9 Agustus 1850, Laporan Belanda Nomor 358, Menyatakan Kekacauan di Banyak Distrik di Keresidenan Bangka Pada Tahun 1850.

IMG_202608221_05035907

Oleh. Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Berdasarkan laporan Belanda Tanggal 9 Agustus 1850, Nomor 358, dinyatakan, bahwa ketenangan di banyak distrik di Keresidenan Bangka pada tahun 1850 menjadi kacau karena pemberontakan yang dilakukan Depati Amir.

Para penguasa pribumi dan rakyat tanpa kekuatan melakukan perlindungan diri, lalu bergabung dengan Depati Amir atau setidaknya dengan kelompoknya Depati Amir di distrik-distrik dimana pemberontakan berlangsung.

Depati Amir, begitu Ia disapa, gelarnya oleh orang Eropa sebagai “Orang Yang Berbahaya” (ist ein gefahrlicher Mensch), pemberontakannya di Keresidenan Bangka melawan pemerintah Hindia Belanda mengguncang jagat Batavia,

Bangka dalam status “staat van beleg” (darurat perang), tidak kurang dari 4 kompi dari 2 batalyon pasukan infanteri dikirim ke Bangka untuk menumpasnya, sedikitnya 5 kapal perang uap canggih, memutus hubungan Depati Amir dengan sekutu-sekutunya, batin-batin orang Laut dan orang Lingga serta Lanun.

Iapun dikhianati, dikejar, dikepung dan kepalanya dihargai dengan nilai fantastis: 1000 dolar perak Spanyol (Sp. matten), Ia ditangkap dan dibuang tanpa disidang secara estafet dari hutan Mendo Barat-markas militer Bakem- Kapal Uap Onrust di teluk Kelabat-Mentok-Batavia-Surabaya dan akhirnya ke Kupang Keresidenan Timor.

Peristiwa sejarah besar (great historical event) pemberontakan Amir adalah drama perjuangan yang patut ditulis dalam goresan tinta emas Sejarah Nasional, dan jerih perjuangannya kemudian dicatat dan ditetapkan sebagai seorang Pahlawan Nasional dari Kepulauan Bangka Belitung.

Kenyataan kekalahan yang sangat pahit diderita militer Belanda, dan ini sangat memalukan, diakui sendiri oleh W.A. van Rees, seorang petinggi militer Belanda, dalam buku yang ditulisnya: Wachia, Taykong En Amir, of Het Nederlandsch-Indisch Leger in 1850, Rotterdam, H. Nijgh. 1859:

Pasukan-pasukan yang didatangkan itu berturut-turut kembali ke Jawa. Mereka tidak dapat berbangga pada perwira-perwira perang yang gemilang, pada kemenangan yang diperoleh dalam asap mesiu dan genangan darah; mereka hanya menunjuk pada wajah-wajah mereka yang lesu, tak sehat pada anggota-anggota badan mereka yang kurus, pada tempat-tempat yang kosong dalam barisan mereka dan pada rumah sakit Mentok yang penuh”.

Residen Bangkapun bersurat kepada Gubernur Jenderal, ditulis di Belinju pada tanggal 26-1-1851/ XIV-A (ANRI:BL: 25-3-1851 Nomor 13 hal.3): …”bahwa pemberontak Amir banyak punya kepentingan besar, dan bilamana tak tepat waktu ambil tindakan keras diubah (tindakan militer), pemerintah Bangka masih bertahun lamanya dengan kesulitan yang sangat itu, akan mendapat kesulitan”.

See also  Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 09, Toponimi Tempilang.

Amir memang memiliki kepentingan dan cita-cita besar, eschatologi perjuangannya adalah membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan.

Sang Residen Belanda F. van Olden pun berkeluh kesah dalam bukunya De muiterij van Amir, dan mengkambinghitamkan “alam”, dikatakan van Olden: betapa sulitnya medan perang di pulau Bangka yang terdiri dari lembah, sungai, bukit, rawa-rawa, padang ilalang dan hutan belantara yang sulit ditembus sehingga menyulitkan upaya penangkapan Depati Amir. Sungguh suatu pembelaan diri, atas ketidakmampuan menghadapi “Perang Gerilya Amir”.

Kegagalan militer dalam mengatasi pemberontakan Amir di Bangka hanya sedikit diberitakan. Dalam surat 27 Januari 1851 nomor 1, berita dari Departemen militer, dikabarkan tentang banyaknya tentara Belanda yang harus dipulangkan dari Bangka (Kompi ke-4 Batalyon I, Kompi Afrikaansche Flank-Kompagnie, Batalyon ke 12, Pasukan dari kapal perang uap Onrust, Bromo dan Tjipanas).

Tentara ekspedisi yang didatangkan dari pulau Jawa dan Palembang diminta segera dipulangkan dari Bangka ke Batavia sedikitnya menggunakan tiga kapal Api yaitu; kapal api “Batavia‟, kapal api “Onrust‟ dan kapal api “Tjipanas‟.

Selanjutnya diberitakan pada tanggal 13 Maret 1851, militer Belanda dari Kompeni ke- 4 Batalyon ke I Infanteri, mulai bulan ini (Maret) akan kembali ke Batavia.

Berita-berita tentang perang di Keresidenan Bangka menyita waktu yang cukup panjang, hampir berlangsung 4 tahun (dari Tahun 1848-1851), bahkan berita tentang Amir masih berlanjut hingga kematian menjemputnya di pengasingan Koepang, Keresidenan Timor pada tanggal 28 September 1869.

Antara tahun-tahun tersebut berserakan laporan berupa surat dan besluit pemerintah Belanda terkait pemberontakan Depati Amir. Bahkan dalam Algemeen Verslag 1851 disebutkan

”…Hukuman yang keras berlaku baginya, kemungkinan hukuman mati bagi kepala pemberontak Amir yang melakukan perlawanan bersenjata secara terbuka terhadap pemerintah yang sah….”.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #80, Masjid Istiqomah, Sarangmandi

Keterangan gambar: Kapal Uap Onrust. dipulangkan dari Bangka ke Batavia, dalam surat 27 Januari 1851 Nomor 1, setelah digunakan Militer Belanda dalam Perang Bangka melawan Depati Amir, sumber: id.wikipedia.org/wiki/Perang_Barito).

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments