11 Mei 1820, Divisi Pertama, Kapal Layar Johanna, Kapal Perang No. 1 dan 8 Kapal Milik Raja AKIL, Memperkuat Petahanan Belanda di Pangkalpinang.
Jelajah Bangka
Dato’ Akhmad Elvian*)
Setelah mengadapi perlawanan hebat dari rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Bahrin dan pejuang lainnya di wilayah Bangkakota, Kotawaringin dan Nyireh, sejak Tahun 1819, pasukan Belanda kemudian harus menghadapi perlawanan dari pangeran pangeran Kesultanan Palembang yang telah ditugaskan sejak masa Sultan Muhammad Bahauddin (Tahun 1776-1803), dan masih berkuasa hingga masa kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin II (Tahun 1804-1821) di wilayah pesisir Timur Pulau Bangka mulai dari Sungailiat, Pangkalpinang, Koba sampai ke Toboali di pesisir Barat Bagian Selatan.
Para Pangeran Palembang seperti Raden Keling dan Raden Ali, Raden Badar, Raden Ahmad, yang berperang melawan Belanda disebut dalam laporan sebagai serangan Bajak laut.
Dalam VERHAAL PALEMBANGSCHEN OORLOG VAN 1819-1821, A. Meis Kapitein-Adjudant bij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandsche Oost-Indische leger, halaman 145,146, bahwa:“Pada awal Mei, Letnan Kolonel Keer menerima laporan dari Kapten Ege, komandan Pankalpinang, yang menggantikan Letnan Kolonel Riesz, yang sementara itu telah berangkat ke Jawa untuk memulihkan kesehatannya, dalam komando pasukan di distrik timur, bahwa pasukan bajak laut telah berkumpul di pantai timur, terdiri dari 40 kapal milik Radeen Ali, putra Radeen Keling, dan 60 hingga 70 kapal milik Orang-Katja dari Lingga, di antaranya terdapat 9 kapal Bugis besar dan berawak kuat; kekuatan angkatan laut gabungan ini mengepung Koba dari laut, sementara dari darat hal ini dilakukan oleh para pemberontak dari Nyireh.
Kapten Ege, segera setelah mengetahui hal ini, menugaskan garnisun Koba, yang terdiri dari 1 sersan dan 21 orang, bala bantuan berupa 1 sersan dan 33 orang.

Komando Sipil dan Militer Banka segera mengirimkan perintah kepada Kapten Ege untuk juga menuju ke Koba dengan sisa pasukannya dan menempatkan diri dan para perwiranya di garis depan pasukan yang dipercayakan kepada mereka, sebagaimana mestinya, juga memerintahkan Kapten Lejean, Komandan Soengiliat, untuk menduduki Pankalpinang dengan detasemen yang cukup kuat.
Untuk mencegah, jika memungkinkan, bencana yang mengancam distrik-distrik di timur, Letnan Kolonel Keer dengan tergesa-gesa mengumpulkan ekspedisi secepat mungkin, mengumpulkan semua kapal yang tersedia untuk tujuan ini dan membaginya menjadi dua divisi:
kapal layar Emma dikirim terlebih dahulu ke Pankalpinang, untuk membentuk divisi pertama di sana bersama kapal layar Leeuwrik, kapal perang No. 18 dan sebuah kapal praauwen dari Demang Mienyak (Demang Suranthaka), dan selanjutnya untuk mempertahankan posisi 1 di depan Kwalla; pada tanggal 11 Mei (Tahun 1820), divisi pertama berangkat, terdiri dari kapal layar Johanna, kapal perang No. 1, dan 8 kapal praauwen dari Radja Akil, mengangkut detasemen 70 orang Eropa, untuk mempersiapkan pertahanan Pankalpinang, jika hal ini diperlukan, atau untuk mendukung gerakan ofensif dengan pasukan yang ada di distrik tersebut, jika keadaan dianggap menguntungkan.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

*Keterangan gambar: Model of the schooner Banka – Public domain dedication photoSchooners were built for speed and used for all kinds of purposes by the navy, from conveying messages to scouting and the pursuit of smugglers and pirates. They developed in the 18th century in North America
