Dalam Perjalanan Ke Mentok, Buddingh Keletihan dan Menginap di Terentang.

IMG-20260720-WA0015

Oleh : Meilanto


Dalam tulisannya, Buddingh meneruskan perjalanan ke arah Mentok. Ia bersama para pemikul tandu keletihan dan menginap di balai Kampung Terentang. Berikut tulisannya dalam bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867 halaman 70-71.

Bij Katjong buigt zich de weg, die van Pankal-Pinang af 7 malen over kleine riviertjes en spruit-jes gaat, links af of van het noordwesten naar het westen, en loopt dan in westelijke rigting tot bij Plannas door, alwaar hij zich naar het zuidwesten keert. De koelie’s sloegen dus ook links af, eu ik bereikte eindelijk des nachts om 2
uren Trentang , zoodat ik nu, deels te voet en deels gedragen en deels in den donker van den avond en nacht, 60 paleu of 20 uren had afgelegd! Reeds van Njalouw af,
alwaar ik met het vallen van den avond of ten 6 uren in den namiddag was aangekomen, hadden de dragers zich
aanhoudend van fakkels bediend om den weg door de ontzaggelijke en eindelooze bosschen te verlichten, en ook van daar af
was mijne geregelde voetreis begonnen, want het was mij on mogelijk geworden, om het langer in den draagstoel uit te
houden. Ook’gedurende de heete uren van den heeten dag was ik telkens op de been geweest, en had ik telkens zoo lang, totdat ik van vermoeidheid weder in den broeijenden tandoe stapte om er uit te rusten, en dan vervolgens op nieuw te voet te gaan! Te Trentang begaf ik mij dadelijk
in de balei of het Raadhuis, tevens logement voor reizende personen, en strekte mij, dewijl ik in de duisternis geen
bank of stoel vond, maar regt uit op den nibong-vloer neder, uitgeput als ik was zoowel door de hitte van den dag en door
honger en dorst, als door de vermoeijeuis van het gaan en van de schokkende beweging van den vervelenden tandoe.

Maksudnya:

See also  Ada Kejadian apa di Koba, 76 Tahun silam? Begini Penjelasannya

Di Kacong, jalan itu—yang dari Pangkal-Pinang melintasi sungai-sungai kecil dan aliran air sebanyak tujuh kali—berbelok ke kiri (beralih dari arah barat laut ke arah barat) dan terus membentang ke barat hingga Plannas (Pelangas), tempat jalan itu kemudian berbelok ke arah barat daya.

Para kuli pun turut berbelok ke kiri, dan akhirnya saya tiba di Trentang (Terentang) pada pukul dua dini hari; dengan demikian—sebagian dengan berjalan kaki dan sebagian lagi dengan ditandu, serta sebagian dilakukan dalam kegelapan petang dan malam—saya telah menempuh jarak enam puluh pal, atau perjalanan selama dua puluh jam. Sejak dari Njalouw—tempat saya tiba saat hari mulai gelap, atau pukul enam sore—para pembawa tandu terus-menerus menggunakan obor untuk menerangi jalan yang membelah hutan luas nan tiada berujung; dari titik itulah saya mulai lebih sering berjalan kaki, karena saya merasa tak sanggup lagi bertahan di dalam tandu. Bahkan pada saat-saat terpanas di siang hari, saya sering kali berjalan kaki hingga rasa lelah memaksa saya kembali ke dalam tandu yang pengap untuk beristirahat, hanya untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki lagi. Setibanya di Trentang (Terentang), saya segera menuju balai—balai pertemuan yang juga berfungsi sebagai tempat singgah bagi para pelancong—dan karena tidak menemukan bangku maupun kursi di tengah kegelapan, saya langsung merebahkan diri di atas lantai kayu nibong (nibung), saya benar-benar kelelahan akibat panasnya hari, rasa lapar dan haus, serta keletihan fisik karena berjalan kaki dan guncangan hebat dari tandu yang menyiksa itu.


Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

See also  4 Juli 1949, Perpisahan Pemimpin Republik Dengan Masyarakat Mentok di Pesanggrahan BTW Mentok.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

*Keterangan gambar; Daun Nibung
Sumber : Google

Comments

comments