Karena Unik, Buddingh Beli Kayu Sala Di Kampung Mayang

JelajahBangka_20260731_145941_000

Oleh : Meilanto


Dalam bukunya Neerlands Oost-Indie Reizen Gedaan Gedurende Het Tijdvak Van 1852-1857, Buddingh menuliskan perjalanannya ke Kampung Mayang seperti yang dikutip pada halaman 35.

Zoodra de koelie’s verwisseld waren, ging ik door naar de kampong Majang. De weg kronkelde en slingerde nog altijd over en
door het gebergte van den Kekoekoes, den Besotan en den Goenong-panjang , en ik zag weinig anders dan eenige kindidie’s
of boerong-blêket of snippen, reigers (kon dor’s), waterhoenders, poejoe’s (wachtels of kwakkels) en maraboe’s verschrikt van de randen van ravijnen, slooten of moeras-plekjes opvliegen, of een’ troep wilde eenden, die hoog boven mij heenstreken. Te Majang werden mij eenige dunne wandelstokjes van kajoe-sala of verkeerd hout te koop geboden. Deze stokjes waren in allerlei hoekige en knobbelige bogten en kronkelingen gedraaid, niet door menschenlianden, maar blijkbaar door de natuur. Ze schijnen aldus in de bosschen of aan de stranden op geheel-eigenaardige en grillige wijze te groeijen, en daar waren er bij, die zulk een’ vreemden en zonderlingen vorm hadden, dat het onbegrijpelijk was, hoe een boomtak zoo verkeerd (sala) wassen kon. Als curiositeit en tot aandenken aan Majang, en tevens om den wille der arme lieden, die van het zoeken van kajoe-sala hunne industrie maken (en wie weet, hocvele dagen in het woud doorbrengen om slechts één verkeerd takje
te vinden!), kocht ik er eenige, die op het oog het grilligst gegroeid waren, – en daarop was het weder: ffandiamo avanti! “
en vertrok ik naar de kampong Plannas.

Maksudnya
Segera setelah pasukan pengangkut ganti, saya melanjutkan perjalanan menuju Kampung Mayang. Jalan tetap berkelok dan berliku melintasi pegunungan Kekoekoes, Besotan, dan Gunung Panjang.

See also  10 Mei 1984, PP No.12 Tahun 1984, tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka.

Hampir tak ada yang tampak selain sekawanan burung kindidi (maksudnya kedidi) atau burung bleket dan burung dara sawah, burung kuntul, ayam-ayam rawa, burung puyuh, dan burung bangkai yang tiba-tiba terbang kaget dari tepi jurang, selokan, atau rawa; serta sekawanan itik liar yang melintas tinggi di angkasa.

Di Mayang, saya ditawari beberapa tongkat jalan yang ramping terbuat dari kayu sala atau “kayu yang tumbuh menyimpang”.

Tongkat-tongkat itu berlekuk-lekuk, berbenjol-benjol, dan berkelok-kelok dalam berbagai bentuk—bukan dibentuk tangan manusia, melainkan terbentuk secara alami.

Kayu ini tampaknya tumbuh dengan cara yang sangat unik dan aneh di dalam hutan maupun di pesisir; ada yang bentuknya begitu ganjil sehingga sulit dimengerti bagaimana ranting pohon bisa tumbuh sedemikian menyimpang (sala).

Daun Pohon Sala
Sumber: Google

Sebagai kenang-kenangan dari Mayang, sekaligus membantu warga miskin yang menggantungkan hidup pada pencarian kayu sala—siapa yang tahu berapa hari mereka harus menjelajah hutan hanya untuk mendapatkan sebatang ranting yang unik itu—saya membeli beberapa batang yang bentuknya paling aneh dan menarik dilihat. Setelah itu, perjalanan pun dilanjutkan: maju terus! dan saya berangkat menuju Desa Plannas.


Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments