8 Mei 1849, Surat Direktur Sumber Keuangan dan Barang-Barang Milik Negara, Nomor 935, Tentang Usul Pembagian Tambang Sungailiat dan Merawang.

IMG-20260507-WA0003

Dato’ Akhmad Elvian*)


Kepada Residen Banka telah diberikan saran dan pertimbangan oleh pemerintah pusat berdasarkan Surat Tanggal 8 Mei 1849, Nomor 935, dari Direktur Sumber Keuangan dan Barang-Barang Milik Negara serta Direktur Jenderal Keuangan tentang usulan pembagian tambang di distrik atau wilayah Sungailiat dan Merawang sudah dibahas dan akan diputuskan penetapannya.

Dalam Algemeen Verslag der Residentie Banka Over Het Jaar 1850, bundel Bangka Nomor 41, dijelaskan tentang pemisahan antara administrasi pertambangan (tinmynen) dan administrasi pemerintahan (bestuur) District Soengyliat und Marawang menjadi Dua distrik yaitu Distrik Sungailiat dan Distrik Merawang.

Dalam laporan Belanda tersebut, bahwa pemisahan menjadi Dua distrik sudah berkali-kali diusulkan oleh Residen Bangka, kepada pemerintah di Batavia terakhir Tanggal 4 November Tahun 1850 dengan surat Nomor 1964 dan pada Tanggal 26 Januari 1851 berdasarkan surat Nomor 14.

Usulan pemisahan Satu Distrik Sungailiat-Merawang menjadi Dua distrik yang terpisah, didasari atas rumitnya permasalahan pengelolaan pertambangan dan pemerintahan di Dua wilayah yaitu Merawang dan Sungailiat serta luasnya Dua wilayah tersebut jika tetap disatukan dalam satu distrik (pada distrik Merawang terdapat 1 tambang besar yaitu di daerah lembah Cengal yang oleh penambang Timah Cina disebut Lokiufun). Distrik Soengy-Leat en Marawang (Sungailiat dan Merawang) mulai dipisahkan berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor 4, Tanggal 28 Maret Tahun 1851.

Berdasarkan Kaart van het Eiland Banka (cartographic material) volgens de topographische opneming in de jaaren 1852 tot 1855, karya L. Ullman, diterbitkan di Batavia Tahun 1856, tercatat kampung dan tambang di distrik Marawang, antara lain kampung Batoe Roesfak, Djoerong, Tjingal, Kambanit, Kimak, Sempang, Reding Pandjang, Marawang, Poeding, Laboe, Nibong, Tanabawa, Sain, Kotto Waringin, Kloembi, Boejan, Moendar dan Payakang.

See also  Marahnya Depati Amir Ketika Perang Bangka Melawan Belanda

Selanjutnya pada distrik Soengi Leat terdapat kampung dan tambang di Soengi Leat, Mangkoeloel, Tjet, Kajoe Arang, Ayer Segambier, Ayer Lajang, Pankal Lajang, Boekit, Neoret, Mabat, Mangah, Bakem, Ailekka Dalil, Tiangtara, Nienang, Njalauw, Poeding, Penjamoen, Doeren, Parit Padang, Rebo.

Dalam peta yang dibuat sekitar Tahun 1932: Res. Bangka en Onderh. Digital Collections, Leiden University Libraries  KK 083-04-01/085-04-10_075-05978–074 dan KK 083-04-01/085-04-10_079- 05978–078, bahwa sampai sekarang masih sangat banyak terdapat Toponimi kampung kecil (native village) di Distrik Sungailiat dan Merawang yang merupakan kampung terbentuk dari tambang seperti; Tonghin, Parit Paknginjoen, Hasitfoen, Songtjhitfoen, Tjoihin, Kongpoi, Lokioefoen, Sinkioefoen, Tethap, Lipak, Sinli, Songhin, Tetlie, Siehin dan Njanhin.

Nama nama kampung dalam dialek Hakka sangat familier penyebutannya oleh masyarakat Bangka saat ini, baik oleh Orang Tionghoa Bangka sendiri maupun oleh orang Melayu Bangka.


+) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

*Keterangan Gambar: Chinese wajang te Merawang – stereoscopic view, public domain photorpaphChinese wajang bij de tinmijn te Merawang op Banka. Onderdeel van een groep stereofoto’s van Robert Julius Boers, chef van het staatsbedrijf de Banka-tinwinning op Banka, uit de periode ca. 1900-1922. (restoration & recoloring: Jelajah Bangka)

See also  Sejarah Penemuan Timah Di Pulau Bangka.

Comments

comments