Daftar Burung yang Tercatat dari Pulau Bangka (Bagian 13)

TengkorK buung

Editor: Meilanto

Dikutip dari buku A List of the Birds Recorded from Bangka Island, Indonesia, karya G. F. Mees (1986).


Psittacula longicauda longicauda (Boddaert)

Psittacus longicauda Boddaert, 1783, Table des Planches Enluminées: 53. Malaka.

Bahan koleksi: Spesimen yang tercatat berasal dari beberapa periode pengumpulan, yaitu 1859/1861 (v.d. Bossche, katalog RMNH nomor 7–16); 1869/1872 (Teysmann, diterima di Museum Kolonial pada 1876, sekarang ZMA nomor 23699); 18 September 1872 (Vosmaer, katalog RMNH nomor 24 dan 25); 26 September 1872 (Vosmaer, katalog RMNH nomor 26); 21 Mei 1904 di Tanjong Rengsam (Abbott & Kloss, USNM nomor 180444); 22 Mei 1904 di Tanjong Rengsam (Abbott & Kloss, USNM nomor 180443); 4 Juni 1904 di Tanjong Tedong (Abbott & Kloss, USNM nomor 180445–180447); 20 Juni 1904 di Tanjong Pamuja (Abbott & Kloss, USNM nomor 180448); serta beberapa spesimen yang dikumpulkan Hagen di Persimpangan pada Mei dan Juni 1905.

Kecenderungan populasi spesies ini dan spesies penggantinya (vikarian), yaitu P. alexandri, untuk memperlihatkan peningkatan ukuran tubuh di pulau-pulau yang lebih kecil telah lama dikenal. Fenomena ini bahkan mendorong para peneliti mendeskripsikan sejumlah subspesies baru.

Salah satunya adalah P. longicauda defontainei yang dideskripsikan dari Kepulauan Natuna Utara berdasarkan ukuran panjang sayap. Spesimen jantan memiliki panjang sayap 157–168 mm, sedangkan betina 149–156 mm. Ukuran tersebut lebih besar dibandingkan dengan subspesies nominatif, P. l. longicauda, dari Malaya, yang memiliki panjang sayap 143–152 mm pada jantan dan 135–149 mm pada betina (Chasen, 1934).

Dalam deskripsi awalnya, Chasen juga memasukkan Pulau Bintang di Kepulauan Riau ke dalam subspesies berukuran besar tersebut. Hal itu didasarkan pada sejumlah spesimen yang ditemukannya di pulau tersebut, dengan panjang sayap 154–165 mm pada jantan dan 152–156 mm pada betina.

See also  Proses Peleburan Timah Dalam Catatan Buddingh Tahun 1852-1857

Beberapa tahun kemudian, Chasen (1937a: 216) memperluas wilayah persebaran P. l. defontainei dengan memasukkan Pulau Belitung. Penetapan ini didasarkan pada pengukuran empat spesimen jantan yang memiliki panjang sayap masing-masing 155, 162, 164, dan 165 mm.

Sementara itu, Bangka tetap dimasukkan Chasen ke dalam wilayah persebaran ras nominatif karena ia belum pernah memeriksa spesimen dari pulau tersebut. Klasifikasi ini kemudian diterima secara luas oleh para peneliti (lihat Forshaw, 1973: 343).

Mengingat pentingnya persoalan ini—terutama karena saya tidak mengetahui contoh lain ketika Bangka dan Belitung dihuni oleh subspesies yang berbeda—saya melakukan pengukuran panjang sayap terhadap seluruh spesimen yang terdapat dalam koleksi kami. Hasilnya adalah sebagai berikut.

Hasil pengukuran panjang sayap (mm):

WilayahJantanBetina
Bangka150, 153, 157, 161, 162, 162, 164141, 144, 149, 150, 150, 150
Belitung156, 158, 160, 163147, 157
Sumatra143, 146, 148, 148, 148, 148, 150, 151, 151, 151, 151, 153, 155137, 138, 142, 143, 147, 148, 149, 150
Borneo147, 148, 151, 151, 152, 153140, 144, 145, 151, 155
Malaya152145

Sebagian besar spesimen lama tidak memiliki catatan jenis kelamin yang dapat diandalkan. Chasen juga telah mengingatkan bahwa burung jantan muda yang penampilannya menyerupai betina kemungkinan memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan betina dewasa.

Dalam pengukuran ini, saya tidak menyertakan burung-burung yang memiliki warna pipi kehijauan dan bulu ekor tengah yang belum berkembang. Namun, masih ada kemungkinan beberapa burung jantan muda yang telah diukur sebelumnya tercatat sebagai betina. Sementara itu, penentuan jenis kelamin pada burung jantan dewasa tentu tidak menimbulkan persoalan.

See also  Catatan Perjalanan J.E. Teijsmann, Ahli Botani Berkebangsaan Belanda, Di Pulau Bangka (Bagian 6)

Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan bahwa hanya terdapat sedikit perbedaan ukuran antara burung dari Bangka dan Belitung. Kedua populasi dari pulau ini juga memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan spesimen yang berasal dari Sumatra, Borneo, dan Malaya.

Setelah fakta tersebut diketahui, muncul persoalan lanjutan mengenai bagaimana perbedaan ukuran itu seharusnya dinyatakan dalam tata nama atau nomenklatur ilmiah.

Berdasarkan hasil pengukuran, jelas tidak tepat apabila populasi Bangka dan Belitung dipisahkan ke dalam dua nama subspesies yang berbeda. Namun, memasukkan Bangka ke dalam subspesies defontainei juga bukan pilihan yang tepat. Penetapan tersebut akan mengakibatkan populasi Bangka dipisahkan dari populasi Borneo dan Sumatra yang selama ini termasuk dalam ras nominatif, padahal seluruh betina dan setidaknya sebagian besar jantan dari Bangka masih berada dalam rentang variasi ukuran ras tersebut.

Ada kemungkinan P. l. defontainei sebenarnya merupakan subspesies yang memiliki persebaran terpisah di beberapa wilayah (politipik). Secara pribadi, saya lebih memilih untuk tidak mengakui keberadaan subspesies tersebut sama sekali.

Namun, untuk saat ini saya belum ingin mengambil kesimpulan sejauh itu. Saya berpendapat bahwa populasi burung dari Bangka dan Belitung sebaiknya tetap dimasukkan ke dalam wilayah persebaran ras nominatif, yaitu Psittacula longicauda longicauda.

Loriculus galgulus (Linnaeus)

[Psittacus] galgulus Linnaeus, 1758, Systema Naturae (edisi ke-10), jilid 1: 103. India.

Bahan koleksi: Dua spesimen jantan dan satu spesimen muda (juvenil) yang dikumpulkan v.d. Bossche pada 1859/1861 (katalog RMNH nomor 4–6); tiga spesimen dari Soengailiat yang dikumpulkan Kannegieter pada April–Juli 1898 (ANSP nomor 56107, 56108, dan 56109); dua spesimen dari Teluk Clabat yang dikumpulkan Abbott & Kloss pada 1 Juli 1904 (USNM nomor 180449 dan 180450); satu spesimen dari Tanjong Tedong yang dikumpulkan pada 4 Juni 1904 (USNM nomor 180451); serta satu spesimen dewasa dari Muntok yang dikumpulkan Hagen, diperkirakan pada Mei–Juni 1905 (ZSM nomor 06.117).

See also  Sekolah Saja (memang) Tak Pernah Cukup

Bersambung.


Foto: Tengkorak burung bitet (Psittacula longicauda longicauda).

Sumber: Skullsite.

Related Images:

Comments

comments