Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 32, Toponimi SAMPUR
Jelajah Bangka 26 October 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Salah satu kampung (native village) dan pantai dalam wilayah Distrik Pangkalpinang dan terletak di pesisir Timur bagian Tengah pulau Bangka adalah “Sampur”.
Toponimi atau sejarah penamaan geografi “Sampur”, berasal dari kata, dalam bahasa Belanda “Zandvoort”, yang berasal dari kata “Zand” yang berarti pasir dan kata “Voort” yang berasal dari kata kuno voorde berarti arungan (ford dalam bahasa Inggris), yaitu bagian sungai, rawa, atau perairan dan Pantai yang cukup dangkal sehingga bisa diseberangi atau dilintasi dengan berjalan kaki.
Khusus untuk kata Sampur di distrik Pangkalpinang berarti wilayah pantai yang bisa diseberangi atau dilintasi dengan berjalan kaki dan lebih tepat diartikan dengan “pantai berpasir”.
Pemerintah Hindia Belanda menamai kawasan antara Tanjung Bunga (Cape Boenga) sampai ke kampung Kebinti di distrik Pangkalpinang dengan penamaan Zanvoort karena pantainya landai dan berpasir putih, dapat dilintasi dengan berjalan kaki sangat mirip dengan Kota Zandvoort, salah satu kota indah tepi pantai di provinsi Noord Holland (Belanda Utara).
Pemerintah Hindia Belanda setidaknya berencana menjadikan kawasan tepi pantai yang indah di wilayah geografis ini sebagai kota atau kawasan yang mirip di Zandvoort Provinsi Utara Belanda.
Kawasan pantai Sampur merupakan kawasan garis pantai yang relatif panjang dan landai dengan kontur pasir pantai yang keras. Karena posisi pantai berpasir berada di pesisir Timur, maka sangat cocok untuk melihat Matahari terbit (Sunrise).
Berdasarkan peta Res.Bangka en Onderh. Opgenomen door den Topografischen dienst in 1928-1929, Blad 34/XXV d, Reproductiebedrijf Topografische dienst, Batavia 1913, dan pada peta yang lebih muda published as Hind. IO97 by spy Dte ALFSEA, 1946, Drawing and Reproduction LHO Cartografic Coy-Aust. Survey Corps. Sep.45, Pemerintah Hindia Belanda pada awal dan sampai pertengahan abad 20 mulai membuat tambang Timah di laut, hal ini terbukti dengan adanya kampung Paritlaut dan tambang di lepas pantai “Minj 24” yang lokasinya berada di kawasan Sampur.

Berdasarkan catatan Heidhues (2008:135), sejak Tahun 1927 Masehi penambangan Timah di pulau Bangka mulai menggunakan Kapal Keruk dengan wilayah operasi penambangan di lepas pantai, teluk dan sungai.
Pada wilayah Sampur saat ini terdapat satu kelenteng yang cukup besar dan tua yaitu kelenteng Tung Fong Miaw Tong atau sering disebut kelenteng “Sampur Timur”, masyarakat juga mengenalnya dengan kelenteng Thaipak Men. Tuan rumah kelenteng adalah “Fu Lu Shou” atau tiga dewa yaitu dewa keberuntungan (Fu), dewa kekayaan (Lu) dan dewa umur panjang (Shou) dan terdapat juga “Tu di gong” atau dewa bumi.
*Keterangan gambar: Kelenteng Thaipak Kung. Sumber : Google Map, diolah kembali dengan AI.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
