IMG-20260726-WA0001


Oleh : Meilanto


Pada bagian ini, Buddingh menuliskan tentang beragam Hewan liar di Bangka seperti kera, ular, dan kambing hutan. Selain itu ia juga menulis tentang damar dan ladang ume. Yang menariknya lagi, ia menulis batu bezoar.

Berdasarkan penelusuran internet dan ciri-ciri yang dituliskannya, diduga batu bezoar yang dimaksud adalah batu buntat dalam bahasa Melayu Bangka.

Simak tulisannya pada halaman 29-30 pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.

Ofschoon er, behalve een aantal andere wilde diersoorten, zoovele apen, slangen en wilde geiten op Banka zijn, komt daar echter de zoogenaamde bezoàr-steen niet voor (1). Deze steen, bij de inlanders bekend onder den Maleischen naam van Batoe-goeliga , wordt, naar men beweert, in den kop of in de maag van eenige apen, wilde geiten, rinocerossen en slangen, (2)
op Sumatr a (in Indrapoer a en Siak) en Borneo gevonden, en is bij de Orang-Pharsi (Persen) bekend onder den naam van “wegspoeler van het vergif” (Pazahr-Pâdzahr). Op Borneo is deze steen een duur en belangrijk handels-artikel, en te Bandjarmassing zag ik er een’, die door een Dayakseh opperhoofd (ik meen van Bintoclo, een distrikt aan de noord- westkust) was medegebragt. Door den Sekretaris van Borneo’s zuid – en ooster-Afdeeling, bij wien dit opperhoofd een
bezoek afleide, werd de steen dadelijk als de Batoe-goeliga erkend. Naar gissing was hij zoo groot als een kers, docli ovaal en eenigzins plat, glanzend-bruin van kleur en zeer glad. Men zegt, dat de steen een probaat middel is tegen bloed spuwing, wanneer men hein, of een stukje er van, in den mond houdt en het speeksel doorslikt Desgelijks komt onder de harsen en gommen van Banka de welriekende menjan of kamenjan (waarvan reeds dikwerf in deze bladzijden gesproken is,) niet voor. Van deze gom (assa of benzoë of benzoin) leest men, dat ze harsachtig is, en, even als de gommen uit sommige vrucht-boom-soorten, van zelfs uit den benzoin-boom druipt, als men eene insnijding in den bast gemaakt heeft. Men vangt echter de druppels niet op, maar laat ze aan den stam zoo lang vastkleven, totdat ze opgedroogd en door de zon gekristalliseerd zijn. In dezen toestand is de gom korrelig, en grijs of bruin of soms wit, en vaak ook zwart van kleur. De boom wordt gemeenlijk 1 à 2 voeten dik bij eene boogie van 30 à 40 voeten. Als hij 3 jaren, of soms eerst als hij 6 à 7 jaren, oud is, geeft hij vijf jaren lang de gewenschte Menjari, doch niet meer dan 2 à 2 1/2 Amst. ponden ‘s jaars, en begint dan te sterven. Het menigvuldigst komt hij voor in de Batta – landen van Sumatra en in het rijk Broenaï op Borneo.

Uit eerstgemelde of uit de Batta-landen worden jaarlijks 6,000 a 6,500 pikols menjan naar Baros, Sinkel en Tapoes gebragt. De verzending geschiedt in vaten of kisten, waarin de gom bij gansche stukken of groote brokken gepakt wordt.

De zwart e soort is het minst gezocht, en kost slechts ƒ 30 per pikol of per 125 Amst. ponden. De witte soort daaren-tegen is de duurste en kost soms ƒ 70, terwijl de grijs-
bruin e of middel-soort ad f 50 per pikol verkocht wordt. Het artikel wordt vooral gezocht door de Arabieren, Chinezen
en Japanners. De Japanners, leest men, maken er den tabak geurig mede, en de Chinezen branden het in de klinting s
of tempels (teipckkong’s), terwijl de Maleijers en Javanen het bij de graven hunner betrekkingen ontsteken, of het, bij
de offerande van rijst en vruchten aan oude bronnen, grotten en boomen, iu halve kokos-doppen branden. Van de inlandsche bevolking van Banka leest men, dat ze
verdeeld is, even als op Billiton , in orang-darat oforang-goenong en orang-seka of orang-laut. De orang darat of landbewoners, – dat is, de bevolking in het binnenland, – planten een weinig koffij, en verbouwen rijst of padie ladang’s of hooge gronden. De opbrengst dezer ladang’s of tifar’s is echter zoo gering, dat er jaarlijks eene groote hoeveelheid rijst van Java naar Banka wordt aangevoerd. Van de orang—seka of water- of zee-menschen zal ik in den loop mijner reis over Banka, en dus later, gelegenheid hebben te gewagen.

