Residentshuis vermoedelijk te Muntok before 1880. Sumber _ Leiden Univers_20260825_115453_000-99kb

Oleh : Meilanto


Buddingh menceritakan saat ia melewati kampung Ibol, Jering, dan Berang, serta Pelangas dalam bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 halaman 73-74.

Hoe vervelend de luidruchtigheid van dezen vereerder van COMUS en MOMUS ook ware, in het oog zijner makkers was hij een geestige foreman, een onverbeterlijke paillasse , die hen welgemoed en vrolijk maakte.

En ik-zelf was er goed bij gebaat, want ze liepen vlug en stevig door, en ik bereikte weldra de kampongs Ibol, Djering en B rang , en spoedig ook Plannas, welk dorp ik op den 14 den Oktober te voren gepasseerd was op mijne reis naar Jeboes.

Het was reeds geheel dag geworden, en de apen en loetong’s hadden den nieuwen morgen reeds sedert lang weder met hunne gewone vechterijen en dartele spelen in de boomtakken begroet.

(Dan seterusnya)

Maksudnya:
Betapapun menjengkelkannya sikap riuh-rendah pengikut setia Comus (sejenis arakan) dan Momus ini, di mata rekan-rekannya ia adalah seorang mandor yang jenaka—badut sejati yang selalu menjaga semangat mereka tetap tinggi.

Saya sendiri sangat diuntungkan oleh hal ini, karena mereka terus berjalan dengan langkah yang sigap dan mantap; tak lama kemudian saya mencapai kampung Ibol, Djering, dan Brang, lalu tiba di Plannas—sebuah kampung yang pernah saya lewati pada tanggal 14 Oktober dalam perjalanan menuju Jeboes.

Hari sudah terang benderang, dan kawanan monyet serta lutung telah lama menyambut pagi dengan keributan khas dan tingkah jenaka mereka di puncak-puncak pepohonan.

Kalong—yang seperti biasa telah terbang mencari makan pada petang sebelumnya—melintas di udara dalam barisan tak berujung dari Tanjong-Ginding atau dari Tanjong Oelar dan Biat di pesisir barat laut, menuju pohon-pohon favorit mereka di hutan Bangka untuk menghabiskan hari dengan tidur lelap sembari bergantung pada dahan menggunakan kait di sayap mereka.

See also  23 Juni 1892, Laij Nam Sen, Diangkat sebagai Luitenant der Chineezen in de Afdeeling Koba.

Di lahan terbuka, burung-burung rawa dan paya, bersama dengan boerong-blêket (burung blekok_sejenis bangau) atau kindidie (burung snipe/ kedidi), berjalan dengan angkuh dan berwibawa; di dekat batang-batang pohon tua, kawanan lebah kecil berdengung dalam hangatnya cahaya matahari pagi, sementara bajing atau topei (tupai) bermain-main di pohon kelapa dekat kampung-kampung tersebut.

Dari Plannas (Pelangas), saya kembali mencapai Majan (Mayang), lalu Sembilang, dan kemudian Aijer-biroe (Air biru), hingga akhirnya tiba kembali di Muntok antara pukul 10.00 dan 10.30 pagi pada tanggal 30 Oktober, tempat saya disambut dengan ramah oleh sang Residen, Tuan Bousquet.


Foto : Residentshuis, vermoedelijk te Muntok, before 1880. Sumber : Leiden University Libraries. Pewarnaan: AI

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya

Comments

comments