25 Juli 1850, Besluit Pemerintah No.15, Penanganan Depati Amir Dengan Negoisasi dan Besluit 17 September 1850 No. 1, Dengan Kekuatan Militer.
Admin 25 July 2026
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Perlawanan yang dipimpin Depati Amir, sejatinya adalah perlawanan seluruh rakyat Bangka terhadap kesewenangan penjajah Belanda. Dalam laporan tahunan Belanda, diakui bahwa perlawanan atau disebutnya pemberontakan Amir tidak serta merta hanya melibatkan Amir dan pasukannya saja, melainkan juga didukung oleh rakyat, bahkan mereka rela membantu Amir dengan harta benda dan jiwanya, semata-mata agar pemerintahan Hindia Belanda di pulau Bangka bisa diruntuhkan.
Setelah penanganan melalui negosiasi dengan Amir dengan perundingan yang gagal di Kampung Layang, 4 Agustus 1850 berdasarkan Keputusan Pemerintah tanggal 25 Juli 1850 nomor 15, maka atas usul residen yang baru, Pemerintah Belanda melalui keputusan tanggal 17 September 1850 Nomor 1 menetapkan bahwa Depati Amir harus ditundukkan dengan kekerasan senjata (kekuatan militer).
Secara khusus juga dilaporkan kenapa orang orang Tionghoa banyak membantu Depati Amir dalam pemberontakan.
Berikut laporan lengkapnya dalam: Algemeen Verslag der Residentie Banka over 1850, (ANRI); maat regelen tijdens het bestuur van den afgetreden Resident van Olden heeft die onteredenheid doen stijgen. De inlandsche hoofden en de bevolking waren bij genis aan krachtdadige bescheming verpligt, zich bij Amier te voegen af althans zijne party te kiezen, de myne werkers en de destieden, waar de opstand plaats van dieoverigens ter zake van de schuld afschryving goed gekemd by„ s gouvernements besluit de 26 November n; 2 redenen hadden van te redenheid, waren miswegd, omdat het bestuur de muitelingen niet belette, hen gewapenden hand te berooven en heelpen de laatsten vaak van levens middelen en buskun om plandering aftekoopen. Het was meer dans tyd om 11 gouvernement gezag op eene waardige wijze te doen eerbiedigen. Nadat deingevolge het advies van den afgetreden zanger angenen by „s gouvernements besluit 25 July 1850 n: 15 aan my opgedragen, onderhandlingen met Amier waren mislukt, werd door de Regering op myn voorstel by besluit 17 September 1850 N: 1 bepaald, dat Amier gewapendehand Laus werden ten onder gebragd. De biyzonderheden veregtingen teg en den muitelingen en de uitkomst van die operatien zijn bij onder scheidene myne rapporten omstandig beschreven, even al ook de onsprong en de mt gebreid hen de muiterij – Ik zal daar en dus in dit verslag geene uitvorige melding behoeven te maken, maar my tot de opmerking bepalen, dat ons gezag op Banka en de winsten die dat eiland kan op leveren, grootendeels zouden zyn te loor geraakt, wanneer Amier de hem gestelde voor warden had aangenomen. Dat bij sommige Chinezen voort durend heeft bestaan de minachting van ons gezag, waarover miyne voorgangens hebben geklaagd, kan blij kan uit het voorkomende bij mijn rapport 26 January 1851 N; XIV/A voor de verstandhandig van enkele Chinezen met Amier. Dewijl die verstanhandig van vroegeren tijd doen het plunderen van myn etablissementen dagteekent, zoo moet dezelen niet vemard worden met de staats bodoelde hulp door 192 mijnwerkers uit nood aan de muitelingen verleend, en zal het noodig zyn, de door aan schuldigen strengte shaffen. De ruit is thans hersteld, het ontzag voor het gouvernement is geneten den emmerte voren. Dat nog geene byzonder te vredenheid kan bestaan, by de bevolking, die zoo wel van de muitelingen als door buutagewone kuilie diensten en ziekten is veramd en afgemat, zal wel geen belaag behoeven. Het is echter te verwachten, dat de gelagene wonden spoedig zullen zyb geheeld, en dat weldra meer rust, meer zeeligheid, meer welvaart en gevolgelyk meer terredenheid by de bevolking zal heersc hen dan tot dus ver sedert Banka onde ons beheer staat, het geval sgeneens. Door de opvatting en vermyzing van Amier en zyne aanzewanten „s de kiem van toekan stiga anluiten onder de inlandsche bevolking vewtikt.

Maksudnya diterjemahkan secara bebas: Laporan Umum Keresidenan Bangka Tahun 1850 (ANRI): Tindakan-tindakan selama masa pemerintahan mantan Residen van Olden telah meningkatkan ketidakpuasan. Karena tidak adanya perlindungan yang kuat, para kepala pribumi dan penduduk terpaksa bergabung dengan Amir atau setidaknya memilih memihak kepadanya.
Para pekerja tambang dan penduduk di tempat terjadinya pemberontakan—yang sebenarnya memiliki alasan untuk merasa puas karena penghapusan utang telah disetujui melalui Keputusan Pemerintah tanggal 26 November nomor 2—telah salah jalan. Penduduk membantu para pemberontak dengan bahan makanan dan mesiu untuk menebus diri agar tidak dijarah.
Setelah negosiasi dengan Amir—yang ditugaskan kepada saya berdasarkan saran dari mantan pejabat yang disetujui melalui Keputusan Pemerintah tanggal 25 Juli 1850 nomor 15—mengalami kegagalan, maka atas usul saya, Pemerintah melalui keputusan tanggal 17 September 1850 Nomor 1 menetapkan bahwa Amir harus ditundukkan dengan kekerasan senjata. Bahwa di antara sebagian orang Tionghoa terus ada sikap meremehkan otoritas kita—yang juga telah dikeluhkan oleh para pendahulu saya—dapat terlihat dari apa yang terjadi dalam laporan saya tanggal 26 Januari 1851 Nomor XIV/A mengenai hubungan rahasia beberapa orang Tionghoa dengan Amir. Karena hubungan rahasia tersebut berasal dari masa lalu saat penjarahan tempat-tempat usaha tambang, Oleh karena itu, sekiranya perlu untuk menghukum orang-orang yang bersalah dengan tindakan tegas.
Ketertiban sekarang telah dipulihkan, dan rasa hormat terhadap pemerintah telah kembali seperti sedia kala dan dalam waktu dekat ketenteraman, kebahagiaan, kemakmuran, dan konsekuensinya kepuasan yang lebih besar akan meliputi penduduk, melebihi apa yang pernah terjadi sejak Bangka berada di bawah pengelolaan kita. Melalui penangkapan dan pengasingan Amir beserta para pengikutnya, benih-benih pemberontakan di masa depan di kalangan penduduk pribumi telah dipadamkan.
*disclaimer: gambar hanya sebagai ilustrasi, dibuat menggunakan AI, memungkinkan salah dan berbeda dengan versi asli.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
