10 September 1816, Awal Klaas Heynis menjabat sebagai Resident van Palembang en Banka

Rumah Residen Bangka di Mentok

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Klaas Heynis, adalah Resident van Palembang en Banka dengan masa jabatan dari tanggal 10 September 1816 sampai 13 Juni 1817. Residen K. Heynis dipecat dari jabatannya Tanggal 13 Juni 1817 karena terlibat praktek curang dalam pengelolaan keuangan pertambangan dan pemerintahan.

Pengangkatan K. Heynis menjadi residen dari awalnya sudah diragukan karena ketidakjelasan prestasi dan kemampuannya serta latar belakang kerjanya yang buruk selama di pulau Jawa, sebagaimana P.H. van der Kemp dalam bukunya Het Nederlandsch-Indisch bestuur van 1817 op 1818 over de Molukken, Sumatra, Banka, Billiton and de lampongs, Den Haag, M. Nijhoff, 1917 .

Pada halaman 190-191, menyatakan tentang pemecatan K. Heynis sebagai Residen: “Unfortunately, many of the first men employed were incompetent or corrupt. The new Resident of the island, Heynis, after being involved in a scandal in Java, had worked for the British on Bangka, so he presumably was familiar with the island. Yet in mid-1817, Batavia had to send commissioners to investigate his (financial) misdeeds. Difficulties with other personnel followed”.

Maksudnya kira kira: “sayangnya, banyak pekerja pertama yang tidak kompeten atau korup. Pemimpin penduduk baru pulau itu maksudnya Residen Heynis, setelah terlibat skandal di Jawa, pernah bekerja untuk Inggris di Bangka, jadi dia agaknya sudah familiar dengan pulau itu. Namun pada pertengahan Tahun 1817, Batavia harus mengirimkan komisaris untuk menyelidiki kejahatan (keuangan) yang dilakukannya. Kesulitan dengan personel lain menyusul”.

Selanjutnya Kemp pada buku yang sama dalam halaman 399 menyatakan ”In another case, the manager of the warehouse in Mentok was discharged “for dishonest and sloppy administration”.

Maksudnya: Dalam kasus lain, pengelola gudang di Mentok dipecat “karena administrasinya tidak jujur dan ceroboh”.

See also  Karena Unik, Buddingh Beli Kayu Sala Di Kampung Mayang

Berita dan besluit tentang pemeriksaan dan pemecatan K. Heynis juga dapat diketahui dari buku Palembang en Banka In 1816-1820 Door P. H. Van Der Kemp, Bijdragen tot de Taal-,Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1900, Deel 51, 3/4de Afl., [6e Volgreeks, 7e Deel] (1900), pp. I, III-XII, halaman 345, 664,665.

Dalam buku halaman 345:
Om de tegen hem ingebrachte beschuldigingen plaatselijk te onderzoeken, werd bij besluit dd. 13 Juni 1817 (a) de resident gelast, zich “dadelijk” naar Batavia te begeven , terwijl in zijne plaats naar Muntok werd gezonden eene corntnissie, bestaande uit de leden van den Raad van Financien R. Coop a Groen, die zich als land drost van Banda zoo verdienstelijk had gehouden, toen de Engelschen in 1810 dat eiland kwamen nemen, en J. du Puy, een van de weinige Britsehe landsdienaren, die in onzen dienst werden overgenomen, en dien wij bereids elders als een geschikt, eerlijk man leerden kennen”.

Maksudnya: Untuk menyelidiki tuduhan yang diajukan terhadapnya, diperintahkan berdasarkan dekrit tertanggal 13 Juni 1817 (a) untuk segera berangkat ke Batavia, sementara sebagai penggantinya sebuah komite dikirim ke Muntok, yang terdiri dari anggota Dewan Keuangan R. Coop a Groen, yang telah menunjukkan prestasi luar biasa sebagai juru sita tanah Banda ketika Inggris datang untuk merebut pulau itu pada tahun 1810, dan J. du Puy, salah satu dari sedikit pegawai negeri sipil Inggris yang dipekerjakan oleh kami, dan yang telah kami kenal di tempat lain sebagai orang yang cakap dan jujur.

Setelah pemecatan K. Heynis, jabatan Residen Bangka kemudian dijabat sementara oleh, Edelher Herman Warner Muntinghe, sampai kemudian diangkat pejabat residen yang difinitif yaitu M.A.P. Smissaert (Tahun 1817-1819).

See also  5 September 1819, Kapten Laemlin Mendarat di Pangkalpinang

Residen M.A.P. Smissaert yang memerintah di Keresidenan Bangka, juga dalam suasana sulit menghadapi peperangan hebat akibat perlawanan rakyat Bangka dan kondisi keuangan Kerajaan Belanda yang porak poranda akibat perang di Eropa.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments