Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #27, Toponimi Engtai

IMG_20260921_003601

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Pulau Bangka tidak hanya menghasilkan Timah (Pahang) dan Lada (Sahang). Dalam catatan sejarah, Pulau Bangka juga menghasilkan Bijih Besi, Batu Rekat, Pinang, Madu, Lilin Madu, Getah Perca, Damar, Rotan, Kemenyan, Gaharu, Kayu Wangi dari spesies Gonystylus Bancanus dan Getah Karet.

Hasil hasil dari pulau Bangka telah menjadi komoditas dagang sejak masa Sriwijaya Abad 7 Masehi. Bahkan khusus untuk Kayu Wangi spesies Gonystylus Bancanus sangat laku di pasaran Persia.

Khusus untuk getah Karet baru diproduksi dari kebun kebun karet yang mulai ditanam penduduk di Pulau Bangka sejak Tahun 1913. Pada masa itu Residen Bangka pertama yang berkantor di Pangkalpinang AJN Engelenberg bersama Demang pembantu Residen Raden Ahmad menganjurkan pada penduduk pulau Bangka untuk menanam pohon Kelapa dan Karet.

Untuk kebutuhan bibit Karet didatangkanlah biji karet yang dibeli di Singapura dan kemudian dibagikan ke seluruh penduduk pulau Bangka untuk ditanam, sehingga bertambah makmurlah penduduk pulau Bangka dengan hasil hasil kebun seperti Kelapa, Karet dan Sahang atau Lada.
Karena produksi getah Karet yang berlimpah di pulau Bangka maka komoditas ini harus diekspor ke luar pulau Bangka.

Pada sekitar tahun 1948, terdapat perusahaan ekspor Karet atau Rubber terbesar di Bangka bernama Eng Tai Co. Perusahaan ekspor karet ini mengekspor sekitar 50-60 persen hasil karet dari Pulau Bangka dan merupakan perusahaan yang cukup terkenal di Singapura.

Perusahaan Eng Tai Co, pernah diminta dana untuk membiayai tempat Tinggal Konsul Tiongkok di Pangkalpinang karena Pemerintah Cina Nasionalis tidak memiliki dana untuk layanan diplomatiknya, dan orang Tionghoa setempat mengumpulkan uang untuk membiayai tempat tinggal bagi konsul di Pangkalpinang.

See also  12 April 1946, Lima Orang Pemimpin T.R.I Bangka Ditangkap Pasukan NICA dan Sekutu.

Disamping itu, konsul juga menyarankan agar pengusaha dapat membangun Sekolah Menengah Tionghoa dengan membayar pajak f2 (2 gulden) untuk setiap 100 kg karet yang diekspor, akan tetapi perusahaan Eng Tai Co, menolaknya, sehingga rencana itu kemudian dibatalkan (Heidhus, 1992:200).

Lokasi tempat Perusahaan Eng Tai Co saat ini dikenal masyarakat dengan toponimi kawasan Eng Tai dan anak Sungai yang mengalir serta jembatan di atasnya di sekitar Perusahaan Eng Tai Co., diberi nama Aik Eng Tai dan Jeramba Eng Tai serta jalan yang membelah Kawasan Eng Tai diberi nama Jalan Eng Tai.


*gambar sisa bangunan perusahaan ekspor Karet atau Rubber Eng Tai Co. Sumber Foto: Dato’ Akhmad Elvian

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

Comments

comments