya untuk menurunkan ratusan prajurit yang sakit dan terluka. Akibatnya, kapal-kapal perang yang tersisa menjadi sangat padat dan tidak memadai.

Namun, Wolterbeek tidak punya waktu lagi. Alam adalah musuh utama mereka karena musim penghujan yang buruk sudah siap menghantam persiapan mereka di Mentok. Ditambah lagi, kondisi di muara Sungai Musi, terdapat gosong yang berbahaya.

Kapal-kapal perang berpenampang dalam, hanya bisa melintas saat air pasang tertinggi yaitu ketika bulan mati atau bulan purnama. Melewatkan waktu beberapa hari saja berarti menunda seluruh ekspedisi utama dan membiarkan musuh memperkuat pertahanannya.

Di tengah bayang-bayang kegagalan perang di Bangkakota, armada tersebut terpaksa terus melaju menuju Palembang, membawa sisa-sisa pasukan yang terluka dan waktu yang kian menipis.

Selengkapnya kejadian sejarah atau tragedi memilukan bagi pasukan Belanda dapat dipelajari dari buku: Palembang En Banka In 1816-1820, P. H. Van Der Kemp: “Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1900, halaman 566,567,568.


*gambar:
Lithograph of Constantijn Johan Wolterbeek (1766-1845), a Dutch vice-admiral in the navy (sumber Wikimedia Commons). Pemimpin Pasukan Belanda dalam ekspedisi Penaklukan Palembang dan Bangka Tahun 1819

See also  27 Agustus 1905, Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tentang Peraturan Umum Penambangan timah di Bangka yang mengatur pemulangan tenaga kerja ke Tiongkok

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

Comments

comments