IMG-20260725-WA0002

Oleh : Meilanto


Sejak kedatangan Buddingh ke Pulau Bangka, ia melakukan kunjungan dan interaksi dengan banyak orang. Kunjungan tersebut ia tulis dalam bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.

Salah satu bahasan yaitu tentang sejarah Pulau Bangka yang ia tulis pada halaman 25-26.

De geschiedenis van het eiland Banka , voor zoo ver mij deze uit de beschrijvingen van anderen (1) bekend is, is een treurspel. Het stond oudtijds met Billito n onder zijn eigen vorsten, waarvan de laatste vorst in 1668 de hulp der Oost-Indische-Komjiagnie inriep. Zijne weduwe huwde in 1670 of 1680 met den Sultan van Palembang , en van toen af kwam
Banka onder de Sultans van dit rijk (Palembang.) Doch toen men in 1710 in het distrikt Marawang “tin” of Cassiteriet ontdekte, en er bij nader onderzoek oji bijkans alle plaatsen van het eiland overvloedig tin-erts gevonden werd, sloot de Oost-Indisclie-Kompaguie met den aan haar cijnsbaren Palembangschen Sultan, Soesoelioenan Ratoe TJANDI-WALANG, een kontrakt, waarbij het tin-monopolie aan haar verzekerd werd.
In 1777 werd dit kontrakt vernieuwd, en leverde Banka reeds eene hoeveelheid van. 30,000 jrikols tin ten voordeele der Kompagnie op. Doch toen de Kompagnie acht jaren later, t. w. in 1785, met de vorsten van Linga en Riouw in oorlog geraakte, werd Banka 27 jaren lang, en dus tot aan 1812, het tooneel van allerlei rampen en wederwaardigheden. De R a j a t s en de Ula n osche en Magindanaosclie of La n o einsehe badjak’s of zeeroovers, en de volkeren van Riouw en Linga , deden gedurige rooft ogt en op Ba n k a’s kusten, voerden een groot aantal ingezetenen in slavernij weg, verwoestten het veldgewas, en verklaarden vischnetten, praauwen en alles wat waarde had, – tot de kleine ocmbing’s (of werpmandjes om de visschen, die met den vloed naar het strand komen, te vangen) en de tadjoe’s of fijn-gevlochten draag—mandjes toe, – voor goeden prijs. Een natuurlijk gevolg hier-van was hongersnood, armoede en volksverhuizing. Duizenden Bankanézen, die aan de stranden woonden, zochten elders een toevlugtsoord, en de algemeene kinderziekte, welke in 1804′ op het eiland uitbrak, sleepte nog vele honderden ten grave, zoodat de bevolking, die bovendien nog door de Sultans van Palembang op allerlei wijze was uitgezogen, in 1812 tot op de helft verminderd was ! In dit jaar ging het eiland aan de Engelschen, en in 1810 aan Nederland over, doch het keerde niet eer tot rust en welvaart terug, dan na het jaar 1822, toen de wreede Palembangsche Sultan BADAR-OEDIN iu ballingschap naar Ternat e werd weggevoerd. De onlusten, welke in lateren tijd, zoo als in 1839, 1842 en 1851, dan eens onder de inlanders, door toedoen van zekeren AMIR, zoon van den bekenden oproerling Depatti-BARlN, en dan eens onder de Chinéschc mijnwerkers, uitbraken, werden spoedig gedempt.
(1) H. M. LANGE , Hel eiland Banka en zijne aanhooriyheden , en anderen.

Maksudnya
Sejarah Pulau Bangka, sejauh yang saya ketahui dari catatan para penulis terdahulu
(1)* adalah sebuah kisah yang penuh kesedihan.

See also  19 Mei 1949, Perintah Menghindari Kontak Senjata Dengan Pasukan Belanda Dipatuhi Pasukan Indonesia.

Dahulu kala, pulau ini bersama Belitung diperintah oleh raja-raja sendiri; raja yang terakhir memohon bantuan kepada Perusahaan Hindia Timur Belanda pada tahun 1668. Janda raja tersebut kemudian menikah dengan Sultan Palembang pada tahun 1670 atau 1680, dan sejak saat itu Bangka berada di bawah kekuasaan Sultan-sultan kerajaan Palembang.

Namun, setelah timah atau kasiterit ditemukan di wilayah Marawang pada tahun 1710, dan penelitian lanjutan menunjukkan bahwa bijih timah tersedia dalam jumlah sangat melimpah di hampir seluruh penjuru pulau ini, Perusahaan Hindia Timur Belanda menandatangani perjanjian dengan Sultan Palembang yang tunduk pada kekuasaannya, yaitu Susuhunan Ratu Tandiwalang. Berdasarkan perjanjian tersebut, hak monopoli perdagangan timah diserahkan sepenuhnya kepada perusahaan.

Perjanjian ini diperbarui kembali pada tahun 1777, dan pada masa itu Bangka sudah mampu menghasilkan 30.000 pikul timah untuk keuntungan perusahaan. Akan tetapi, delapan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1785, ketika perusahaan terlibat peperangan dengan penguasa Lingga dan Riau, Bangka dilanda berbagai bencana dan musibah selama 27 tahun berturut-turut hingga tahun 1812.

Para raja, bajak laut dari Ulos (?), Magindanau dan Lanao, serta penduduk Riau dan Lingga terus-menerus melakukan perampokan di pesisir Bangka. Mereka membawa pergi ribuan penduduk setempat untuk dijadikan budak, menghancurkan tanaman pertanian, dan merampas segala benda berharga—mulai dari jala ikan, perahu, hingga alat-alat kecil seperti oembing (keranjang kecil untuk menangkap ikan yang terbawa arus pasang) dan tadjoe atau keranjang anyaman halus untuk membawa barang.

Akibatnya, kelaparan, kemiskinan, dan perpindahan penduduk melanda pulau ini. Ribuan warga Bangka yang tinggal di pesisir mencari tempat berlindung di daerah lain. Wabah penyakit yang menyerang anak-anak yang meletus pada tahun 1804 merenggut ratusan nyawa lagi. Ditambah lagi dengan berbagai bentuk pemerasan yang dilakukan Sultan Palembang, jumlah penduduk pada tahun 1812 berkurang hingga tinggal setengah dari jumlah semula!

See also  Marahnya Depati Amir Ketika Perang Bangka Melawan Belanda

Pada tahun tersebut, pulau ini diserahkan kepada Inggris, dan kembali ke tangan Belanda pada tahun 1816. Namun, Bangka baru benar-benar kembali damai dan sejahtera setelah tahun 1822, ketika Sultan Palembang yang kejam, Badaruddin, diasingkan ke Ternate. Kerusuhan yang terjadi di tahun-tahun berikutnya—seperti pada tahun 1839, 1842, dan 1851, baik yang dipicu oleh tokoh masyarakat bernama Amir (putra pemimpin pemberontak terkenal Depati Barin) maupun yang melibatkan para penambang asal Tiongkok—dapat segera diredam.


* (1) H. M. LANGE, Pulau Bangka dan Wilayah-Wilayah yang Bersangkutan Dengannya, serta penulis-penulis lainnya.

*Keterangan gambar: Kaart Van het Eiland Banka zamengesteld in 1845 en 1846 door H. M. Lange.

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments