IMG-20260826-WA0018


Oleh : Meilanto


Setelah melakukan perjalanan hampir di seluruh wilayah Pulau Bangka, saatnya Buddingh meneruskan perjalanannya ke Palembang seperti yang ia tulis dalam bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857

In de eerste dagen van November deed zich eene gunstige gelegenheid voor mij op, om de Residentie Palemban g te bezoeken.

Z. M. Schoener Aruba , voor Muntok gestationneerd, zou op den 10, den voor cenige dagen uitloopen om schiet-oefenin-gen te houden, en de Kommandant van dezen oorlogsbodem, de heer MOETH, …(dan seterusnya)

Maksudnya
Pada awal bulan November, muncul kesempatan yang baik bagi saya untuk mengunjungi Keresidenan Palembang.

Z.M. Schoener Aruba (maksudnya Kapal Z.M. Schoener),  yang berpangkalan di lepas pantai Muntok, dijadwalkan berlayar pada tanggal 10 untuk latihan menembak sasaran; komandan kapal tersebut, Tuan Moeth, dengan baik hati mengatur agar Aruba sekaligus dapat mengantar saya dan istri ke Kampung Soensang—yang terletak di kwala, atau muara Sungai Palembang (atau Sungai Musi)—serta menjemput kami kembali saat kapal itu pulang pada tanggal 27.

Saya kemudian menyurati Residen Palembang untuk mengabarkan bahwa saya akan tiba di Kampung Soensang pada tanggal 10 November dan meminta agar beliau mengirimkan sebuah “bidar” (perahu tradisional khas Melayu yang panjang, ramping, dan dirancang untuk melaju dengan cepat) supaya kami dapat melanjutkan perjalanan menyusuri sungai menuju Palembang; berkat bantuan Tuan Bousquet, surat tersebut berhasil dikirimkan ke Palembang menggunakan sebuah perahu kecil milik penduduk setempat yang melintasi Selat Bangka saat kondisi laut sedang tenang.

Selanjutnya ia menulis:

In den vroegen ochtend dan van den 10den
waren we reeds tijdig aan het stiand, en roeiden, door eenige ra-vaartuigen en
inlandsche handels-praauwen heen, naar boord van de Aruba, (1) welke slechts op onze komst wachtte om zeil te maken.

(Dan seterusnya)

See also  Kampung Kurau Dalam Catatan Buddingh.

Maksudnya
Pada pagi hari tanggal 10, kami tiba di tepi perairan tepat waktu dan mendayung—menyelinap di antara berbagai kapal layar tiang persegi dan perahu dagang lokal—menuju kapal Aruba (1), yang memang sedang menunggu kedatangan kami untuk segera berlayar.

Sang kapten menyambut kami di atas kapal dengan keramahan khasnya dan dengan baik hati meminjamkan kabinnya yang rapi untuk kami gunakan sementara waktu.

Jangkar diangkat dan layar dibentangkan, namun Aruba tidak beranjak sedikit pun; udara benar-benar tenang dan air teluk begitu tenang serta bening bak kaca, seolah-olah permukaannya bisa ditulisi.

Kami terombang-ambing di area labuh jangkar hingga sekitar pukul sepuluh atau setengah sebelas; sembari menikmati pemandangan indah kota dan benteng yang berdiri kokoh di dataran tinggi, kami juga harus menahan terik matahari yang menyengat.

Akhirnya, embusan angin sepoi-sepoi muncul, membawa Aruba bergerak menjauhi area labuh jangkar melintasi perairan dalam selat tersebut; namun, ketenangan kembali menyelimuti tak lama kemudian, dan menjelang petang kami melabuhkan jangkar di lepas pantai timur Sumatra—masih dalam jarak pandang tiang bendera di benteng Muntok, serta terletak di antara muara Sungai Musi dan Sungai Banyu Asin (atau Assam-pipi), atau mungkin di dekat muara Sungai Jambi.

Pada pagi hari tanggal 11 November, hujan turun dan angin bertiup cukup kencang, meski arahnya tidak menguntungkan. Kendati demikian, Aruba bermanuver dengan lincah—meski dalam jarak-jarak pendek karena sempitnya alur pelayaran—bergerak zig-zag melawan arah angin di antara beting lumpur dan gosong pasir, hingga tak lama kemudian tiba di sekitar Sungai Musi.

Di sana, arus yang baru saja mulai mengalir masuk ke sungai, menarik kapal dengan kuat dan dalam sekejap membawanya masuk ke muara Musi; kapal segera melabuhkan jangkar di lepas pantai Kampung Soensang, kampung pertama di wilayah Keresidenan Palembang, sebuah daerah dengan populasi penduduk sebanyak 380.074 jiwa.

See also  2 Mei 1949, Dari Menumbing Bangka Bung Hatta Ingatkan Bahaya Komunisme.

1). Awak kapal Aruba terdiri atas Tuan O. W. F. Moeth, Komandan; G. M. Huussen, Letnan Laut Kelas 2 (kini Kelas 1); dan A. de Meijer, Petugas Medis Kelas 2 (kini Kelas 1)


Foto : Muntok. Landingssteiger. Ca. 1907-1919. Sumber : Rijksmuseum.nl. Pewarnaan AI.

Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments