Daftar Burung yang Tercatat dari Pulau Bangka (Bagian 2)
Jelajah Bangka 24 October 2026
Editor: Meilanto
Buku sumber: A List of the Birds Recorded from Bangka Island, Indonesia — G. F. Mees, 1986.
SEJARAH ORNITOLOGI
Ahli ornitologi pertama yang mengunjungi Bangka adalah Pierre Diard (1795–1863). Pada April 1825, ia menemani Tuan van Sevenhoven dalam perjalanan inspeksi tambang timah. Diard diduga mengumpulkan burung selama perjalanan tersebut dan mengirimkannya ke Paris (lihat Finsch, 1906: 303–304; de Schauensee, 1958: 280).
Karena koleksi itu, jika memang ada, merupakan koleksi burung paling awal dari Bangka dan memiliki nilai sejarah, saya meminta Dr. Jouanin memeriksa apakah spesimen yang dikumpulkan Diard masih tersimpan di Muséum National. Dalam surat balasannya tertanggal 29 April 1968, Jouanin menjelaskan:
“Mengenai Diard, saya belum menemukan catatan dalam arsip lama tentang burung yang berasal dari Bangka. Pada Agustus 1826, laboratorium menerima sejumlah burung dari Diard yang diberi keterangan berasal dari ‘Jawa’. Tidak ada informasi asal yang lebih terperinci. Namun, hal ini tentu tidak berarti bahwa kumpulan tersebut tidak mencakup spesimen dari Bangka.
Selama perjalanannya ke Bangka, mungkin saja ia kemudian mengirimkan hasil koleksinya dari Jawa.”
Dengan demikian, jika Diard pernah mengirimkan spesimen burung yang dikumpulkannya di Bangka ke Paris, asal-usul spesimen tersebut kini tidak dapat dipastikan karena tampaknya tidak disertai label yang memadai.
Tidak ada catatan yang menyebutkan bahwa Diard mengirimkan spesimen burung dari Bangka ke Leiden. Karena itu, saya ingin menarik perhatian pada sebuah daftar yang ditemukan di arsip Rijksmuseum van Natuurlijke Historie (Lampiran 1).
Daftar tersebut tampaknya merupakan salinan yang dibuat oleh juru tulis tanpa pengetahuan ornitologi, sehingga memuat banyak kesalahan ejaan. Sejumlah kesalahan telah saya koreksi tanpa mengubah nama-nama yang tercantum. Daftar itu tidak menjelaskan apakah spesimen yang disebutkan benar-benar dikirim ke Leiden, meskipun hal tersebut tampaknya menjadi tujuan pembuatannya.
Namun, pemeriksaan terhadap koleksi museum tidak menemukan satu pun spesimen yang tercantum dalam daftar tersebut. Selain itu, sebagai dokumen awal mengenai kehidupan burung di Bangka, daftar itu sama sekali tidak dapat diandalkan. Isinya mungkin mengindikasikan, tetapi tidak membuktikan, bahwa Diard pernah mengumpulkan burung di pulau ini.

Karena itu, sangat disayangkan bahwa Diard tidak dapat diperhitungkan sebagai penyumbang pengetahuan ornitologi tentang Bangka.
Dugaan bahwa Diard pernah mengumpulkan burung di Bangka mungkin bersumber dari surat Temminck kepada Menteri Pendidikan Umum, Industri, dan Koloni, yang dikutip oleh Veth (1879: 59). Dalam surat tersebut, Temminck menyatakan bahwa Diard diduga:
“…mengirimkan kepada Pemerintah Prancis koleksi benda-benda yang sangat substansial dari berbagai bidang sejarah alam. Di antaranya, kemungkinan terdapat banyak benda yang dikumpulkan selama ekspedisinya ke Bangka, yang hasilnya kini dapat dipublikasikan untuk pertama kalinya oleh para sarjana Prancis….”
Jika pernyataan tersebut dipahami dengan tepat, Temminck sebenarnya hanya menduga bahwa Diard telah mengumpulkan spesimen di Bangka. Aktivitas para naturalis asing di koloni Belanda tampaknya dimanfaatkan Temminck untuk memperoleh dukungan pemerintah bagi rencananya sendiri. Karena itu, ia memiliki alasan untuk melebih-lebihkan pencapaian para naturalis tersebut.
Setelah Diard dikesampingkan karena tidak adanya bukti yang memadai, J. F. R. S. van den Bossche (1819–1889), yang saat itu menjabat sebagai Residen Bangka, menjadi tokoh pertama yang tercatat aktif dalam pengumpulan burung di pulau ini.
Dalam laporan tahunan museum untuk periode 1860–1861, Schlegel mencatat penerimaan 250 spesimen kulit burung dari van den Bossche, di samping berbagai material zoologi lainnya. Namun, register akuisisi mencatat jumlah yang berbeda, yakni 237 spesimen. Laporan tahunan periode 1861–1862 kembali mencatat penerimaan 80 spesimen kulit burung lainnya.
Dalam surat tertanggal 21 November 1861, van den Bossche menjelaskan bahwa material yang dikirim pada Juli 1860—pengiriman pertama sebanyak 250 spesimen—dikumpulkan oleh pemburunya selama kurang lebih 14 bulan sebelumnya. Dengan demikian, pengumpulan tersebut diperkirakan berlangsung antara Mei 1859 dan Juli 1860.
Van den Bossche membiayai pengumpulan itu dengan uangnya sendiri, menggunakan jasa seorang pemburu lokal, kemudian menghadiahkan koleksi tersebut kepada museum. Koleksi ini tentu menjadi tambahan berharga bagi museum. Namun, dalam salah satu suratnya, Schlegel menyampaikan keluhan:
“Saya menyesalkan bahwa jenis kelamin burung-burung tersebut tidak dicantumkan pada labelnya.”
Bersambung.
Foto: Fig. 2. Peta Pulau Bangka yang menunjukkan lokasi-lokasi yang disebutkan dalam teks.
