Tanggal 20 Juni 1949, Muhammad Rum dan Anggota Delegasi RI ke Bangka Mempersiapkanan Kembalinya Pemerintahan RI ke Yogyakarta.

Your paragraph Masyarakat Bangka bergotong royong merenovasi Masjid Jamik P_20260620_102131_0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Pada tanggal 20 Juni 1949, Ketua delegasi atau juru runding Indonesia Muhammad Rum dan anggota delegasi Republik Indonesia lainnya kembali ke Bangka untuk melakukan pembicaraan mempersiapkan secara matang kembalinya pemimpin dan pemerintahan RI ke Yogyakarta.

Pembicaraan persiapan kembalinya pemerintahan ke Yogyakarta menjadi penting sebab berdasarkan informasi dalam konferensi Pers yang dilakukan Tajuddin Noor, Ketua panitia penyambutan kembalinya pemerintah Republik Indonesia, setibanya di Jakarta dari Bangka pada hari Sabtu, 18 Juni 1949, yang menyatakan, bahwa tidak menutup kemungkinan perwakilan negera-negera federal yang tergabung dalam BFO akan diundang ke Yogyakarta ketika Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta tiba Kembali ke Yogyakarta.

Selain itu direncanakan turut hadir menyambut di Lapangan udara Maguwo Yogyakarta antara lain perwakilan pemerintah pusat, pemerintah daerah, KNIP, TNI, polisi dan sekretariat negara. Setelah itu akan mengadakan resepsi di Istana Kepresidenan. Wartawan dalam dan luar negeri akan diberi kesempatan untuk menjemput di Lapangan udara. Untuk waktu rencana kembalinya pemimpin Republik Indonesia yang diasingkan di Bangka ke Yogyakarta direncanakan sebelum awal bulan puasa atau bertepatan dengan tanggal 6 Juli 1949.

Hari hari di bulan Juni tahun 1949, menjelang kepulangan pemimpin Republik dan kembalinya pemerintahan RI dari Bangka ke Yogyakarta, merupakan hari hari yang sangat sibuk dan penuh dengan agenda kegiatan. Muhammad Rum sendiri sebagai Ketua Delegasi RI kemudian harus kembali ke Batavia sore harinya tanggal 20 Juni 1949.

Dekatnya jarak dan rute penerbangan antara Lapangan Udara Kemayoran di Batavia dengan Lapangan Udara Kampung Dul Pangkalpinang Bangka, sangat memudahkan berbagai aktivitas dan diplomasi antar Republik Indonesia dan Belanda, bersama BFO yang selalu dimediasi dan difasilitasi oleh Dewan Keamanan PBB melalui UNCI.

See also  TOPONIMI TANJUNG KALIAN.

Peranan dan fungsi Gedung House Hill milik BTW di Pangkalpinang juga sangat besar, di samping digunakan untuk berunding, bertemu, rapat rapat juga digunakan untuk menginap serta digunakan untuk transit dan yang terpenting juga digunakan untuk bertemunya masyarakat Bangka dengan pemimpin Republik ketika berada di Pangkalpinang.

Sedikitnya ada 26 Aktivitas pemimpin Republik Indonesia dilakukan di House Hill BTW Pangkalpinang bersama Delegasi Belanda, UNCI dan BFO di Gedung yang sekarang dijadikan sebagai Museum Timah Indonesia Pangkalpinang.

Delegasi Republik Indonesia dalam perundingan Indonesia-Belanda yang menghasilkan Kesepakatan Rum-Royen antara lain Muhammad Rum, Ir. Djuanda, Prof. Supomo, Mr. Ali Sastroamidjojo, Dr. J. Leimena dan Mr.Latuharhary. Penasehat delegasi republik terdiri atas Soetan Sjahrir, Ir.Laoh, Moh. Natsir, Dr. Darmasetiawan dan Sumarto. Direktur sekretariat adalah A.G. Pringgadigdo, sedangkan sekretarisnya adalah Soedjono.

Sementara Delegasi UNCI terdiri atas R. Herremans (Belgia), H. Merle Cochran (USA), Thomas Kingston Critchley (Australia). Pemimpin Republik yang paling lama tinggal di House Hill BTW Pangkalpinang adalah Bapak TNI Angkatan Udara RI, RS. Soerjadarma, orang Pangkalpinang memanggilnya Pak Darma dan masyarakat sangat menghormatinya (Elvian, 2009:82).


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

See also  Yayasan Jelajah Bangka Indonesia kunjungi Mercusuar yang dibangun Ratu Belanda

Comments

comments