Di Puding, Buddingh Disuguhi Minuman Ini Oleh Kepala Kampung.

JembatanSungaiBukuantaraZeddanPudingBesar_20260718_222557_000

Oleh : Meilanto


Dari Kace, perjalanan dilanjutkan lagi ke arah Mentok. Di jalan yang lebar serta teduh, Buddingh mendengar kicauan berbagai burung. Di Kampung Puding ia bertemu dengan kepala kampung dan disuguhi teh madu.

Berikut tulisannya dalam bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 pada halaman 69-70.

Tot aan de kampong Katje was de breede en effen weg ter weerszijden door hoog geboomte belommerd, waarin zich van tijd tot tijd een koolmees, of een kakatoca, of een loeri hooren liet. Geheele zwermen van bêtêts vlogen somwijlen al schreeuwende over de boschjes in de verte, waarin de béo het geluid der dieren nabootste of de per-gam (steenduif) of pombo zijne diepe toonen steunde. Van Katjé ging de weg aanhoudend door boschrijke oorden, en tevens door de kampongs Seleman, Petaling, Loko, Ke-moedja en Sid. Somwijlen was ik aan beide zijden door boomen en bosschen ingesloten, somwijlen had ik een flaauw gezigt op de bergen Djerok en Panding en op den 2,617 voet hoogen Marras, en op eenige met alang-alang be-groeide heuvelen en vlakten, en somwijlen, zoo als tusschen Loko en Sid, passeerde ik een paar riviertjes. Voorbij Sid kwam ik uit het distrikt Pankal-pinang in het distrikt Batoe-roessak, en bereikte de kampong Poeding, alwaar ik den Batin of Krio (distriktshoofd) ontmoette, en de Mandoor of het dorpshoofd mij thee met honig (zonder melk) aanbood, eene attentie, die zijne kollegen (altijd gul en vriendelijk, zoo als de volksaard der Bankanézen is,) mij in de bezochte dorpen ook immer bewezen hadden. Van Poeding bereikte ik de kampongs Simpang, Gebak, Dalil, Tiän-tara of Bakon, Nenang, Kapok of Njalouw, Geba, Ampang, Klappa, Tebing-tingi, Dindang, Ketapi-lama en Ketapi of Katjong, alwaar ik mij herinnerde, dat tusschen deze of de laatstgemelde kampong en Njalouw de toenmalige Resident van Banka, wijlen den Heer SMISSAERT, op zijn’ terugtogt van Pankal-pinang naar Muntok, op den 14 November 1819 door de opstandelingen, onder aan-voering van den bovengenoemden Depatti BARIN, overvallen en vermoord werd.

Hingga mencapai Kampung Kace, jalan yang lebar dan mulus itu dinaungi pepohonan tinggi di kedua sisinya; sesekali terdengar suara burung tit(?), kakatua, atau lori. Kawanan burung parkit terkadang terbang sambil bersahut-sahutan di atas semak belukar yang jauh, tempat burung beo menirukan suara hewan lain, atau saat burung pergam (merpati hutan) dan pombo (merpati) melantunkan suara lenguhan yang dalam dan bergema.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #100, Masjid Al Muttaqin, Kapok.

Dari Kace, perjalanan berlanjut melintasi kawasan berhutan, melewati Kampung-kampung Seleman, Petaling, Loko, Kemoedja, dan Sid.

Terkadang, saya diapit oleh pepohonan dan hutan di kedua sisi jalan; di saat lain, saya bisa melihat samar-samar Gunung Djerok, Gunung Panding, dan Gunung Maras yang berketinggian 2.617 kaki, serta beberapa bukit dan dataran yang ditumbuhi ilalang; dan sesekali—seperti di antara Loko dan Sid—saya melintasi beberapa sungai kecil.

Setelah melewati Sid, saya meninggalkan distrik Pankal-pinang dan memasuki distrik Batoe-roessak (Merawang), lalu tiba di Kampung Poeding. Di sana, saya bertemu dengan Batin atau Krio (kepala distrik), dan sang Mandor (kepala Kampung) menyuguhkan teh madu (tanpa susu)—sebuah bentuk keramahan yang selalu ditunjukkan oleh rekan-rekan sejawatnya (yang senantiasa murah hati dan ramah, sebagaimana watak penduduk Bangka) di kampung-kampung yang saya kunjungi.

Dari Poeding, saya mencapai kampung-kampung Simpang (?), Gebak, Dalil, Tian-tara/ Tiangtara (atau Bakon), Nenang (Neknang), Kapok (atau Njalouw), Geba (?), Ampang, Klappa, Tebing-tingi (Tebing Tinggi), Dindang (Dendang), Ketapi-lama, dan Ketapi (atau Katjong).

Di sanalah saya teringat bagaimana, di antara kampung yang baru disebut tadi dan Njalouw, Residen Bangka saat itu—mendiang Tuan Smissaert—pernah disergap dan dibunuh pada tanggal 14 November 1819 oleh kaum pemberontak yang dipimpin oleh Depatti Barin tersebut, ketika ia sedang dalam perjalanan pulang dari Pangkalpinang menuju Muntok. Di dekat Katjong (Kacong), jalan itu—yang sejak dari Pangkalpinang melintasi sungai-sungai kecil dan anak sungai sebanyak tujuh kali—berbelok ke kiri (beralih dari arah barat laut ke arah barat) dan terus membentang ke barat hingga ke Plannas (Pelangas), tempat jalan itu kemudian berbelok ke arah barat daya.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. 07, Masjid Jami' Pangkalpinang.

Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments