Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #28, Toponimi Kampung Silok/Siliuk

IMG_20260928_074958

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia


Pemerintah Kolonial Belanda banyak membuka parit atau tambang Timah di tiap distrik yang ada di Pulau Bangka. Sedikitnya sebelum perang Rakyat Bangka yang dipimpin Depati Amir Tahun 1848-1851, terdapat sekitar 250 Tambang Timah milik pemerintah yang tersebar di 8 Distrik Penambangan termasuk di Distrik Pangkalpinang.

Teknologi penambangan Timah yang digunakan setelah Teknologi Pelubangan berpindah/alih (Toboalih) adalah Teknologi Kulit dan Teknologi Kulong (tekhnologi yang dibawa oleh pekerja tambang Timah dari Cina). Horfield seorang ahli mineralogi Inggris menyebut Teknologi Kulit dengan “Pertambangan Kecil”. Selanjutnya Teknologi Kulit disempurnakan dengan Teknologi Kulong.

Sebelum dilakukan pengikisan tanah dan pembukaan lokasi yang akan ditambang dilakukan penyelidikan deposit timah menggunakan bor besi runcing semacam tongkat berongga sepanjang 20 kaki (disebut Ciam).

Teknologi Kulong memerlukan tenaga kerja lebih banyak dari teknologi kulit sekitar 25 hingga 40 pekerja, karena proses pembukaan lokasi tambang yang lebih luas dan lebih dalam. Para pekerja membendung aliran air dan mengalihkan alirannya ke saluran untuk memutar roda yang menggerakkan pompa rantai pengangkut air ke dalam sebuah bak air.

Dengan Pompa rantai pengangkut air (Cinshia), para pekerja dapat menggali hingga kedalaman 20 kaki. Para pekerja mengangkut tanah dengan menggunakan dua keranjang tanah menaiki tangga dari kayu. Saluran air digunakan untuk menggerakkan roda memungkinkan para penambang membuang lapisan tanah teratas dan membersihkan bijih Timah dengan baik (Heidhues, 2008:17).

Horsfield menyebut teknologi ini dengan “Pertambangan Besar“, ukurannya bisa mencapai 100 kaki (30 meter) dengan panjang dan lebar yang hampir sama besar. Penambangan dengan Teknologi Kulong memerlukan waktu yang lama sekitar 7 sampai 8 bulan sebelum tambang efektif berproduksi, menyebabkan pekerja tambang orang orang Cina harus tinggal di lokasi Parit Penambangan Timah.

See also  Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #27, Toponimi Engtai

Penambangan Timah dengan tekhnologi Kulit dan Kulong Kulit, sangat banyak membutuhkan kayu, di samping untuk mendirikan rumah bedeng atau rumah Kepung, kayu digunakan juga untuk pembuatan papan pengayak pasir (Hakka:sakan), peralatan tambang dan untuk pembuatan arang bagi keperluan pembakaran/peleburan Timah.

Teknologi peleburan Timah pada masa ini masih menggunakan Tanur Cina yang banyak menggunakan arang dari kayu sebagai bahan pembakar.

Mengingat persedian kayu di hutan sekitar tambang semakin menipis karena dieksploitasi selama beberapa tahun secara terus menerus sehingga pemerintah kolonial Belanda harus membuat kebijakan membuka parit-parit penambangan baru di berbagai distrik di Pulau Bangka.

Untuk membedakan antara parit yang satu dengan yang lainnya dalam satu kawasan distrik, biasanya diberi nama atau toponimi dengan hitungan angka seperti Parit 1, Parit 2, Parit 3 dan seterusnya sesuai dengan jumlah parit penambangan yang ada di distrik tersebut.

Penamaan Parit penambangan Timah juga menggunakan Bahasa dialek Hakka. Salah satu parit yang ada Distrik Pangkalpinang dengan Toponimi angka atau nomor adalah Parit 46 yang dalam dialek Hakka disebut dengan Siliuk dan sekarang telah berkembang menjadi Kampung Siliuk/Silok/Siluk.


*Keterangan gambar: Kulong Silok/Siliuk , sumber foto: Dato’ Akhmad Elvian.

Related Images:

Comments

comments