Kampung Kurau Dalam Catatan Buddingh.

IMG-20260708-WA0008


Oleh : Meilanto

Dalam arsip Belanda, catatan perjalanan Buddingh sangat menarik untuk disimak. Dalam bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini sangat detail menceritakan perjalanannya di Hindia Belanda yang kini bernama Indonesia.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.
Salah satunya yang ia tulis saat melewati Kampung Kurau pada halaman 68:

Bij kampong Koerouw, – alwaar men een gepalissadeerd en door draaibussen verdedigd huis ziet, waarin inlandsch Hoofd met den titel van Demang woont, moet men de Soengi van Koerouw oversteken. Deze breede rivier werd voorheen vaak door zeeroovers bezocht, en schijnt ook de ge-liefkoosde soengi voor eene andere soort van roovers te zijn, namelijk voor de boàja’s of kaaimans, die haar zeer on-veilig maken. Koerouw is eigenlijk de naam van zekere visch-soort, en welligt hield zich die visch-soort in vroeger jaren of eeniglijk of zoo menigvuldig in de rivier Koerouw op, dat de visschers dezen stroom door den naam van Koerouw-rivier van de andere rivieren plagten te onderscheiden, zoodat ten langen laatste de naam van den visch en op de rivier èn op de daaraan gelegen kampong is overgegaan.

Jika diterjemahkan dengan Gemini AI sebagai berikut:
Di dekat kampung Kurau,—di mana orang dapat melihat sebuah rumah berpagar tiang kayu (pancalang) yang dipertahankan dengan meriam berputar (lela/lantaka), tempat tinggal seorang Kepala Pribumi bergelar Demang,—orang harus menyeberangi Sungai Kurau. Sungai yang lebar ini dulunya sering didatangi oleh bajak laut, dan tampaknya juga menjadi sungai favorit bagi jenis perampok lainnya, yaitu buaya atau aligator, yang membuatnya sangat tidak aman. Kurau sebenarnya adalah nama jenis ikan tertentu, dan mungkin jenis ikan tersebut pada tahun-tahun sebelumnya menetap secara khusus atau sangat banyak di Sungai Kurau, sehingga para nelayan biasa membedakan aliran sungai ini dari sungai-sungai lain dengan nama Sungai Kurau, hingga akhirnya nama ikan tersebut melekat baik pada sungai maupun pada kampung yang terletak di dekatnya.

See also  Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 10, Toponimi MENTOK.

___________

*Keterangan gambar: Ikan Kurau.

Sumber: Leiden University

Comments

comments