Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #18, Toponimi Kampung Besi.

afd2052b-571f-4fc2-8d67-cb7fa91aef8

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Pada tahun 1710, Sultan Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago menandatangani kontrak perdagangan timah dengan VOC, dan untuk memenuhi kuota timah yang akan dijual ke VOC, didatangkanlah oleh sultan pekerja pekerja tambang timah orang Cina dari Vietnam, Laos, Kamboja, Siam, Patani, dan Semenanjung Malaka ke Pulau Bangka. Dimulailah penambangan timah dengan “Teknologi Kulit”. Horfield seorang ahli mineralogi Inggris menyebutnya “Pertambangan Kecil”.

Pekerja tambang melakukan aktivitas penggalian lapisan tanah dangkal, terutama di daerah lereng di lokasi air tidak tertampung. Lapisan tanah yang paling atas dibuang (dikulit) ke dalam air, sampai lapisan dengan bijih Timah ditemukan. Bijih Timah dibersihkan di penampungan air atau dalam satu proses saluran air sampai ke alat yang disebut sakhan. Di sakhan digunakan Punki (keranjang kecil mengangkut tanah), Tamkon (pikulan punki), dan beberapa peralatan terbuat dari besi.

Pengikisan tanah sampai bertemu deposit timah memerlukan waktu sekitar 6 sampai 7 bulan, menyebabkan para pekerja tambang harus menginap pada bedeng-bedeng (Rumah Kepung) yang didirikan di dekat lokasi tambang. Penambanan dengan teknologi kulit awalnya digunakan untuk tambang di wilayah Mentok, Belo, Sungai Buluh dan Tempilang.

Peralatan kerja dan istilah pertambanganpun sampai saat ini masih menggunakan istilah dalam bahasa Hakka dan dikenal luas oleh masyarakat Bangka seperti kata Camui (lubang galian), Kioktjo (cangkul atau pacul), Tjiong (air kental di lokasi tambang), Tjiatiauw (roda air), Tjiathong (palung air), Tjhinshia (pompa air), Chiam yaitu penyelidikan deposit timah menggunakan bor besi runcing, semacam tongkat berongga sepanjang 20 kaki, dan banyak lagi istilah-istilah pertambangan timah lainnya.

Umumnya peralatan pertambangan yang dibuat dari besi diproduksi di Kampung Besi (Thiatphu) Pangkalpinang. Kampung Besi secara geografis terletak antara Kampung Bintang di sisi Utaranya, kampung Semabung di sisi Timur dan Selatannya serta kampung Betur di sisi Baratnya,

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #107, Masjid Nurul Falah, Dalil.

Toponimi spesifik Besi atau nama diri “Besi” pada nama geografi kampung diberikan berdasarkan sejarah penamaan bahwa pada awal terbentuknya, kampung banyak dihuni oleh orang-orang Cina yang pekerjaannya membuat peralatan dari logam besi (pandai/tukang besi).

Lamanya waktu pembukaan tambang timah sampai waktunya menghasilkan berdasarkan teknologi Kulit dan Kulong, menyebabkan para pekerja tambang harus menginap pada bedeng-bedeng (Rumah Kepung) yang didirikan di dekat lokasi tambang timah, sehingga terbentuklah perkampungan dekat Lokasi pertambangan. Sampai saat ini, teknologi Kulit dan teknologi Kulong masih dipakai pada penambangan penambangan timah tradisional di Pulau Bangka.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

*Gambar hanya sebagai ilustrasi

Comments

comments