Maksudnya
Meskipun di Pulau Bangka terdapat beraneka ragam hewan liar lainnya—seperti kera, ular, dan kambing hutan—namun apa yang disebut batu bezoar tidak ditemukan di sana (1). Batu ini, yang dikenal penduduk setempat dengan sebutan Melayu Batu Guli, dikabarkan terdapat di dalam kepala atau perut jenis kera, kambing hutan, badak, dan ular tertentu (2) di Sumatera (daerah Indrapura dan Siak) serta Kalimantan. Di kalangan bangsa Persia, batu ini dikenal dengan nama “penawar racun” (Pazahr-Pâdzahr).

See also  7 Juli 1920, Pabrik Pencucian Timah Pertama Belitung Dioperasikan di Aik Sijuk Distrik Tandjongpandan.

Di Kalimantan, batu ini merupakan barang dagangan yang sangat berharga dan bernilai tinggi. Ketika saya berada di Banjarmasin, saya pernah melihat satu buah batu yang dibawa oleh seorang kepala suku Dayak (seingat saya dari Bintulu, sebuah wilayah di pesisir barat laut). Sekretaris Karesidenan Kalimantan Selatan dan Timur, yang menjadi tempat tinggal kepala suku tersebut saat berkunjung, langsung mengenali batu itu sebagai Batu Guli. Bentuknya diperkirakan sebesar buah ceri, namun lonjong dan agak pipih, berwarna cokelat mengkilap, serta permukaannya sangat halus. Konon batu ini sangat ampuh mengobati batuk berdarah, caranya dengan memegang batu atau sepotong kecilnya di dalam mulut lalu menelan air liurnya.

Demikian pula, di antara getah dan damar yang dihasilkan Pulau Bangka, tidak terdapat menjan atau kemenyan yang wangi (yang sudah sering disebutkan dalam catatan ini). Getah ini—dikenal juga sebagai assa, benzoa, atau kemenyan—bersifat seperti damar; sama seperti getah dari beberapa jenis pohon buah, ia akan menetes sendiri dari pohon kemenyan setelah kulit batangnya disayat. Namun tetesan itu tidak langsung ditampung, melainkan dibiarkan menempel pada batang hingga kering dan mengkristal terkena sinar matahari. Dalam keadaan demikian, getah itu berbentuk butiran, berwarna kelabu, cokelat, kadang putih, dan sering kali hitam.

Biasanya batang pohon ini berdiameter 1 hingga 2 kaki dengan tinggi mencapai 30 hingga 40 kaki. Mulai berumur 3 tahun—atau kadang baru pada usia 6 hingga 7 tahun—pohon ini akan menghasilkan kemenyan selama lima tahun berturut-turut, namun jumlahnya tidak lebih dari 2 hingga 2,5 pon Amsterdam setiap tahunnya, setelah itu pohon itu akan mati. Kemenyan paling banyak ditemukan di tanah-tanah Batak di Sumatera dan Kesultanan Brunei di Kalimantan. Dari daerah Batak saja, setiap tahun dikirimkan 6.000 hingga 6.500 pikul kemenyan ke pelabuhan Barus, Singkel, dan Tapus. Barang ini dikemas dalam tong atau peti, berupa potongan utuh atau gumpalan besar. Jenis yang berwarna hitam paling sedikit dicari, harganya hanya 30 gulden per pikul (atau per 125 pon Amsterdam).

See also  6 Juni 1949, Merupakan Hari Spesial Bagi Bung Karno di Tempat Pengasingan Pulau Bangka.

Sebaliknya, jenis yang berwarna putih adalah yang paling mahal, harganya bisa mencapai 70 gulden, sedangkan jenis kelabu-cokelat atau kualitas menengah dijual seharga 50 gulden per pikul. Barang ini sangat dicari oleh pedagang Arab, Tiongkok, dan Jepang. Konon bangsa Jepang menggunakannya untuk memberi wangi pada tembakau, sedangkan bangsa Tiongkok membakarnya di kelenteng atau tempat ibadah mereka. Sementara orang Melayu dan Jawa membakarnya di makam kerabat, atau bersama persembahan beras dan buah-buahan di mata air purba, gua, atau pohon keramat, dengan wadah tempurung kelapa yang dibelah dua.

Penduduk asli Pulau Bangka, sama halnya dengan di Belitung, terbagi menjadi dua golongan: orang darat atau orang gunung, serta orang seka atau orang laut. Orang darat adalah penduduk yang mendiami pedalaman; mereka menanam sedikit kopi serta mengusahakan sawah ladang di dataran tinggi untuk menanam padi. Namun hasil panen ladang ini sangat sedikit, sehingga setiap tahun beras dalam jumlah besar harus didatangkan dari Jawa ke Bangka. Tentang orang seka atau penduduk pesisir dan laut, saya akan menceritakannya lebih lanjut sepanjang perjalanan saya menyusuri pulau ini nanti.


Keterangan gambar; Macaca fascicularis (Kera). Sumber : Google

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments