Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #17, Toponimi Kampung Betoer.

IMG_20260713_17431

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC

(Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia)


Kampung Betoer sebelum menjadi kampung adalah satu kawasan kelekak yang disebut masyarakat dengan Kelekak Betoer.

Kampung Betoer adalah salahsatu prototipe pembentukan kampung di Pangkalpinang, khususnya tipe kampung bentukan peninggalan masa Tradisional Indische.

Kampung dibentuk dari proses kearifan lokal masyarakat Bangka tentang pemanfaatan dan pewarisan lahan, hutan dan tanah.

Sebelum terbentuknya perkampungan, kawasan awalnya adalah hutan primer yang disebut “Rimbak”, kemudian ditebas menjadi “Rebak” untuk dijadikan ladang ume atau “Bebak”. Setelah ladang dipanen, lokasi lahan tetap dikelola dan dipelihara oleh pemiliknya dengan ditanami dengan palawija atau disebut dengan “Kubak”, dan apabila lahan tetap difungsikan dengan ditanami tanaman keras berupa pohon buah-buahan dikenal masyarakat Bangka dengan sebutan “Kelekak”.

Kelekak Betoer dijadikan kampung oleh masyarakat karena kebutuhan akan ruang wilayah untuk lokasi pemukiman, akibat perkembangan Kota Pangkalpinang yang sangat pesat terutama setelah Pangkalpinang ditetapkan menjadi ibukota Keresidenan Bangka pada tanggal 3 September 1913. Pada kawasan Kelekak Betoer kemudian dibangun perkampungan dan dikenal masyarakat dengan toponimi kampung Betoer.

Sebelum menjadi perkampungan, Kelekak Betoer disamping berfungsi sebagai Kelekak (berisi tanaman buah-buahan) juga menjadi kawasan kebun palawija dan kebun Sahang masyarakat (regelem aangelegde pepertuinen).

Secara geografis kampung Betoer terletak di sisi sebelah Selatan sungai Pedindang, atau berbatasan langsung dengan kampung Besi (Thiatpu).

Posisi tepatnya kampung Betoer saat ini berada di kawasan seputaran simpang empat menuju kantor Walikota Pangkalpinang. Pada masa lalu, simpang ini dikenal dengan nama simpang Betoer dan setelah dibangun kantor Walikotamadya Pangkalpinang di sisi Selatan kampung Betoer pada tanggal 7 April 1977 (diresmikan oleh Mendagri Amir Machmud), simpang ini lambat laun disebut masyarakat dengan nama simpang empat lampu merah kantor Walikota.

See also  6 April 1871, Cornelis de Groot, Tokoh Penting "De Billiton Maatschappij" Mengundurkan Diri.

Dalam peta Resident Bangka en Onderh. Opgenomen door den Topografischen dienst in 1928-1929 Blad 34/XXV d. Reproductiebedrijf Topografische dienst, Batavia 1913 Auteursrecht Voorbehouden (Stbl 1912 No.600), digambarkan bahwa terdapat jalan raya yang terbuat dari tanah (belum diaspal) selebar dua hingga empat meter, menghubungkan kawasan Kelekak Betoer sampai ke simpang Semabung dan jalan tanah tersebut kemudian terhubung juga dari Kelekak Betoer ke arah Barat sampai ke rawa-rawa di sekitar sungai Pedindang menuju ke arah kampung Paritlalang dan sisi Barat kampung Bintang (Naisipuk). Sedangkan jalan yang menghubungkan kawasan Kelekak Betoer ke arah Selatan atau ke arah kantor Walikota Pangkalpinang belum dibangun sama sekali dan pada bagian ujung jalan masih terdapat perumahan kuli penambang Timah (Koelieloods Mijn). Selanjutnya terdapat jalan setapak untuk pejalan kaki yang menghubungkan antara Kelekak Betoer ke arah Timur menuju jalan raya dari simpang Semabung ke arah distrik Koba.

Sejarah penamaan (toponimi) kawasan ini dengan nama spesific Betoer adalah karena pada kawasan ini awalnya adalah hutan atau rimbak yang banyak ditumbuhi flora berupa kayu atau pohon yang disebut masyarakat Bangka dengan nama kayu Betoer. Karena kayu Betoer sifatnya ringan dan cukup kuat, mudah dikelupas bagian kulitnya sehingga akan tampak bagian kayunya yang putih dan licin, maka kayu Betoer sering digunakan oleh masyarakat untuk membuat pondok Ume dalam kegiatan di ladang, untuk bahan membuat pagar rumah, tempat jemuran pakaian, untuk dinding dan lantai pondok serta untuk tangga memetik Sahang atau Lada.


Comments

comments